
"Setidaknya, kalian bersikap sopan saat bertamu ke rumah orang!"
Arsen menahan dirinya, memegangi bagian yang baru saja mendapat kecupan timah panas. Kepalanya menengadah, sedikit mengernyit menahan rasa sakit yang sudah tidak asing ini.
Kano segera mengejar Arsen. "Boss, tidak apa?"
Arsen mengangguk kaku. Kano menariknya untuk segera meninggalkan lokasi. Suara tembakan kembali terdengar untuk menghalau para tamu yang datang tanpa undangan.
Pimpinan komplotan tersebut melirik sumber kekacauan yang ada di markasnya. "Buronan internasional mendatangi kita gara-gara lu anjir!"
"Boss ... Boss ... to-tolong gue!" Pria yang diberi suntikan zat mematikan telah tampak mengenaskan. Bibirnya telah penuh cairan kental bewarna merah. Dadanya terasa sesak, persendian telah mati rasa.
"Cepat cari tahu! Anak yang mana itu! Mari kita buat perhitungan pada keparat itu. Agar dia tahu, berurusan dengan siapa!"
*
*
*
"PAPAAAAAAA!"
"PAPAAAAA!"
"PAPAAAAA"
Aziel berteriak di sela tidurnya, membuat Axel yang baru lelap dalam lelah terbangun mendengar linduran bocah itu. Matanya masih terpejam.
"Ssstt ... Papa di sini ...." Axel mengusap tangan Aziel.
Aziel membuka mata. Ia mencoba bangkit tetapi tubuhnya masih terasa kaku. Ia hanya bisa mengangkat kedua tangan menatap Axel dengan wajah memohon. Axel pun menyambut bocah itu menariknya masuk ke dalam pelukan.
"Papa Aziel ... Papa Aziel sakit lagi." Akhirnya, air mata bocah malang itu kembali tumpah dalam dekapan dada Axel.
Tiba-tiba, pintu terbuka dari arah luar. Sebuah tangan terlihat meraba bagian dinding di samping kunzen pintu tersebut. Saat memastikan sesuatu, tangan tersebut menekan tombol, dan kamar yang tadinya bercahaya temaram, kini telah benderang.
Yuvi menyaksikan dua sosok yang sedang berpelukan di atas ranjang. Sosok bocah tampak sesegukan dan ketakutan. Ia pun turut serta duduk bersama di atas ranjang.
Yuvi menangkap sorot sang suami yang telah menyadari kehadirannya. Ia memberikan kode menengadahkan kedua tangan. Namun, Axel menjawab juga dalam bentuk kode mengedikan bahu.
__ADS_1
Yuvi menarik gelas yang tersedia di nakas samping ranjang. Ia sengaja menyiapkan minuman tersebut untuk Aziel, masih mendekap suaminya dengan erat.
"Aziel, ayo minum dulu."
Bocah itu menggelengkan kepalanya dalam dekapan Akel. "Papa Aziel, Ma. Papa sakit lagi."
"Kamu mimpi ya?" Yuvi mengusap kepala bocah itu.
Aziel mulai melepaskan pelukan. Ia memutar tubuhnya yang masih begitu kaku, dan terasa sakit saat dipaksa untuk bergerak.
"Jadi, tadi itu hanya mimpi ya, Ma?"
"Iya ... kamu pasti mimpi. Papamu baik-baik saja kok."
Axel membisu mendengar ucapan istrinya. Ia tidak berani menceritakan bahwa lelaki itu telah berkeliaran di kota ini.
"Kapan Papa kembali, Ma?"
Yuvi tidak mengetahui berita di televisi telah sibuk menginformasikan, kaburnya dokter berdarah dingin. Ia benar-benar menepati janjinya terhadap Arsen, untuk tidak menyuguhi Aziel dengan tontonan televisi. Hingga, apa pun berita yang sedang viral, tidak ada yang ia ketahui.
"Papa, mungkin kembali nanti. Kalau Papa kembali, dia pasti akan mencarimu. Kamu sabar ya?"
"Nah, ayo minum dulu." Yuvi membantu Aziel untuk minum beberapa teguk.
"Setelah itu, ayo bobok lagi ya?" Ajak Yuvi.
Axel beringsut memberikan tempat untuk bocah itu merebahkan diri.
"Maaa, Aziel mau bobok sama Mama aja."
"Loh? Emangnya sama Papa kenapa?" sela Axel protes.
"Papa tidurnya ngorok. Aziel jadi sering bangun," jawab Aziel membulatkan bibir.
"Bukannya tadi kamu tidur dengan nyenyak?"
"Pokoknya mau Mama aja."
Akhirnya mereka memutuskan mengajak Aziel tidur bersama di kamar utama.
__ADS_1
*
*
*
Wajah Arsen memutih, darahnya telah banyak terbuang dengan sia-sia membasahi pakaian yang ia kenakan.
Arsen melepaskan pakaian dengan sedikit meringis. "Kano, keluarkan pelurunya! Aku tidak bisa mengeluarkannya sendiri karena luka tembaknya berada di belakang."
Kano menghela napas panjang. "Meskipun bukan orang medis, setidaknya aku tahu bagaimana cara menggukan beberapa alat medis, karena sering ikut saat dalam pembedahan."
Kano mengeluarkan pingset yang telah disterilkan. "Buka mulut!"
"Buat apa?" tanya Arsen.
"Buka aja!" ucap Kano lagi.
Arsen diam sejenak memasang wajah kaku. Akhirnya ia membuka mulut dan Kano langsung menyumpalnya dengan pakaian yang tadi dilepaskan Arsen.
Arsen merasa tidak nyaman dengan aroma anyir darah dan rasa asin pada pakaian yang telah ia lepaskan. Ia menarik penyumpal itu membelalakan mata kepada Kano.
Kano membuang muka. "Terpaksa Boss. Dari pada mendengarmu teriak-teriak di telingaku. Kita tidak punya bius. Yaa ... terpaksa tahan secara manual!"
Arsen masih hening. Ia mencari bagian pakaian yang tidak terkena darah. Arsen memasukkan sendiri ke dalam mulutnya.
Kano tersenyum tipis. "Sudah siap Boss? Tahan!" Kano langsung mencongkel bagian rongga kulit yang telah menganga itu.
Arsen tersentak dan menggeliat karena rasa sakit yang diberikan, sungguh sangat luar biasa.
*
*
*
"Kamu hati-hati di rumah ya? Sepertinya, jangan keluar rumah dulu. Ajak Aziel main di rumah aja. Keadaan saat ini sungguh berbahaya." Axel melambaikan tangan bersiap meninggalkan rumah. Ia telah duduk di atas kendaraan roda empat yang biasa dikendarainya.
Aziel pun muncul berjalan bagaikan robot.
__ADS_1