
π²"Enak aja! Kayaknya kamu itu korban selingkuh ya? Makanya berprasangka mulu?"
Axel terkesiap mendapat tembakan yang sangat nyata pada dirinya. "E-enggak! Kenapa kamu malah yang marah-marah padaku? Yang menghilang itu kamu!"
π²"Enggak! Kamu yang hilang! Gara-gara gak mau video call kamu gak mau hubungi aku lagi!" Suara yang di seberang panggilan semakin meninggi.
"Bukan! Masa karena itu doang aku marah? Emangnya aku anak kecil macam kamu?"
π²"Dih? Malah bilang-bilang anak kecil? Ya udah deh, tutup aja teleponnya. Nggak tau apa, ini entah ke mana berkelana biar dapat wifi buat ngehubungi dia, akunya malah dimarahin," rajuknya.
Axel mengerutkan keningnya kembali. "Kenapa harus cari-cari wifi? Pulsamu kan banyak? Tinggal beli paketan data doang."
Beberapa waktu hening di seberang. π²"Sim-card yang itu hilang. Semua kontak yang tersimpan ikut hilang. Jadinya yaaa ... nyangkut ke rumah temen aku. Ini jauh-jauh aku jalan kaki ke rumah Feli, sahabat aku. Buat buktikan juga, aku sudah punya calon suami."
"Pppfftt ...." Axel tak kuasa menahan tawanya. "Dih, yakin bener?"
π²"Mana katanya pacarmu itu?" Terdengar suara berbeda dari seberang sana.
π²"Ini, aku lagi telepon," ucap sang kekasih.
π²"Video dulu! Jangan-jangan kamu bokis doang?" Suara berbeda terdengar sangat ketus.
"Siapa yang berani marah-marah sama kamu?" Membuat perasaan Axel menjadi jengkel. Ia tidak rela pujaan hatinya diperlakukan seperti itu.
π²"Dia temen baikku. Aku pernah cerita belum ya? Jadi, sekarang aku nangkring buat pamerin hape baru sama dia. Biar dia nggak marah-marah lagi. Soalnya ada yang fitnah aku deket sama adik kelas nih, padahal enggak."
π²"Tapi dia kirim surat cinta sama kamu!" Terdengar kembali suara ketus tersebut.
π²"Enggak kok ... aku aja udah pacaran sama Babang semenjak tiga bulan lalu. Bener kan, Mas?"
Axel hanya menyimak dengan seksama. Dia sadar diri adalah salah satu orang yang sudah salah sangka terhadapnya. "Tadi katanya dia kasih surat cinta sama kamu? Kamu jawab apa?"
π²"Nggak aku jawab lah! Soalnya dia bilang kalau terima aja. Kan aku udah cinta sama Babang. Ngapain aku jawab? Ya, aku biarin aja."
Degh
Axel memegang dadanya mendapat serangan jantung tiba-tiba. Dengan mudah gadis seberang bilang cinta, membuat perasaannya menjadi bercampur aduk.
"Beneran nih, kamu cinta padaku? Kita belum pernah ketemu, loh?"
π²"Iya, beneran! Aku tu kangen berat tau nggak sih?" ucap Yuvi.
π²"Ih, kenapa kalian malah bucin-bucinan sama aku kayak gini? Mana orangnya? Aku pengen lihat? Atau kamu hanya sekedar menghalu, tapi orangnya nggak ada." Suara berbeda terdengar kembali.
π²"Tapi aku malu kalau video call," ucap Yuvi kembali.
π²"Pokoknya harus! Kalau tidak, aku nggak percaya!"
Axel tersenyum memdengar pertengkaran mereka. Sudah sangat lama ia menantikan ini, berbicara bertatapan meski sekedar lewat udara.
__ADS_1
π²"Bang, mau video call?" tanya kekasihnya dengan ragu.
"Tentu!"
'Karena inilah yang aku inginkan. Berbicara sambil menatapmu, bagai morphin penenang sendiri bagiku.' ucapnya dalam hati.
