
"Sa-saya membersihkan lantai, Om." Axel menundukkan kepalanya.
"Hmmff! Jangan lama-lama! Setelah menyelesaikan tugas kalian, pergi dari tempat ini!" ucap pria itu.
Bharada Jun melirik ke arah Axel yang sedang dimarahi. Ia melanjutkan pekerjaan menyeka debu pada kaca di jendela.
Setelah membentak Axel, pria itu pergi menuju ke arah di mana semua anggota berpakaian serba hitam berada. Pria itu berbelok masuk pada bangunan yang cukup jauh terpisah dari gedung utama.
"Apakah gedung itu yang Anda maksud Saudara Axel?" Terdengar suara dari alat yang melekat di telinga Axel. Axel melirik Bharada Jun dan ia mengangguk.
"Hanya saja mereka terlalu ramai, akan sulit bagi kita untuk masuk ke dalam bangunan itu," bisik Axel yang bisa terdengar jelas oleh Bharada Jun meskipun jarak di antara mereka cukup jauh.
"Jumlah kita sudah kalah telak. Ini juga sangat berbahaya bagi kita yang hanya berdua saja. Lanjutkan dulu, setelah itu nanti kita keluar dulu," bisik Bharada Jun.
Axel memberi kode anggukan dan menyelesaikan pekerjaannya. Mengangkat kembali ember hendak masuk ke dalam gedung utama lewat pintu belakang.
Namun, sebuah tangan kini berada di pundaknya. Axel tersentak mematung ....
"Mau ke mana?" tanya seseorang di belakang.
Axel masih mematung, tetapi matanya liar melirik ke segala arah. Kerongkongannya seakan kering hingga ia merasa tak mampu untuk menelan salivanya sendiri. Ia menatap Bharada Jun yang meliriknya masih dalam pekerjaan mengusap pintu kaca.
"Kenapa diam saja?" tanya seseorang yang menahan di belakangnya.
"Sa-saya baru menyelesaikan pekerjaan, Boss."
"Bekerja? Selesai?" Suara seseorang yang berada di belakangnya malah semakin tinggi.
"Lihat lantai ini! Masih kotor!" bentaknya lagi.
Axel tersentak dan berpikir cepat. Ia langsung menaruh ember yang akan dibawa pergi. "Ma-maaf. Di bagian mana yang kotor, Om?" tanya Axel kembali.
"Itu! Itu! Itu!" Tangannya tak henti menunjuk bagian-bagian yang terlihat memiliki bercak-bercak merah.
"Baik, akan saya lanjutkan. Penglihatan saya kurang bagus, jadi memang sering melewatkan noda-noda kecil, Om."
Pria yang berbadan bongsor tadi, melengos dan pergi. Axel menghela napas lalu melirik bercak-bercak merah yang mulai menghitam itu.
__ADS_1
"Ada apa Jaksa Axel?" Bisikan Bharada Jun terdengar tepat di dalam rongga pendengaran Axel.
"Di sini banyak tetesan noda darah," bisik Axel.
"Apa Anda bisa mengambil sampel itu sebagai barang bukti?" tanya sang penyidik yang terus mengusap-usap jendela.
"Saya bingung bagaimana caranya. Apa Anda bisa membantu saya?" tawar Axel kembali.
Bharada Jun pun menghentikan kegiatannya barusan. Ia menuju bak sampah khusus daur ulang lalu mencari-cari sesuatu yang berbahan dasar plastik.
Setelah mendapat hal yang dibutuhkan, ia membawa plastik itu menuju Axel yang pura-pura menyapu bagian tersebut memberikan tempat kepada Bharada Jun dan berpindah menyapu sisi lain. Sejenak ia melirik Bharada Jun mengikis bercak yang sudah mengering itu dengan plastik di dalam tangannya.
Setelah memastikan menyelesaikan pekerjaan sang penyidik, Axel mengambil pel dan membersihkan noda merah tersebut hingga tak berbekas.
Entah apa yang dipikirkan Bharada Jun, ia menarik bak sampah besar beroda yang tadinya berdiri di sisi koridor. Axel terihat sedikit panik, Bharada Jun menuju area orang-orang berpenampilan mengerikan tersebut.
"Pak Jun, apa yang Anda lakukan?" bisik Axel hingga jelas terdengar di telinga Bharada Jun.
