Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
59. Permintaan Arsen


__ADS_3

"Aku kangen. Lanjutkan aja!" ucapnya masih memeluk Mila yang telah mematung jadi semakin canggung.


"Ayo! Lanjutkan saja pekerjaanmu!"


Mila mengangguk kaku tetapi ia masih merasa risih. Mila kembali melanjutkan pekerjaannya mencari bagian luka di kepala Axel. "Nah, lukanya udah kering. Untung lah tidak terlalu besar."


Mila mencoba mengambil kotak P3K yang ada di atas meja. Namun, tubuhnya tertahan karena terikat dalam pelukan Axel.


"Lepas dulu! Aku mau mengambil obat."


Seperti yang diminta, Axel melepasnya membiarkan Mila mengambil obat yang ada di dalam kotak P3K. Mila kembali mendekat, dan Axel mengulangi memeluk Mila. Persis sama seperti apa yang dilakukan sebelumnya. Axel melirik Aziel yang mengerutkan wajah, kedua tangan di pinggang.


"Om ini kenapa seperti anak kecil?"


Axel melirik bocah itu dan menahan senyuman kembali menyandarkan kepalanya di dada Mila. Mila mengolesi jel lidah buaya pada bagian luka dengan perasaan tegang. Mila menjadi kaku bagai robot.


Axel menengadahkan wajahnya menatap Mila yang masih kaku. "Cium dong?!"


"Ah, apa?" Mila tersentak kaget dengan permintaan Axel barusan.


"Ooom, kenapa Om nakal sekali?" cecar Aziel masih berkacak pinggang.


*


*


*


Axel merangkul pundak istrinya, dan Mila menggandeng tangan Aziel di sampingnya. Meskipun Mila masih canggung berada di sisi Axel, tetapi perlahan ia mulai terbiasa dengan sikap Axel yang sangat manja.


Mereka bertiga memasuki kantor kepolisian dan mendapati Arsen telah mengenakan seragam bewarna oranye di dalam sel sementara. Arsen terduduk menyandarkan diri dalam kesendirian.

__ADS_1


"Papaaaa ...." Aziel berdiri tepat pada sel yang mengurung ayahnya. Aziel menggenggam sel yang mengurung sang ayah.


Arsen bangkit dan berjalan terseok. Paha pada salah satu kakinya terlihat dalam keadaan diperban. Peluru yang tadi bersarang di sana, kini telah dikeluarkan. Hanya saja, rasa sakit yang luar biasa masih ia rasakan hingga membuat tubuhnya terus berkeringat.


"Kenapa kemari?" tanya Arsen dingin kepada Aziel.


"Aziel mau membawa Papa pulang. Ayo kita pulang, Pa." tangis Aziel lagi.


"Pergi lah!"


"Huwaaa ... Aziel mau pergi sama Papa ...." Tangisan Aziel memecah suasana sepi pada kepolisian itu. Aziel menggenggam erat jeruji besi yang menjadi dinding pemisah antara ayah dan anak tersebut.


Arsen beringsut berjalan ke arah putranya. Tangannya sudah mengambang hendak membelai kepala Aziel yang terus meraung tiada henti. Namun, tangan itu beralih mengenggam jeruji yang menatap pada Aziel yang terus menangis.


"Berhenti lah menangis!" Suaranya sedikit parau menahan sesuatu yang hampir saja pecah di dalam dada.


"Aziel mau peluk Papa!" Kedua tangan Aziel melewati celah jeruji menggapai Arsen.


Axel merasakan tubuh Mipa bergetar di dalam dekapannya.


"Maaf ..." Mata Arsen sudah merah bersiap dibanjiri oleh cairan bening murni yang selalu disembunyikan di balik keras sikapnya kepada Aziel.


Arsen menengadahkan wajahnya berharap cairan itu kembali masuk ke dalam kornea. Ia tak ingin memperlihatkan sisi lemahnya saat ini. Meskipun ia menyadari betapa besar rasa cinta Aziel, walau Arsen selalu bersikap keras padanya.


Setelah merasa yakin tak ada lagi air mata, Arsen kembali menegakkan wajahnya. Ia memasang muka datar tanpa emosi.


"Mila?"


Mipa berjalan melepaskan diri dari dekapan Axel. Ia berlutut memeluk Azile dari belakang. Air matanya sudah membanjiri pipi.


"Kenapa kau menangis? Bukan kah seharusnya kamu menertawakan orang jahat sepertiku ditangkap dengan cara seperti ini?"

__ADS_1


Mila menggelengkan kepalanya. Ia tidak mampu berkata-kata.


"Kenapa kamu harus menangis seperti ini? Bukan kah kamu sudah menemukan orang yang mencarimu." Arsen beralih pada pria yang berdiri tak jauh dari sana. Mata pria itu sama sekali tak beralih dari wanita yang sedang memeluk putranya.


"Aku hanya ingin minta tolong kepadamu. Mungkin nanti apa pun yang terjadi ke depannya, aku harap kamu jangan pernah memberikan tayangan televisi kepadanya."


Axel mengalihkan pandangannya kepada Arsen yang sedang berbicara. Di dalam kepalanya, sudah banyak pasal berlapis yang bersiap mendera Arsen. Apalagi ia telah menyembunyikan istrinya dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Kau!"


Axel menunjuk dirinya sendiri saat melihat Arsen berbicara ke arahnya.


"Iya, kau!"


Mata Arsen beralih kepada Mila. "Bawa dia! Aku ingin berbicara dengannya."


"Tapi Aziel masih mau sama Papa ..." tangisnya.


Mila menganggukkan kepala bangkit menggandeng tangan Aziel. Akan tetapi, Aziel terlihat menolak tidak mau dibawa pergi. "Aziel mau sama Papa!"


"Nanti kita ke sini lagi, kita pergi beli permen dulu," bujuk Mila.


Mendengar kata 'beli permen,' membuat Aziel langsung berubah lebih kooperatif. Ia mengikuti langkah kaki Mila, keluar dari gedung ini. Meski Mila sendiri tidak tahu harus mencari permen ke mana saat berada di kota ini.


"Aku tahu kau akan menuntutku hingga aku divonis hukuman yang paling berat." Arsen kembali bangkit bertopang pada jeruji hingga membuatnya berdiri kembali meskipun terseok.


"Aku tahu kamu tidak akan bersedia mengasuh Aziel bersama Mila—"


"Yuvita! Nama istriku itu Yuvita!" sela Axel keberatan dengan nama yang diberikan pria itu.


"Aah, Yuvita ... hmmm ...." Arsen menyeringai melirik lawan bicaranya ini.

__ADS_1


"Jadi, apa yang kau inginkan?" cetus Axel.


__ADS_2