
Axel dikejutkan oleh sebuah tepukan pada lengannya yang sedang bersembunyi. Axel terperenjat karena kedapatan sedang menguping pembicaraan penting. Lalu, ia menoleh siapa yang baru saja memberikan kejutan ini padanya.
"Oh, kamu? Kamu kenapa?" tanya Axel melihat lelaki remaja itu cukup terisak.
"Anda sedang melihat apa?" Beni mengatur napas yang telah bergerak naik turun gara-gara panik. Ia pun turut melihat ke arah yang dipandangan oleh Axel. Ia terperenjat melihat sekelompok orang yang mengikutinya tadi.
"Ah, mereka adalah orang-orang yang mengejar saya tadi, Pak. Saya berusaha lari sekencangnya, dan mereka tak mengejar lagi."
Akel teringat akan obrolan orang-orang yang memperlakukannya dengan buruk di rumah sakit, beberapa waktu lalu. Mereka membutuhkan remaja. Kebetulan sekali lelaki muda yang menarik perhatiannya ini adalah seorang remaja.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Sepertinya, tempat ini tidak aman untukmu!" Axel meletakkan tangan pada bahu Beni.
"Tempat ini adalah tempat untuk memenuhi nafkah harian saya dan adik saya, Pak."
"Bukan kah kamu tahu, banyak warga yang hilang diam-diam di lokasi ini. Harusnya, kamu itu duduk tenang belajar dengan rajin di rumah. Bukan kewajiabanmu mencari uang seperti ini," ucap Axel miris.
__ADS_1
"Bagaimana lagi, Pak? Saya harus mencari uang untuk hidup. Saya memang tidak sekolah, tetapi adik saya sekolah dengan sangat rajin. Oleh sebab itu, cukup lah adik saya saja yang sekolah. Sementara itu, saya yang mencari uang, apa pun itu, asal memberikan uang secepatnya.
Axel menyimak dengan seksama. Akan tetapi, ia menyadari bahwa tempat ini sangat tidak layak bagi Beni. Ia teringat pada tempat yang jauh lebih baik untuk mereka. Jika mereka di sana, Beni bisa bersekolah juga.
"Apa kamu mau ikut dengan saya?" ajak Axel.
"Bapak mau mengajak aku ke mana?" tanya Beni.
"Apa kamu mau tinggal di panti asuhan? Setidaknya kamu akan lebih aman tinggal di sana," terang Akel lagi.
"Selama ini, saya menunggu di sini karena Bapak berpesan begitu. Kami berharap, Bapak menjemput kami untuk ikut dengannya. Namun, sepertinya harapan kami hanya lah sebuah kesia-siaan. Bapak sudah melupakan kami berdua. Bapak sudah memiliki keluarga yang baru." Tubuh Beni bergetar, di sela ucapannya. Mata Beni terlihat sediki merah dan berkaca-kaca.
"Jika memang begitu, ayo ikut saya! Di sana, kamu bisa bersekolah dan belajar dengan baik. Bukan hanya adikmu saja yang bersekolah. Kamu juga butuh pendidikan!"
Beberapa waktu, Beni tertunduk. Axel menunggu reksi selanjutnya dari bocah yang berjuang demi sang adik ini. Beberapa menit kemudian, Beni mengusap matanya dengan lengan baju yang sudah menghitam.
__ADS_1
"Baik, Pak ... aku akan ikut dengan Bapak. Sebenarnya, aku juga ingin bersekolah. Adikku Doni selalu bertanya tentang materi yang tidak ia mengerti padaku. Akan tetapi, semenjak kecil aku belum pernah bersekolah. Aku mencari uang demi makan dan biaya lain untuk kami berdua. Gak apa jika hanya Doni yang bersekolah, aku rasa semua itu sudah cukup bagiku. Namun, jika ada masih ada kesempatan untuk belajar seperti yang Bapak bilang, aku akan ikut. Aku mau sekolah juga."
Axel menganggukkan kepala. Lalu mereka sepakat untuk menjemput Doni, adik Beni. Namun, saat sampai di rumah kardus, mereka tak menemukan satu orang pun.
"Beni! Beni!" teriak seseorang dari luar.
"Cepat selamatkan adikmu Beni!"
Beni berlari menuju pintu rumahnya melihat siapa orang yang baru saja memberikan informasi mengejutkan barusan padanya.
"Bang Ron? Ada apa? Ke mana adikku?"
Pria yang sedikit lebih tua darinya itu segera menarik tangan Beni dan mengajaknya berlari menuju suatu tempat. Axel mengikuti dan melakukan panggilan kepada Briptu Gilang. Ada sesuatu yang membuat perasaannya menjadi tak enak, bayangan mengerikan yang ia sendiri tidak tahu itu apa.
"Briptu Gilang, saya membutuhkan bantuan Anda. Tolong kembali ke sini lagi!"
__ADS_1
"Dengan senang hati!" Briptu Gilang segera membanting setir, memutar arah.