
Mila masih mengusap punggung Aziel dalam pelukannya. Aziel mulai lelap masuk ke dalam dunia mimpi yang indah.
Setelah memastikan Aziel lelap, Mila melepaskan pelukannya. Ia menyelimuti Aziel kembali dan keluar dari kamar itu berpindah masuk ke dalam kamar yang diperuntukkan kepadanya.
Sebenarnya, aku bertahan di sini hanya lah demi Aziel. Semenjak awal, aku ingin sekali pergi meninggalkan rumah ini. Aku ingin tahu siapa diriku. Semua yang ada di kota ini begitu asing bagiku. Aku harus bagaimana?
Mila bergulat dengan perasaannya sendiri. Bagaimana pun juga, Mila hanyalah orang asing yang benar-benar baru berada di tempat ini. Tak satu pun yang bisa membuat ia kembali mengingat masa lalu yang terkunci rapat dalam benaknya.
Kruuucuuk
Mila memegangi perutnya yang bergemuruh. Ia melihat waktu pada jam dinding. "Perasaan, aku baru makan sekitar satu jam yang lalu. Kenapa aku lapar lagi?"
Mila memejamkan matanya. Dalam benaknya muncul sebuah makanan yang entah begitu sering ia nikmati dulu. Mila berjalan keluar kamar menuju dapur membuka kulkas.
Kulkas ditutup kembali, raut wajahnya terlihat sangat kecewa.
"Apa yang Nona Mila lakukan?"
Sebuah sapaan dari wanita paruh baya membuat Mila sangat terkejut. Setelah memastikan siapa yang berbicara di belakangnya, Mila menghela napas panjang.
"Aku lapar, Bi."
Wajah sang penjaga dapur berkerut. Hal yang sama pun dilakukan melihat pada jam dinding. "Lho? Bukannya baru makan, Non?"
Mila menggelengkan kepala. "Aku lapar, tapi maunya makan sate, Bi."
Wanita yang dipanggil Bibi mengerutkan kening. "Sate? Maunya yang pedes?"
Mila tersenyum mengusap perutnya mengangguk cepat. Ia memejamkan mata membayangkan sesuatu yang sangat ia sukai.
__ADS_1
*
*
*
"Brigpol Luki benar-benar aneh. Sepertinya, setelah ini aku harus menghindarinya," gumam Akel bersandar pada kursi di dalam kamarnya. Ia baru saja pulang, tetapi langsung mengunci diri di dalam kamarnya.
Ia tak ingin sang ibu masuk ke dalam kamar untuk marah-marah karena menolak permintaannya untuk cepat pulang. "Sebenarnya, aku ingin pergi dari tempat ini. Namun ...."
Ua memandangi bingkai foto seorang remaja perempuan mengenakan seragam putih abu-abu, di atas meja kerja. Foto itu, adalah foto Yuvita ketika pertama kali mengenalnya secara virtual, empat tahun lalu. Gadis itu memberikan foto ketika ia masih duduk di bangku SMA. Bagi lelaki itu, Yuvita adalah gadis tercantik yang ia kenal, setelah dikhianati oleh Liani.
Di saat ia merasakan patah hati hebat ketika memergoki kekasih yang berkuliah di kedokteran, tak lama kemudian ia berkenalan dengan Yuvita, lawan main game online mobile legends.
Awalnya ia tidak mengetahui lawan tangguh itu adalah seorang wanita pekerja di negeri asing. Axel selalu saja kalah, akhirnya ia mulai mencoba untuk mencari profile sang lawan lewat sosial media fesbuk.
Saat itu lah, ia terkejut ... ternyata lawannya hanya seorang gadis berseragam SMA. Namun, postingannya selalu saja menggunakan huruf-huruf mandarin alias Hanzi.
Tanpa sadar, Axel tersenyum mengingat masa yang absurb, tetapi sangat indah itu.
"Mila ... apakah itu kamu, Sayang?"
Axel menarik bingkai foto masa SMA Yuvita yang masih belia. Foto itu lah yang membuatnya jatuh cinta begitu saja pada Yuvita.
Kisah panjang yang dimulai kembali, hanya berusia dua minggu, usai pernikahan tanpa rencana.
"Aku yakin, Allah menakdirkanmu untukku. Perjalanan yang kita lalui selama empat tahun terpisah jarak, tidak lah mudah. Akan tetapi, kecelakaan itu memisahkan kita, pada saat masa yang benar-benar indah itu baru aku rasakan?"
kruuucuuuk
__ADS_1
Gemuruh dari dalam perutnya kembali meronta. "Kenapa tiba-tiba pengen sate ya?"
Tanpa pikir panjang ia menarik kunci dan segera melaju menuju penjual sate langganannya.
"Sate di warung ini terkenal banget lhoh, Non."
Axel mendengar suara seorang wanita paruh baya, berbicara dengan wanita yang menggunakan hodie, menutup tubuh dan bagian kepalanya.
"Mas, satu porsi!" Axel tanpa pikir panjang duduk di bangku yang tersedia.
"Makan di sini, Om?" tanya sang penjual.
"Iya, Mas. Makan di sini aja. Tiba-tiba pengen makan sate," ucap Axel kembali.
Wanita yang berada dalam hodie itu merasa suara orang yang baru saja datang, sangat tidak asing baginya. Ia pun melirik siapa yang telah duduk di sana menunggu pesanan datang. Mata Mila membulat dan ia membuka tudung di kepalanya itu.
"Mas, aku juga mau makan di sini," ucap Mila.
Axel pun melihat siapa wanita yang membuka tutup kepala itu. Wajahnya seketika berubah sumringah.
"Tapi, Non? Nanti Tuan Arsen bisa tahu kalau kita keluar dari rumah. Bibi bisa dimarahi Tuan, Non? Bibi takut, Non." Wanita paruh baya yang ada di samping Mila terlihat menarik-narik lengannya.
"Tapi aku mau makan di sini, Bi. Pasti lebih enak." Mila segera duduk di bangku kosong yang berada tepat di hadapan pria yang terus mengisi kepalanya.
Pria itu tak berhenti memberikan senyuman lebar padanya. Jantungnya kembali berdebar dan akhirnya Ma menundukkan wajah. Ia mengusap pipi yang memanas bagai berada di depan kobaran api.
"Kamu makan di sini juga?" tanya Axel memberanikan diri mengajak Mila berbicara.
Mila mengangguk, tetapi wajahnya tidak diangkat. Wanita paruh baya, yang dipanggil Bibi, kembali menarik tangan Mila.
__ADS_1
"Non, kita makan di rumah aja yuk? Nanti Pak Supir kelamaan menunggu dan kita semua akan dimarahi oleh Tuan Arsen."
Mila mengangkat sedikit wajahnya, kembali melihat pada pria yang duduk di hadapannya. "Bi, aku mau makan di sini saja ya? Aku ingin bicara dengannya."