Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
85. Mengejar Para Penculik


__ADS_3

"Mana wanita itu? Kenapa tidak ada yang mengawasinya?" geramnya.


Pada rekaman masih terlihat aktifitas orang-orang yang berada pada layar. Pria tadi sepertinya mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang yang entah siapa.


Tak lama kemudian, pria itu mengeluarkan sesuatu. Itu adalah pekerjaan yang sangat dihapal oleh para pria berpakaian hitam yang berada di sekitar Arsen.


"Tuan Muda dalam bahaya!" ringis salah satu dari mereka.


Dan benar, pria itu membekap anak-anak tersebut dengan sesuatu yang ada di tangannya. Tak lama, para bocah itu menegang tak bergerak. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil box bewarna hitam muncul. Beberapa orang keluar mengangkat mereka semua.


Tangan Arsen mengepal dengan kuat menonton kejadian tersebut. "Kejadian itu sudah berapa lama?"


Sang operator menengok waktu yang tertulis. "Sekitar dua jam yang lalu, Boss."


"Cepat telusuri! Ke mana mereka membawa anakku? Di mana wanita itu yang sudah berjanji menjaga anakku?"


Tak lama, suara hentakan membuat semua yang menyaksikan rekaman tersebut tersentak kaget. Arsen meninju meja, tempat rangkaian komputer tadi berdiri.


"Cepat lakukan! Kenapa hanya diam?" Suara Arsen menggelegar membuat orang yang menyaksikan menundukan wajah ciut dan ketakutan.


Hacker tersebut segera menandai kendaraan yang tadinya terekam. Dengan kelihaiannya dalam mengoperasikan perangkat lunak tersebut, beberapa aplikasi digunakan sang hacker untuk menemukan nomor polisi kendaraan itu.

__ADS_1


Akhirnya, kendaraan itu ditemukan pada sebuah jalan yang ramai. Mobil itu sedang tersendat karena mengalami kemacetan menuju luar kota.


"Cepat kejar bajingan tengik yang menculik anakku itu! Aku tak peduli dengan yang lain! Tapi, awas mereka jika Aziel kurang seujung kuku saja." Arsen memasang wajah dingin dengan amarah yang tak bisa dibendung lagi.


Di dalam mobil box tersebut, anak-anak tadi terikat di dalam karung. Seorang pria sedang melakukan panggilan dan terlihat puas.


"Hari ini gue mendapatkan banyak anak yang bisa dijual, Boss. Bayaran gue harus mahal! Jika tidak, gue akan menjual mereka sendiri."


" ..... "


"Baik lah ... deal!"


*


*


*


'Baru beberapa menit pergi, dia udah kangen aja.' Axel menghubungi istrinya kembali. Menunggu panggilan dijawab dengan wajah sumringah.


Beberapa waktu, ternyata panggilan tidak terjawab. Orang yang dipanggil sedang memberikan keterangan kepada kepolisian mengenai kronologi kejadian kasus menghilangnya empat bocah usia pra sekolah secara bersamaan.

__ADS_1


"Kenapa tidak dijawab?" A el menengok pada layar ponsel tanpa jawaban tersebut.


*


*


*


Sebuah jeep wrangler melesat cepat menuju titik di mana para bocah sedang dibawa oleh komplotan lain yang ternyata memiliki pekerjaan yang sama dengan komplotan mereka. Namun, komplotan ini memiliki target khusus anak-anak.


Beberapa pengendara motor melesat lebih dahulu karena bisa menerobos kemacetan dengan leluasa.


Kondisi jalan yang ramai, membuat mereka tidak bisa bergerak begitu saja. Saat ini, mereka hanya bisa memantau ke mana arah perjalanan mobil box yang membawa sang Tuan Muda.


Arsen masih berada di bagian belakang, sama halnya dengan kendaraan lain yang terjebak macet.


Mobil box tadi telah lepas dari kemacetan, sehingga sudah bisa bergerak dengan sangat cepat menuju suatu tempat di mana menjadi lokasi penampungan korban-korban cilik itu.


"Cepat eksekusi mereka! Jangan biarkan mereka pergi lebih jauh lagi!" Arsen memberi titah dengan suara tegas.


Meskipun di dalam hatinya tengah ciut ketakutan akan bayangan hadiah dari istrinya dalam keadaan bahaya. Namun, ia hanya bisa memperlihatkan sisi batu yang telah ia bentuk selama ini.

__ADS_1


Para anggota yang mengikuti dengan sepeda motor telah tepat berada di belakang mobil box yang melesat cepat. Salah satu pengendara motor melesat cepat mendahului mobil box itu, melemparkan duri-duri terbuat dari baja. Membuat kendaraan yang melesat cepat itu oleng dan berputar 360 derajat.


..........


__ADS_2