Lalu, panggilan beralih ke video. Axel segera menggeser panggilan tersebut. Namun, ia sangat terkejut. Di layar yang muncul bukan lah wajah yang ia mimpikan. Akan tetapi, rambut terurai membuat semua wajahnya tertutup.
π²"Kamu kenapa? Lagi mendalami peran menjadi suster ngesot?" tanya Feli.
Axel menahan diri untuk tertawa. Karena kali ini dia akan berhadapan dengan sahabat sang kekasih. Ponsel bergerak cepat dan kali ini orang yang ada di layar tersebut telah berbeda.
π²"Iiih, beneran beda? Aku pikir tadi kamu bicaranya sama Zaki?" celetuk Feli kembali.
Axel hanya menatap layar tersebut memasang wajah datarnya tadi.
π²"Halo?" Sapa Feli.
Axel mengangguk kepala memasang wajah datar.
π²"Namanya siapa, Mas?"
"Axel."
π²"Tinggalnya di mana?"
π²"Sejak kapan pacarannya?"
"Tiga bulan."
Feli yang mendapat tanggapan dingin, menyerahkan kembali ponselnya kepada Yuvi. "Aneh, kenapa sifat kalian berbeda bagai langit dan bumi? Satu bar-bar, satu lagi dingin kayak freezer!"Β
'Enak aja dibilang freezer?' batin Axel kesal.
Layar ponselnya telah memperlihatkan seseorang dengan semua rambut menutupi wajah. π² "Udah yah? Aku tutup dulu. Kirim kan aja nomor hapenya yah? Nanti aku SMS."
"Kenapa SMS? Udah bisa chat sama hape barunya kan?"
π²"Tapi aku gak ada paket data. Babang belikannya kecanggihan. Aku gak sanggup menafkahi membeli paket datanya."
"Sekarang kamu aja yang kirim kontak hapemu yang baru! Biar aku yang isikan."
Gadis yang wajahnya tertutup rambut, menyibak rambutnya. Wajahnya terlihat girang.π² "Beneran?"
"Nah, gitu dong? Pinggirin dulu rambutnya! Aku mau lihat. Kamu itu udah kayak kuntilanak kesiangan tau nggak?"
Yang di seberang kembali menutup wajahnya dengan rambut.
"Dih? Kenapa ditutupi lagi?"
__ADS_1
π²"Maluuu ...."
"Kenapa malu?"
π²"Aku nggak pakai bedak dulu, tadinya."
"Cantik kok, Sayang ... cantik!"
π²"Dih, apa tadi? Sayang?" tanya Yuvita kembali.
"Iya, aku sayang sama kamu."
π²"Ekheeemmm ..." terdengar deheman kasar dari teman Yukita.
"Cepat kirim nomor barunya! Biar aku isikan paket datanya!"
π²"Mas, kirim buatku juga!" celetuk Feli.
*
*
*
Sepanjang perjalanan pulang, Yuvi tak berhenti tersenyum. Ponselnya saat ini sudah ready untuk digunakan sepanjang waktu. Apalagi, setelah bicara langsung dengan laki-laki yang saat ini memenuhi kepalanya.
"Dari mana aja?" Tiba-tiba suara April membuat Yuvi tersentak.
Buru-buru ia menyimpan ponselnya ke dalam kantong.
"Apa itu yang disembunyiin?" tanya kakaknya lagi.
"Nggak ada, kepo amat sih?" Yuvi berlalu memasuki rumah.
April memaksa merogoh kantong Yuvi dan menarik benda yang disimpan adiknya tadi. Matanya terbelalak melihat benda yang ditarik dari dalam kantong sang adik itu.
"Ini kamu dapat dari mana?" Nada April terdengar tegas menyudutkan Yuvi.
"I-iniβ" Yubi gelagapan.
"Kamu mencuri ya?"
"Enggak!"
"Terus?"
Yuvi merebut benda itu dari tangan sang kakak. "Ini pacarku itu yang belikan."
"Hah? Pacarmu yang kamu bilang jauh itu? Kamu udah ngapain aja sama dia?"
__ADS_1