Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
124. Pemalu


__ADS_3

Yuvi menatap Axel kembali dengan bibir menekuk ke depan. "Aku? Kamu nuduh aku?"


"Aku bukan menuduh, aku hanya bertanya." Tangan Axel ditengadahkan di hadapan Yuvi.


"Apa?" tanya Yuvi ketus.


"Ponselmu dibawa ke sini dulu!" tambah Axel.


"Untuk?"


"Ayo, bawa ke sini!"


Yuvi menarik tangannya dari genggaman Axel, tetapi lelaki itu tak melepaskannya sama sekali.


"Pakai tangan yang satunya lagi!" ucap pria itu menahan senyum di bibirnya.


"Cih!" Yuvi berdecak dan membuka tas mini yang terselempang di pundaknya. Ia mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya kepada Axel.


Kening Axel kembali berkerut. Ia memutar-mutar ponsel itu menatap Yuvi kembali. "Apa ini yang aku kirim dulu? Sepertinya, aku tidak membelikan yang merk ini," ucapnya lagi.


"Hmmm, aku simpan. Aku ingin mengembalikannya padamu. Aku bukan pacarmu lagi, jadi aku tidak bisa menggunakannya. Namun, aku tak tahu harus mengirimkannya ke mana."


Axel menggenggam tangan Yuvi dengan kedua tangannya. "Kita memang tidak pernah pacaran. Karena kita ini adalah calon suami istri. Itu aku berikan untukmu. Kamu bisa menggunakannya sampai benda itu tak lagi kamu inginkan. Nanti, jika kamu kembali ke Indonesia, kamu gunakan lagi, ya? Hubungi aku menggunakan itu."


"Tapi, hape itu ketinggalan di Hongkong, bukan di kampung."


"Ngapain kamu di Hongkong?" tanya Axel heran.


"Pertanyaan yang sama untukmu. Ngapain kamu di sini?" Yuvi balik bertanya.


Axel menarik kedua pipi Yuvi. "Ternyata kamu ini bener-bener ngeselin ya? Ayo jawab dulu pertanyaanku!"


Yuvi mengusap kedua pipinya yang memerah karena cubitan Axel. Ia memanyunkan bibir dan melengoh kesal. "Aku kerja sebagai TKW di sana. Jika aku masih di Indonesia, sampai hari ini aku tetap jadi gadis kampung yang kere. Semenjak bekerja di Hongkong, paling tidak, aku bisa mengirimkan uang buat orang tua di kampung, untuk biaya pengobatan Ibuk."


Axel menyugar rambutnya dan akhirnya ia tertawa menyadari satu hal. "Ternyata begitu? Sekarang aku mengerti kenapa aku tak bisa lagi menghubungi kamu, kamu juga tidak bisa menghubungi aku. Kamu menggunakan provider Hongkong, sedangkan aku menggunakan provide lokal di sini. Jadi, ini lah alasan kenapa kita tak bisa saling terhubung."


Axel menatap Yuvi yang masih terlihat cemberut. Ia mengusap pipi kemerahan milik Yuvi. "Tapi, nyatanya Tuhan punya cara lain membuat kita yang tak bisa bertemu di tanah air ini, ternyata mempertemukan kita di negeri asing ini."


Axel menatap suasana semarak penuh warna warna indah yang menghiasi taman kota. "Dan kita berjumpa pada saat yang tepat seindah ini. Kebetulan sekali, tahun ini adalah musim semi terakhirku di sini dan aku akan kembali ke Indonesia."

__ADS_1


Ekspresi cemberut milik Yuvi pun berubah. "Kok cepet banget? Lalu kita jauh lagi dong?" celetuknya.


"Bukannya kita memang udah jauh? Kebetulan aja ketemu di sini. Kapan balik ke Hongkong?"


"Besok," ucapnya kali ini suaranya sedikit melemah menyemburatkan kesedihan.


"Bisa diundur?"


"Diundur?" Yuvi mengulang pertanyaan Axel.


"Ya, diundur hingga seminggu kemudian. Kita kan baru saja bertemu. Aku masih ingin bersama menikmati suasana ini berdua denganmu. Ini adalah impianku, semenjak kita memutuskan untuk merajut asa bersama." Kali ini, Axel merangkul pundak Yuvi, menyandarkan kepala Yuvi di bahunya.


Yuvi mengangkat kepalanya, tetapi Axel mendorongnya kembali agar kembali bersandar di pundaknya. "Ih, aku malu. Mili terus memperhatikan kita."


