
Ketiga orang tadi berlari dengan secepat yang mereka mampu menuju arah Bang Ron tempat kejadian yang mengejutkan. "Tadi, Doni sedang asik main latto-latto sambil jalan. Aku melihatnya dari jauh aja sih. Sekelompok orang membekap Doni, dan tiba-tiba saja dia pingsan dan dibawa entah ke mana. Aku udah mengejar, tetapi tiba-tiba saja ada kendaraan yang menjemput mereka," terang seseorang yang dipanggil Bang Ron tersebut.
Mendengar cerita tersebut, perlahan Axel merubah haluannya. "Kita harus mengejar mereka! Ayo!"
Kali ini, dua remaja tersebut mengikuti Axel menuju kendaraan yang terparkir tak begitu jauh. Tanpa pikir panjang, ia menekan remot kendaraannya dan terdengar suara siulan.
"Cepat masuk!"
Kedua remaja tersebut masuk ke bagian belakang kemudi.
Beberapa detik kemudian, kendaraan Briptu Gilang pun sampai menjelang Axel masuk ke dalam kendaraannya. "Mau ke mana?" tanya Briptu Gilang.
"Ada yang menculik adik anak ini. Sepertinya saya tahu ke mana arah untuk mengejarnya." Axel masuk ke dalam kendaraannya. "Pegangan yang erat!" Lalu ia menginjak gas dengan dalam hingga terdengar decitan suara kendaraan yang tiba-tiba dipaksa untuk bergerak cepat.
Kendaraan melaju dengan cepat, diikuti oleh Briptu Gilang.
*
*
*
__ADS_1
"Mama udah sehat?" tanya Aziel menelengkan kepala memperhatikan raut Mila yang tampak sedikit lesu.
Mila memperhatikan Aziel yang memasang raut penuh tanya dan baginya, ekspresi tersebut sungguh sangat menggemaskan. Mila mengangguk mengusap kepala Aziel.
"Mama udah sehat kok, tadi kamu udah memberi obat yang sangat mujarab untuk Mama. Makasi ya, Sayang?"
Tanpa mereka ketahui, Arsen yang telah rapi, membersihkan diri dan mengganti pakaian. Akan tetapi, dasi yang mengelungi kerahnya belum terpasang dengan rapi.
Arsen mendengar ucapan Mila, ia tak menyadari bibirnya mengulas senyuman dan berjalan mendekati mereka berdua. Ia melihat dasi tersebut, wajahnya mesem-mesem dengan rencana tertentu.
"Aku pergi dulu!" Tangannya memutar-mutar dasi tak tahu arah dengan sengaja. Ia melirik Mila sejenak.
Mila mengerutkan keningnya memperhatikan tingkah aneh Arsen. "Kenapa Bapak tiba-tiba lupa cara masang dasi?" cicit Mila sekedar memantau dari jauh.
Arsen tersentak mendengar sindiran tersebut, kembali memperbaiki dasi, raut wajahnya terlihat sedikit kesal. "Ada pasien yang membutuhkan perawatan intensif," ketusnya kembali memasang dasi dengan cepat. Ternyata, rencanya tidak berhasil.
Tatkala melihat sang Ayah yang sedikit aneh, tanpa berkomentar Aziel memilih bersembunyi di balik tubuh Mila. Ia tersenyum gemas akan tingkahnya dan menggelengkan kepala. Tangan Aziel ditarik hingga berada tepat di hadapan.
"Salim dulu dong!"
Aziel melirik ayahnya sejenak, lalu melirik Mioa. Wanita yang dipanggil 'mama' itu mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Huuuffftt ...." Aziel berjalan tertunduk mendekati sang ayah.
"Bisa nggak, berjalan dengan tegak!" bentak sang ayah membuat bocah lima tahun itu tersentak karena terkejut mendengar nada tinggi dari mulutnya.
Aziel menarik tangan Arsen dan menciumnya dengan cepat, setelah itu ia segera berputar kembali bersembunyi di balik tubuh Mila.
"Jangan dibentak terus! Dia itu masih kecil, Pak!" tutur Mila menarik Aziel masuk ke dalam pelukannya. Mila mengusap punggung Aziel dengan lembut.
"Jadi, kamu sudah berani memerintahku?"
Mila segera menarik tangan Aziel. "Nanti kalau dia tidak mau dekat dengan Anda, jangan salahkan saya membawanya pergi!" Mila menjauh menggandeng Aziel meninggalkan Arsen yang melongo tak percaya.
"Aziel itu anakku! Bukan anakmu?" Arsen menatap punggung kedua orang itu menghilang menuju taman.
Rahang Arsen mengeras memukul angin. Setelah menarik sandwich yang telah tersedia di atas meja makan, ia menuju kamar memasang jas putih dan menarik tas kerjanya. Gerakannya terhenti memikirkan sesuatu. Tanpa pikir panjang, ia segera menuju taman.
"Hati-hati ya?" ucap Mila melambaikan tangan kepada Aziel yang menikmati suasana bebas.
Aziel terlihat gembira berlari ke sana ke mari di taman luas mansion mewah itu. Arsen kembali menatap Mila, dan pandangannya jatuh pada jemari yang terpasang cincin pernikahan milik orang lain.
"Bukan kah, dia tidak mengingat siapa dirinya sendiri?" gumamnya
__ADS_1