Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
87. Aziel Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

"Bagaimana, Boss? Apakah Tuan Muda akan kita bawa saja agar bersama kita?"


Arsen masih membisu, ia mulai bimbang.


Di rumah sakit, Yuvi bersama tetangga yang mengalami masalah sama dengannya telah hadir. Ia segera mencari keberadaan suaminya dan Aziel. Akhirnya, ia melihat keberadaan kedua orang tersebut pada bagian pojok lorong rumah sakit.


"Azieeel, maaf kan Mama. Mama sudah lalai menjagamu." Yuvi segera memeluk Aziel yang berada dalam gendongan suaminya.


"Maaamaaa ...." Aziel turun dari gendongan Axel lalu memeluk mamanya.


*


*


*


Malam hari, Aziel sama sekali tidak bisa tidur, ia tak berhenti menangis dan meminta Yuvi untuk terus menemaninya.


"Mamaa, sakit ... Semuanya sakiiit ...."


Yuvi dan Axel terlihat panik. Mereka juga kebingungan harus bagaimana supaya Aziel tidak rewel lagi.


Axel mencoba browsing informasi tentang pascakecelakaan bagi anak. Lalu ia mendekati Aziel.


"Jagoan, kamu anak hebat kan?"


Aziel menganggukkan kepalanya.


"Kalau anak hebat, pasti gak gampang nangis."

__ADS_1


"Tapi Aziel, sakit. Aziel ngantuk, tapi gak bisa bobok." Ia masih sesegukan.


"Kamu mau Papa kompres pakai es? Biar rasa sakitnya sedikit berkurang?"


"Pakai es? Bukan kah es untuk diminum?" tanyanya dengan wajah polos, masih sesegukan.


"Bukannya itu dingin, Mas? Kasian malam-malam malah dikompres es?"


"Sebentar aja kok, kita coba dulu yuk? Siapa tau berhasil. Namanya juga kita jadi orang tua dadakan. Jadi, ya terpaksa menggunakan ilmu dadakan juga." Axel segera mengambil botol air yang ada di dalam kulkas.


Dengan hati-hati ia mempraktikkan ilmu tersebut pada beberapa bagian memar di tubuh Aziel.


"Diingiiin ...." ringis bocah itu menautkan giginya.


"Tahan dulu, dong? Kan, katanya mau bisa bobo?"


Aziel menganggukan kepala. Ia menarik selimut dan menggigitnya.


"Biar Aziel bisa menahan dinginnya Ma."


Axel menggeleng tersenyum geli melihat tingkah Aziel. Ia menempelkan botol air dingin itu kembali pada bagian yang membiru tadi. Tubuh Aziel menggeliat menahan dingin, tetapi ia mencoba untuk bersikap lebih tenang.


"Good boy!" ucap Axel mengusap kepala Aziel.


Satu jam kemudian, Aziel telah lelap dalam tidurnya. Ia memandangi wajah istrinya yang sudah lelah.


"Kamu istirahat aja. Biar aku yang temeni Aziel." Axel mengusap lengan istrinya beberapa kali.


"Syukur lah Aziel baik-baik saja. Tadi aku bener-bener ketakutan Aziel dan anak-anak lain kenapa-napa." Yuvi meringsek ke dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Maaf ya? Tadi di saat kamu sedang membutuhkanku, aku malah tidak bisa dihubungi. Kamu pasti sangat khawatir."


"Ya, jujur tadi aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Yang pasti aku sudah berpikir, kamu pasti sibuk karena pekerjaan." Yuvi menengadahkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Setelah semua yang terjadi, begini saja, aku sudah merasa tenang," tambahnya.


"Sepertinya kamu mancing-mancing aku nih?" goda Axel lagi.


*


*


*


Di tempat lain, Arsen sedang berdiri di depan seluruh anggotanya. Wajah dingin yang menyeringai membuat para pasukan tergidik karena takut.


"Mereka tidak sadar telah menyenggol siapa. Kali ini, mari kita buat mereka menyadari bahwa mereka melakukan kesalahan besar!"


Semuanya menunduk tanpa mengatakan apa-apa. Arsen dan semua anggota lain menuju lokasi markas para penculik anak itu. Arsen telah mengetahui lokasi dan mereka semua berbondong menuju tempat yang berada di luar kota.


Ketua penculikan sedang memarahi anggotanya yang kabur tanpa membawa satu anak pun.


"Kenapa kalian kembali kalau tidak berhasil mendapatkan apa-apa? Harusnya, kalian tidak perlu ke sini! Bersembunyi ke tempat lain, kek!"


"Tapi, Boss ... polisi ada di mana-mana. Kami tidak tahu harus ke mana selain ke markas." Salah satu dari kawanan yang kabur tadi membela diri.


"Gooblook! Udah tidak mendapatkan hasil sama sekali, kalian malah membahayakan tempat ini. Bagaimana kalau ada anggota kepolisian mengikuti kalian dengan diam-diam? Maka habis lah kita semua yang ada di sini!"


"Apalagi Joko kalian tinggalkan begitu saja! Kalau dia membuat laporan mengenai lokasi markas kita ini, kalian semua jangan harap akan bisa lepas!"

__ADS_1


Tiga anggota yang berhasil kabur itu hanya menundukan kepala. "Kami rasa tidak ada yang mengikuti kami Boss. Joko terpaksa kami tinggal karena ia sudah ditangkap oleh sebuah komplotan yang menghalangi perjalanan kami."


Pria yang dipanggil Boss tadi mengernyitkan wajah. "Siapa? Komplotan siapa?"


__ADS_2