Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
25. Mabuk Kendaraan


__ADS_3

Dalam benaknya, dengan sekejap terlintas kembali wajah pria yang saling bertatapan dengan Mila. "Dia tidak boleh bertemu lagi dengan pria itu!"


Mata Arsen, kembali pindah pada perut Mila. Ia hanya tersenyum tipis merencanakan sesuatu.


*


*


*


Sebuah kendaraan melintas dengan sangat cepat menyusuri jalanan hitam.


Beberapa meter tak jauh di belakang, kendaraan Axel melaju cepat menuju suatu lokasi yang begitu ia ingat.


"Pak, itu!" seru Bang Ron menunjuk sebuah kendaraan yang kini berada tepat di hadapan mereka.


"Jadi itu, mereka?" tanya Axel memastikan. Bang Ron mengangguk pasti, teringat ia melihat Doni dibawa masuk ke dalam kendaraan tersebut.


"Pasang sabuk dan pegangan yang erat!"


Kedua penumpang tersebut menganggukkan kepala memasang sabuk pengaman sesuai perintah. Gas diinjak dengan dalam dan speedometer terus bergerak naik menunjukkan angka kecepatan kendaraan itu saat ini. Briptu Gilang yang mengikuti di belakang turut menambah kecepatannya dan mengikuti kendaraan yang dibawa oleh rekan kerjanya.


Kano, sang pengendara menyadari bahwa mereka sedang diikuti oleh sebuah kendaraan yang berada tepat di belakangnya. Kano memperdalam menginjak pedal gas membuat jarum pada speedometer bergerak naik.

__ADS_1


Kejar-kejaran pada kendaraan tersebut itu pun terjadi. Briptu Gilang menempelkan lampu rotator yang berkelap kelip berwarna biru dan merah di atas ata mobilnya. Setelah itu menekan tombol sirine yang mengeluarkan suara nyaring.


Hal ini membuat orang-orang yang berada pada posisi paling depan mulai kelabakan. "Ada polisi! Gawat! Kenapa bisa ketahuan?" rutuk Kano terus memantau lewat spion mobilnya.


Melihat jalanan yang padat ke lokasi yang mereka tuju, membuat Kano memilih membanting stirnya berbelok cepat pada sebuah persimpangan. "Kita tidak boleh ke rumah sakit dulu untuk sementara waktu!"


Anggota lain yang ada dalam kendaraan tersebut menganggukkan kepala. Salah satu dari mereka tengah memegang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun yang tertidur dengan sangat pulas.


"Ck, Briptu Gilang pakai memberi aba-aba segala. Mereka jadi kabur semakin jauh kan?" rutuk Axel mengikuti arah kendaraan penculik.


Kendaraan yang berada tepat di hadapan mereka terus melaju dengan secepat kilat. Ia turut mengatur posisi supaya tidak terlalu jauh ketinggalan. Sejenak, Axel melirik dua remaja yang terlihat mulai pucat dengan kecepatan kendaraan yang dibawanya.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya untuk memastikan.


"Kalian mabok ya?" tanya Axel kembali.


Kedua remaja itu menggelengkan kepala meski apa yang mereka rasakan berbeda.


Selepas itu, Axel mulai melanjutkan pengejaran dan ternyata, kendaraan tersebut telah jauh meninggalkan mereka. Axel kembali menginjak pedal gas dengan cukup dalam, speedometer pun kembali merangkak naik.


Mobil yang dikendarai oleh Axel pun melesat dengan cepat. Mobil yang mereka kejar, tak sedikit pun memberikan tanda bahwa mereka akan menghentikan kuda besi tersebut meskipun mereka tahu, saat ini sedang dikejar.


Kano menginjak pedal gas ditambah bantuan kekuatan turbo yang memfasilitasi mobil yang ia kemudi.

__ADS_1


bruum


bruuum


bruuuuum


Kendaraan itu melesat dengan lebih gila lagi dibanding sebelumnya. Sehingga, orang-orang yang mengejar mereka ketinggalan cukup jauh dan semakin tidak bisa mengikuti kecekatannya dalam menyetir.


Di dalam kendaraan Axel, salah satu remaja yang telah pucat, tak lagi bisa menahan gejolak dari dalam perutnya.


"Huweeek ... huweeek ... huweeee." Ron mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.


Axel mengernyitkan dahi, lalu memasang lampu hazard sebagai tanda ia ada masalah. Terdengar klakson beberapa kali dari Briptu Gilang, mengambil posisi untuk menggantikannya dalam pengejaran.


Axel membalas klakson satu kali dan menghentikan kendaraan roda empat yang dibawanya ini. Melihat mobil yang dibawa oleh Briptu Gilang terus melaju semakin jauh. Axel pun menekan tombol off pada pendingin udara. Sesudahnya, ia menurunkan semua jendela kendaraan tersebut dan membiarkan udara bebas masuk ke dalam ruangan yang telah dipenuhi oleh aroma masam muntahan Ron.


"Kamu tidak apa?" Axel memutar tubuhnya melihat kondisi pada bagian belakang.


Beni segera membuka pintu mobil, dan ia pun berlari menuju selokan kecil yang tidak jauh dari posisi si kuda besi berdiri.


"Huweeek ... huweeek ... huweeeek."


Kali ini, giliran Beni yang memuntahkan semua isi perutnya. Selain ia telah berat menahan gejolak dari lambungnya sendiri, aroma masam muntahan Ron membuat keadaannya semakin memburuk.

__ADS_1


__ADS_2