
"Cepat cari yang mana anaknya!"
"Baik, Boss!" Semua anggota yang berada di dalam van itu keluar tergesa lalu berpencar mencari keberadaan anak yang ada di dalam foto.
Di dalam sebuah kendaraan, Axel, Yuvi, dan Aziel sedang menuju sekolah.
"Tumben Papa dan Mama nganterin Aziel? Biasanya kan Papa aja yang nganter sambil kerja. Terus biasanya Mama jemput waktu pulang aja?" ucap laki-laki kecil yang menggunakan seragam bertuliskan huruf kapital T dan K.
"Iyah, Mama mau sekalian minta izin sama guru kamu, untuk tidak masuk selama beberapa waktu ke depan."
Aziel membulatkan bibirnya. "Aziel nggak sekolah? Kenapa, Ma? Kan Mama dan Papa sendiri bilang supaya Aziel rajin sekolah. Biar bisa jadi contoh yang baik untuk adik cantik di dalam perut Mama." Aziel mengusap-usap perut Yuvita yang telah membesar.
"Kata siapa di dalam perut Mama ada adik cantik? Adik ganteng dooong," ucap Axel tidak mau kalah.
"Aziel mau adik cantik, Pa. Biar Aziel biasa cium-cium, coel-coel pipinya," celetuk Azil memanyunkan bibirnya.
"Adik ganteng tetep bisa dicium dan dicoel kok."
"Nggak, mau ... Aziel maunya adik cewek. Mau diciumin, disayang-sayang. Mau dipeluk tiap hari sampai besar."
__ADS_1
Mendengar cerocosan anak TK ini, membuat Axel melirik istrinya yang duduk di belakang bersama Aziel. "Tapi, Papa maunya anak cowo yang ada dalam perut Mama," ucap Axel melirik istrinya dari spion depan.
"Kan udah ada Aziel yang jadi kakak laki-laki. Makanya mau adik kayak Cika. Kata Mama nanti kayak Mama Aziel juga."
Axel melirik istrinya kembali. Yuvi memberikan kode agar Axel pura-pura setuju.
"Tapi, Papa dan Mama ingin punya anak—"
Yuvi memberikan kode telunjuk di bibir. "Iya ... nanti buat Aziel Mama kasih adik cantik kok. Biar aja Papa iri main sendirian."
"Oh, eggak ... gak iri kok. Kalau begitu Papa duluan yang nyoel-nyoelnya," sanggah Axel.
Axel tertawa melihat reaksi Aziel seperti itu. "Kenapa maunya adik cantik? Bukan kah mainan kalian nanti akan beda? Kalau sama-sama cowo, nanti kamu punya temen main bola. Kalau cewek kan mainnya boneka?"
"Iya, nanti Aziel yang akan temeni main boneka. Biar dia gak main sendirian."
Yuvi menggelengkan kepala. "Lalu Aziel jadi apa nanti kalau adiknya main boneka?"
"Apa ya? Nanti, kalau adiknya udah main Aziel pikirkan kembali. Sekarang Aziel juga gak tau mau jadi apa. Soalnya, belom kelihatan adiknya lagi main apa kan Ma?"
__ADS_1
Axel tertawa terbahak mendengar penjelasan Aziel ini. "Duh, kok Papa yang jadi gemes ya pengen narik-narik pipi kamu?" Kembali ia melirik ke arah Aziel lewat spion bagian depan.
Aziel memegani kedua pipinya. "Tapi Aziel gak mau ...."
Di lokasi sekitar rumahnya, beberapa orang mencurigakan terlihat berkeliling-keliling kompleks tersebut. Ini tak luput dari pantauan anak buah Arsen yang ditugaskan menjaga keamanan Aziel.
Ia terlihat duduk pada lokasi persembunyiaannya. Ia terus memantau pergerakan aneh dari orang-orang tersebut. Tak lupa, ia memberikan laporan pada markas akan keadaan situasi yang terjadi.
"Kecoak satu melapor, ada gerakan mencurigakan dari orang-orang asing di sekitar tempat tinggal Tuan Muda."
...****************...
Yuhuu, kali ini Author mau perkenalkan karya teman Author ya kakak semua. Yuk, mampir, siapa tau suka.
Judul: Perjuangan Seorang Anak
Author: Lenni Masliana Nasti
__ADS_1
Jangan lupa disubscribe + like + beri komentar ya.. Punyaku dikomentari juga yaa 😭😭 soalnya komentar dan like itu menjadi penyemangat untuk Author.