
"Ma, cukup!" Axel memasang raut kesal berjalan menuju sang istri yang masih membujuk Aziel agar tidak bersedih lagi.
Axel berjalan mendekat dan langsung memeluk Yuvi yang masih membujuk Aziel, dari belakang. Ia membenamkan wajah pada pundak sang istri.
Yuvi tersentak kaget sang suami berlaku seperti itu. "Kamu kenapa?"
"Kita harus mencari rumah baru. Sepertinya, kita memang tidak akan bisa tinggal di sini." Axel duduk di belakang istrinya yang masih membujuk Aziel di atas sofa. Kepalanya disandarkan pada punggung Yuvi.
"Ih ... Aa?" Seorang pria muda terlihat baru saja memasuki rumah. Haddy, adiknya yang masih kuliah menundukan wajah melihat kemesraan sang kakak terhadap istrinya yang baru dibawa kembali. Haddy berjalan cepat menaiki tangga menuju lantai atas.
"Si Aa teh, ngebucin setelah lama pisah dari Teteh Ipar." Haddy melirik kembali ke bawah menggelengkan kepala masuk ke dalam kamar.
Axel bangkit menarik Aziel ke dalam gendongannya. "Kita di dalam kamar aja yuk? Di sini aku nggak bisa meluk-meluk kamu."
Aziel memasang jurus melicinkan tubuh bagaikan belut, hingga membuat dia meluncur begitu saja dari gendongan Axel. "Aziel nggak mau di kamar sini. Aziel maunya ke rumah papa." Aziel melipat kedua tangannya dan membuang muka dari Axel.
Axel menatap Yuvi menyiratkan tanda tanya dari wajahnya. Yuvi hanya menggelengkan kepala membelai rambut Aziel.
"Kalau kamu di rumah papamu, kamu akan sendirian lho?" ucap Axel persis sama dengan istrinya tadi.
"Tapi, nggak apa juga sih. Nanti Papa Axel jadi bisa berduaan aja sama Mama Yuvi kalau nggak ada kamu."
Aziel tersentak membulatkan mulut dan matanya. Setelah itu wajahnya mengerucut berpindah posisi masuk ke dalam celah antara Axel dan Yuvi. "Mama geser dikit yah? Aziel duduk di sini."
Aziel membelalakkan matanya menatap Papanya yang baru. "Aziel tinggal bersama Mama Mila pokoknya, huh!"
__ADS_1
"Kalau begitu kamu tidur dulu! Biar Papa Axel juga tidur sama Mama Yuvi."
"Mama Milaaaa! Bukan Mama Yuviiii! Ini kan masih siaaang ...." teriak Aziel menggema hingga penjuru rumah.
"Yaaa aaampuuun? Ada apaa ini?" Ibu Axel muncul dari arah belakang dengan wajah gusar.
Raut wajah Axel, kembali berubah. Dia menghela napas panjang teringat obrolan dengan sang ibu.
"Ini teh, si bocah anak si penja—"
"Ma? Jaga ucapannya." sela Axel.
"Abis, berita itu terus saja masuk di tivi. Tadi Mama juga sudah cerita sama tetangga kalau—"
Axel segera menarik ibunya menjauh. "Apa yang Mama ceritakan kepada tetangga?"
"Astaghfirullah ... Maaaa? Kenapa Mamah selalu aja begini?" geram Axel memasang wajah gusar atas kelakuan sang ibu.
"Aa ... Aa ..." Haddy berteriak berlari menuruni tangga.
"Ini lagi, Haddy kamu kenapa teriak-teriak seperti itu?" omel wanita paruh baya itu.
"Tadi Haddy teh lihat, banyak wartawan yang datang di depan pagar." ucap Haddy terlihat panik.
Wajah Axel langsung menegang mengintip lewat jendela yang menghadap pintu gerbang. Ternyata, seperti apa yang dikatakan oleh Haddy, wartawan dan warga mulai berdatangan.
__ADS_1
"Ck?" Kedua tangan Axel mengusap mengacak kepalanya dengan gusar.
"A-apa? Kenapa Mama?" Wanita paruh baya itu terlihat kebingungan.
Ia segera mengambil kunci mobil dan menarik taplak meja makan berjalan cepat menutup Aziel dan mengangkatnya.
"Kenapa?" tanya Yuvi bingung.
"Kita memang tidak bisa mengajak Aziel tinggal di sini." Axel langsung menggendong Aziel diikuti oleh Yuvi.
"Nah, itu mereeeka!" teriak salah satu wartawan di luar pagar.
Axel membuka pintu mobil memasukan Aziel ke dalamnya. "Kamu pegangi dia ya!"
Yuvi mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil duduk memeluk Aziel. Ia hendak membuka penutup tubuh Aziel, tetapi dicegat oleh Axel.
"Biarkan begitu! Mereka tidak boleh melihatnya."
Yuvi mengangguk kembali. Kali ini dia membujuk Aziel untuk tenang dan tidak melepaskan benda yang menyelimutinya.
Axel duduk pada bangku kemudi, lalu segera melaju. Satpam rumahnya membukakan pagar, membuat para wartawan memasuki area rumah tersebut mencegat mobil itu keluar.
Namun, Axel tidak memberi kesempatan dan terus melaju membuat wartawan yang berdiri menantang mobilnya, memilih untuk menepi.
"Kamu pegangan yang erat, Sayang. Pastikan bayi di dalam perutmu baik-baik saja."
__ADS_1
Axel langsung tancap gas meninggalkan lokasi. Sudah banyak warga dan wartawan berdatangan untuk mengecek keafsaahan informasi. Warga sekitar sini mengatakan bahwa putra dokter buronan organ tubuh manusia, sedang berada di rumah ini.