"Kita coba cara ini dulu."
Beberapa pria bertubuh bongsor tersebut terlihat mulai memperhatikan mereka. Beberapa dari orang-orang tersebut terlihat saling memberi kode lewat mata.
Satu orang maju mencegat Bharada Jun yang menyalinkan isi sampah-sampah ke tong yang terus ia tarik.
"Tunggu!" cegatnya.
Bharada Jun pun berhenti dan memberi jeda untuk orang tersebut melanjutkan bicara.
"Apa yang kalian lakukan di sekitar sini?" tanyanya persis sama seperti yang dilakukan orang-orang tadi.
"Kami adalah petugas kebersihan, dan kami menjalankan tugas membersihkan bagian ini."
Axel mendengar jelas semuanya dari headset mini yang melekat pada telinganya. Ia masih mengepel lantai, tetapi sikapnya tetap dalam posisi waspada.
"Bukan kah sudah ada larangan untuk tidak memasuki area bagian sini?"
Bharada Jun memutar otaknya mencoba merangkai alasan yang bisa ia sampaikan.
__ADS_1
"Kenapa diam saja?"
"Maaf, Pak. Hari ini kami baru change posisi tugas. Biasanya semua sisi memang kami bersihkan. Saya tidak tahu sama sekali ternyata bagian ini dilarang, Pak. Tadinya saya sempat heran, kenapa sampah-sampah di sini sangat banyak. Ternyata begitu, alasannya." ucap Bharada Jun panjang lebar.
"Cepat tinggalkan tempat ini!"
"Ba-baik, Pak." Bharada Jun balik kanan hendak melangkah.
"Tunggu!" Pria yang tadinya memarahi Bharada Jun kini malah menahannya.
"Bak sampahnya dibawa lah! Ini semua kan tugas kau!"
Bharada Jun mundur dan menarik bak sampah raksasa tadi dengan kaku. Ia pun memberi kode kepada Axel untuk segera meninggalkan lokasi secepatnya.
Kedua orang itu kembali masuk ke dalam ruang ganti tadi. Kembali memakai baju yang tadi mereka gunakan dan menuju ke ruang emergency menjemput Aiptu Leticya yang masih tiduran di atas brangkar. Axel memakai daster dan kerudung, sementara Bharada Jun berpenampilan seperti pria tua dengan uban berjalan terbungkuk.
"Mak, bagaimana keadaan, Mak?" tanya wanita dengan postur tinggi tetapi suaranya aneh.
"Uhuk huk huk mereka sama sekali tidak memeriksa Emak, Nak. Emak dibiarkan tidur aja. Kata mereka Emak harus tunggu kamu bawa uang dulu. Uhuk huk huk." Wanita berpenampilan tua itu kembali terbatuk.
"Aduh, Suus ... saya sungguh sangat kecewa pada pelayanan rumah sakit ini. Jangan mentang-mentang kami ini hanyalah rakyat jelata, hingga membuat kalian mengabaikan kondisi Mak saya. Awas yaaa? Saya akan laporkan kepada Komnas HAM."
Wajah para perawat yang tadinya tak berhenti meremehkan mereka, kini tersentak dan saling memandang satu sama lain.
"Ja-jangan begitu, Mbak." Raut mereka kini terlihat ketakutan.
"Ayo, Mak. Kita cari rumah sakit lain aja? Biar aja kecil, tapi tidak mempermasalahkan biaya kita yang minim." Lalu ia membantu Emak turun dan berjalan keluar dari ruang emergency tadi.
Para perawat itu terlihat saling colek dan kode.
"Bu ... Mbak, Pak? Kami akan segera memeriksa kondisinya!" ucap salah satu perawat mulai mengejar dengan wajah ragu, antara takut dan jijik pun menjadi satu.
"Sudah lah, Sus. Kami memang miskin, tetapi kami memiliki harga diri. Kami akan mencari tempat yang bisa memanusiakan manusia!"
Axel menggandeng tangan Aiptu Leticya yang refleks menoleh ke arahnya. Aiptu Leticya tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun pada pria berpakaian wanita yang ada di sampingnya.
"Ekhem ...." Bharada Jun berdehem membuat Aiptu Leticya segera menundukkan kepala.
__ADS_1