Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
82. Mana Aziel?


__ADS_3

Axel menyadari pemuda yang bertanya terhadap para ibu-ibu tadi berjalan ke arahnya. Ia memilih untuk segera berpindah masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf, Mas. Boleh bertanya?"


Terlambat, pemuda itu telah berada dekat dengan posisinya. Axel pun berlaku seolah tak mendengar dan terus bergerak masuk ke dalam rumah.


"Maaf, Mas? Mas? Mas?" Suaranya terdengar semakin meninggi berharap pria yang didatanginya itu memberikan respon.


Mendengar sorakan orang dari luar sana, membuat Yuvi heran mengapa sang suami kali ini bersikap tak acuh terhadap kedatangan orang tersebut. Ia pun hendak beranjak keluar untuk mendekat.


Akan tetapi, sang suami menahan langkahnya, menggeleng pelan dan memberi tanda telunjuk di bibir.


Beberapa waktu, akhirnya pemuda itu memilih untuk pergi. Tak terdengar lagi suaranya memanggil-manggil sang pemilik rumah.


Setelah memastikan orang tadi, tidak lagi berada di depan rumah mereka, Axel tampak sedikit lega. Namun, matanya masih awas, melihat ke arah luar.


"Kenapa Mas? Kenapa tamu dibiarkan begitu? Bukannya itu gak sopan?"

__ADS_1


"Sesekali boleh, Yang. Jika ada seseorang yang kita anggap mencurigakan." Axel melirik ke arah dapur, hidungnya kembang kempis seakan mencium aroma asap yang pekat.


"Masih masak, Yang?" Axel bergerak cepat menuju dapur, dan ... benar, asap hitam mengepul dari sebuah wajan yang masih menyala.


Axel mematikan kompor, sementara Yuvi menutup mulutnya dengan mata yang membulat. "Maaf ... aku kelupaan gara-gara ada yang manggil-manggil di luar tadi."


"Nanti, kalau kamu mengerjakan sesuatu, lebih baik apinya dimatikan dulu. Ini udah keberapa kali menemukan kayak gini. Lain kali hati-hati. Ini bahaya banget." Axel menarik pipi Yuvi menggoyangnya beberapa kali sehingga membuat kepala Yuvi menggeleng juga.


"Nanti bisa kebakaran dan rumah ini bisa hangus ya?"


"Jika rumahnya hangus, bagiku ga masalah. Yang aku khawatirkan itu kamu. Kalau wanita panik, dia akan menjadi ceroboh dan bisa melukai diri sendiri. Aku tidak mau kamu kenapa-napa."


Axel mengangkat bahu. "Entah lah ... karena kita gak pernah pacaran secara nyata. Kita hanya saling merindu lewat udara." Axel membelai rambut istrinya dengan kasih sayang.


Sesaat, matanya terbuka menyadari ada yang kurang saat ini. Kepala Akel mulai liar melirik ke segala sisi. "Mana Aziel?"


Yuvi melepaskan pelukannya dan turut liar mencari sosok yang ditanyakan. "Tadi dia ngikutin kamu lho? Apa gak liat dia main di halaman samping?" Yuvi mulai mencari di mana bocah yang selalu mengawasi langkahnya.

__ADS_1


Ia keluar lewat pintu belakang sembari memanggil-manggil nama Aziel. Akan tetapi, tak terdengar sahutan dari bocah yang dicari. Yuvi menyusuri bagian depan rumahnya melihat ibu-ibu yang masih belanja sayuran sama abang-abang gerobak sayuran.


Saat melihat tetangga baru muncul, salah satu ibu muda tersebut menyapa Yuvi. "Mencari siapa, Mba?"


"Oh, Aziel Mba? Apa melihat Aziel main keluar?"


"Oh, anaknya bernama Aziel ya Mba?" tanya salah satu mereka yang lain.


"Iya, tadi kayaknya dia ngikutin suamiku jemurin pakaian. Tapi, setelah itu gak kelihatan lagi."


"Tapi, kami nggak lihat anaknya keluar kok, Mba. Hanya lihat suaminya aja yang pergi waktu ditanyain orang tadi." terang salah satu ibu muda disambut anggukan yang lain.


"Oh, ya ... makasi ya Mba, atas informasinya. Kalau begitu, saya mencarinya ke dalam rumah." Yuvi bergerak ke dalam rumahnya.


"Tunggu, Mba ... ayo ngumpul dulu di sini? Ngobrol dulu sama-sama."


"Oh gitu ya Mba? Nanti kalau suami saya udah balik ke kantornya, saya akan gabung bersama Mbak-Mbak semuanya." Yuvi kembali masuk mencari Aziel.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2