"Dih, emangnya sejak kapan kamu berubah menjadi pemalu?" gumam Axel.


"Aku ini aslinya pemalu," ucap Yuvi bersikeras.


"Mana ada orang pemalu ngaku? Biasanya pemalu itu orangnya banyak diam," timpal Axel melirik Yuvi menahan senyum melihat polah nyata kekasih virtualnya ini.


"Idih, gak percayaan amat? Aku ini beneran pemalu tauk. Coba tanya ke Mili, pasti dia bilang aku ini orang yang pemalu." Yuvi masih kekeuh dengan pendapatnya.


"Sekarang, rambut kamu udah panjang banget ya? Kamu jadi semakin cantik."


Yuvi memejamkan matanya bersandar pada Axel. Ia menikmati ledakan indah penuh bunga di dalam hatinya. Akhirnya, penyakit rindu yang membuncah itu mendapatkan obatnya. Yuvi merangkul penggang Axel dan tanpa ia sadari terlelap begitu saja ditemani aroma parfum menenangkan milik Axel.


*


*


*


Yuvi terbangun membuka matanya secara perlahan. Ia menatap plafon kamar hotel tempat ia menginap. Kepalanya pun berputar melihat ranjang di sebelahnya.


Di sana terlihat Mili yang sedang maskeran. Dengan cepat, Yuvi bangkit dan terduduk. Ia masih mengingat wajah Axel dan semua kejadian yang seolah nyata terjadi.


"Apakah aku hanya bermimpi?" gumamnya.


Mili melirik Yuvi dengan senyum jahilnya. "Tidurmu lelap banget, Neng? Tidur sejak pagi, baru bangun sekarang?" ucapnya.

__ADS_1


"Apa? Jadi aku bener-bener hanya sekedar bermimpi doang?" celetuknya kecewa.


Mili menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya membiarkan Yuvi yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Tapi, emang gak mungkin kebetulan bertemu dengannya di sini. Itu terlalu indah dan begitu imposible."


"Aku kangen banget, Mas. Kapan kita bisa benar-benar bertemu? Kenapa dalam mimpiku kamu jauh lebih tampan dibanding saat dalam video call?"


Yuvi menurunkan kedua kakinya, menatap panjang keluar jendela. "Sudah malam. Bagaimana ini? Aku tidak mengantuk sama sekali?"


tok


tok


tok


Terdengar sebuah ketukan dari arah luar kamar. Yuvi menarik ponselnya melihat waktu. "Baru jam delapan malam?" Yuvi melirik Mili yang sudah tidak bergerak.


"Mili, kenapa tidurnya cepet banget?"


Namun, tak ada jawaban dari Mili. Ketukan terdengar kembali dari arah luar pintu. Yuvi sedikit ragu dan takut membuka pintu.


"Aku kan gak kenal siapa-siapa di sini? Siapa yang datang?" gumamnya ragu.


Suara ketukan pintu kembali terdengar. "Mungkin petugas hotel kali ya?" Perlahan, Yuvi berjalan menuju pintu. Ia merasa ragu membuka pintu tersebut, tetapi pintu itu kembali diketuk dari luar.


Yuvi memutar kenop pintu itu secara perlahan. Dan pintu mulai terbuka dengan celah yang cukup kecil. Namun, ia tak lagi menarik pintu itu, karena masih takut jika ternyata di luar sana ada orang aneh ingin masuk kamar ini.


Namun, pintu yang tadinya hanya dibuka kecil, kini didorong dengan kuat membuat Yuvi refleks berjongkok menutup mata.


"Sayang? Apa yang kamu lakukan?" Sebuah suara yang begitu familiar membuat Yuvi refleks membuka mata dan mendongak melihat orang yang baru saja datang.


"Maaas?" Yuvi terlonjak dan langsung merangkul Axel dan menyandarkan kepalanya di dada Axel.


"Ini beneran kamu, Mas? Syukur laaah. Aku pikir, semua itu hanya mimpi. Mimpi indah yang tidak mungkin terjadi," gumamnya bersandar di dada Axel.


Axel pun tersenyum membelai rambut Yuvi yang sedikit kusut. "Ayo ikut aku. Kita akan menghabiskan malam ini berdua."


"Malam berdua? Kita mau apa, Mas?"

__ADS_1


"Ya mau apa lagi? Kita kan suami istri."


__ADS_2