
Doooooor
Tarikannya pada kerah baju Axel terlepas. Kali ini kakinya tertekuk oleh timah panas yang melesat cepat menembus paha. Arsen memapah kakinya yang tiba-tiba menjadi lemah dan membuatnya hampir abruk.
"Si-sial!" rintihnya mundur dan segera menyeret kakinya yang sudah mengalirkan darah segar.
"Jangan bergerak!" bentak sang polisi.
Akan tetapi, Arsen terus menyeret kakinya meskipun ia tertatih. Ia segera menyusuri lorong di mana kaum ibu, warga sekitar yang tinggal di sana telah ramai karena mendengar teriakan Mia. Di tangan mereka sedang memegang alat masak, pengki, dan kemoceng. Mereka adalah ibu rumah tangga yang sedang membersihkan rumah saat pasangannya pergi untuk bekerja.
Pria berseragam softball tadi sudah sadar setelah ditolong oleh kaum ibu tersebut. Saat ia menyadari kehadiran Arsen, telunjuknya mengarah kepada pria yang kali ini terlihat lemah.
"Dia yang melakukannya!"
Semua mata mengarah kepada Arsen termasuk Mila dan Aziel. Aziel melihat kejanggalan pada tubuh ayahnya berlari mendekati Arsen.
"Papa? Kenapa Papa ada d4rah?" Aziel mulai menangis melihat tetesan darah yang terus mengalir dari paha turun ke lantai.
Arsen tidak menjawab, wajahnya terus meringis dan kali ini menarik tubuh Aziel menuju pintu rumahnya.
"He's phsyco!" teriak pria berseragam softball tadi.
"The criminal!" teriaknya lagi.
Kaum ibu-ibu pun seperti menyetujui sesuatu. Mereka mengejar Arsen dengan apa pun peralatan yang sedang mereka pegang. Lalu memukul Arsen yang sudah kehilangan banyak daya.
"Penjahat dilarang tinggal di sini!" teriak mereka terus memukul-mukul Arsen.
"Jangan! Jangan pukul papa Aziel!" Aziel menangis menghalangi ibu-ibu tersebut menyerang sang ayah.
__ADS_1
Mila mencoba memasuki kerumunan ibu-ibu tersebut ingin menarik Aziel yang turut terjebak di dalamnya. "Aziel? Kamu tidak apa-apa?" Mila terus mencari keberadaan Aziel.
"Jangan pukul papa Aziel!"
Mila hanya bisa mendengar tangisan Aziel. Mila menarik salah satu wanita yang mengerumuni Arsen. "Please! Jangan begini! Anak saya berada di dalamnya!"
Namun, mereka tidak menghiraukan keberadaan Mila dan Arsen terus menjadi bulan-bulanan peralatan rumah tangga.
"STOOOP! STOOOOP! STOOOP!"
Polisi muncul membuat pasukan ibu-ibu itu menghentikan aktifitasnya.
"Police?"
"Police?"
Para ibu rumah tangga yang mengerumuni Arsen pun membubarkan diri. Tampak Arsen sedang memeluk Aziel dari belakang. Ia masih menangis dengan wajah ketakutan.
Arsen mendorong anak laki-lakinya itu! "Diam!"
Akan tetapi, Aziel masih belum menghentikan tangisnya.
"DIAM!" Kali ini suara Arsen lebih keras. "Ingat yang Papa katakan! Anak lelaki tidak boleh menangis!"
Mila tampak sangat kebingungan dengan apa yang terjadi. Matanya beralih pada seorang pria dengan lumuran darah di wajah tengah dipapah oleh salah satu pria berseragam. Kakinya melangkah begitu saja kepada pria itu.
Tangannya bergetar ingin mengusap darah itu. Mila melihat pada Arsen yang telah lama bersamanya tampak lebih mengenaskan. Namun, kepada pria yang saat ini terus menatapnya dengan layu, membuatnya ingin menangis hebat.
Axel melepaskan diri dari tubuh polisi tersebut dan langsung memeluk Mila. Wanita yang ia peluk, terdiam beberapa waktu tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Para polisi tadi, segera mengelilingi Arsen membuat suara tangisan Aziel semakin hebat. Para polisi tersebut mulai menahan lengan Arsen supaya tidak mencoba untuk kabur lagi.
"Jangan! Jangan jahat sama Papa Aziel!" Aziel memukul-mukul anggota berseragam itu.
Tangisan Aziel yang semakin keras membuat Mia meronta ingin melepaskan diri. "A-apa yang kamu lakukan?"
Pelukan Axel semakin erat, hingga membuat Mia sedikit sesak. "Akhirnya aku memelukmu kembali. Aku mohon, tenang lah untuk sejenak."
Mata Mila masih liar melirik ke arah belakang di mana Aziel masih berteriak menangis memukul para anggota polisi itu.
"Fokus lah padaku!" ucap Axel tepat di telinga Mila.
"Ta-tapi Aziel—"
"Sssttt ... aku mohon beri aku waktu sejenak. Karena aku sangat merindukanmu, Sayang."
Degh ...
Deburan jantung Mila, seakan meletus begitu saja. Ia merasakan sesuatu kerinduan membuncah hebat saat mendengar ucapan Axel. "A-apa yang kamu katakan?"
"Yuvita ... kamu adalah wanita yang aku cari selama ini. Kamu adalah Yuvita istriku ... wanita yang selalu ingin kupeluk sepanjang waktu, di mana kita selalu terpisah dan terus terpisah."
Jantung Mila berdebar tak menentu, tetapi tangisan Aziel membuat semuanya buyar. Mila kembali mencoba melepaskan diri. Namun, Axel masih memeluknya dengan erat.
"Sayang, aku sungguh sangat merindukanmu. Akhirnya aku bisa memelukmu kembali setelah sekian waktu yang terbuang."
Mila masih belum bisa fokus dengan apa yang diucapkan Axel. Tubuhnya terus meronta ingin melepaskan diri mencoba menarik Aziel dan memasukannya ke dalam pelukannya.
Arsen merasa sudah tidak sanggup lagi untuk mengelak. Ia ditarik oleh pasukan polisi yang tidak memberikan sedikit pun kesempatan untuk bergerak. Matanya melirik dua insan yang sedang merangkul seakan tak ingin dilepaskan. Setelah itu, ia beralih menatap jagoan kecil yang terus menangis membela dirinya meskipun tiada henti diberikan bentakan pada setiap waktu.
__ADS_1
"Lepaskan papa Aziel?" tangis bocah itu.