
Semua yang ada dalam ruangan sang direktur utama rumah sakit tersebut tertunduk setelah mendapat bentakan dari orang yang membayar mereka.
Arsen memandangi jam pada tangannya dengan gusar. "Tenggat waktu yang saya janjikan sudah semakin dekat. Lalu saya harus bagaimana? Kalian mau mempermalukan saya?"
"Setidaknya, organ anak tadi bisa menjadi tabungan bila ada yang membutuhkannya, Boss," ucap Kano.
Arsen menerawang menatap plafon ruang kerjanya. Terdengar dengkusan dari hidungnya lalu membuang mukanya. "Masalahnya, waktu yang saya janjikan kepada Bapak Setto sudah semakin dekat. Kalian tahu dia itu siapa? Dia itu orang yang berpengaruh dalam membangun gedung-gedung pencakar langit di kota ini! Dia menjanjikan lima miliar untuk sebuah jantung yang bisa diberikan kepada anaknya! Belum lagi biaya bedah yang bisa menjadi pemasukan yang bisa membayar kalian."
Arsen berjalan memutar tubuh menuju jendela. "Sekarang, saya beri waktu satu jam untuk mencari calon pendonor yang baru!"
"Lalu, anak itu mau kita apa kan, Boss?" sela Kano.
Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Seperti yang kau katakan tadi, saya pikir memang bisa jadi tabungan buat nanti jika ada pasien di bawah umur yang mau membayar kita dengan mahal."
Kano mengangguk. "Baik lah, kami akan segera mengulangi pencarian!"
Tanpa menunggu jawaban dari Arsen, orang-orang berpakaian hitam tersebut memilih untuk meninggalkan ruang kerja Arsen. Arsen memandangi suasana mendung di luar rumah sakit. "Mereka harus mendapatkan satu orang menjelang hujan turun," gumamnya lagi.
Arsen pun teringat pada Mila yang sedang diperiksa oleh Liani. Ingatannya pun bergerak pada waktu lampau yang membawa dirinya bertemu dengan seseorang yang terus menatap Mila dengan panjang. Ia memejamkan mata, pada dahinya tersirat kerutan halus.
"Bagaimana jika ia mengingat dirinya sendiri? Aku harus bagaimana?"
Tengah asik merenungkan sesuatu, Aziel pun sibuk bermain mengelilingi rumah sakit tanpa pengawasan. Karena ia dilarang mengganggu Mila yang dalam pemeriksaan. Ia memilih untuk menyusuri koridor, panjang yang berada di bagian belakang rumah sakit.
__ADS_1
"Mama lama sekali, Aziel kan bosan?" Kepalanya melirik sisi kiri dan sisi kanan bagian belakang gedung rumah sakit. Ada taman kecil di sepanjang koridor. Akhirnya, ia sampai di penghujung koridor rumah sakit tersebut.
Netra terang dari mata Aziel menangkap sesuatu yang aneh pada bangunan yang jauh terpisah dari gedung utama. Sebuah kantung berwarna hitam berukuran sangat besar bergelantungan keluar dari jendela. Aziel mendekati jendela itu.
"Halooo, ini apa Om?" Aziel dengan begitu saja menyimpulkan bahwa orang yang tertutup sepenuhnya dengan hazmat itu adalah seorang pria. Karena memiliki tubuh yang sangat tinggi.
Axel yang berada di dalam Hazmat itu terperenjat karena aksinya baru kedapatan oleh seorang anak kecil.
"Aziel? Kenapa kamu ke sini?" Axel segera melompat keluar dari jendela. Ia pun menutup jendela tersebut.
Aziel masih menatap panjang pada seseorang tinggi yang mengeluarkan kantong hitam. Terlebih, ada yang aneh di kantong tersebut. "Ini kantong apa, Om? Kok banyak bolongnya?"
Axel mengangkat pengikat kantong hitam besar itu, lalu memapahnya untuk naik ke punggungnya. "Ini ada benda penting yang harus Om bawa pergi. Tadi, Om diperintah oleh dokter."
Dalam ingatan Axel, langsung terlintas siapa yang dimaksud papa oleh Aziel ini. "Iya, ini papa kamu yang nyuruh."
Axel bergerak cepat memilih jalan lain memutar keluar tanpa melewati koridor. Aziel yang penasaran pun terus mengikuti Axel dan langkah mereka pun sampai pada parkiran luas bagian depan rumah sakit. Acel sedikit kesulitan mencari kunci kendaraannya yang terparkir dekat beranda depan.
Hazmat swit masih menutupi seluruh tubuhnya. Ia pun melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keadaan lagi. Pria dalam balutan hazmat itu meletakkan kantong besar berwarna hitam di atas rumput taman di pinggir parkiran.
Axel duduk berjongkok tepat di hadapan Aziel. "Aziel, janji sama Om ya? Jangan kaget, dan jangan kasih tahu siapa pun bahwa Om seperti ini ya?"
Aziel melongo, lalu menganggukkan kepala. Axel segera menarik resleting hazmat itu dan melepaskan jubah penutupnya. Rambutnya telah basah, dan pelipisnya pun meneteskan keringat yang banyak. Tidak hanya itu, ia pun melepaskan masker yang semenjak tadi membuat napasnya sedikit sesak.
__ADS_1
"Huuuaah, akhirnya lega!"
Seperti apa yang diperkirakan, Aziel terkejut melihat siapa yang berada di balik pakaian astronot itu. "Oooom?" Wajah Aziel sumringah dengan seketika.
"Sssttt!" Axel memberikan petunjuk jemari di bibirnya. Ia menuntaskan menarik pakaian pelindung yang digunakan para tenaga kesehatan ini, ketika wabah corona melanda negara ini beberapa waktu lalu. Hazmat itu kini telah lepas, dan ia segera memasukkannya ke dalam tong sampah yang berada tak jauh dari posisi mereka.
Axel mengedipkan matanya. "Janji untuk tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun yaaa?" Ia mengusap kepala Aziel, yang mengangguk cepat.
Axel mencari kunci nya dan kembali mengangkat kantong hitam tadi berjalan untuk lebih dekat dengan kendaraannya. Ia menekan tombol pada remot kendaraannya hingga terdengar suara siulan.
Tanpa berpikir panjang, ia memasukkan kantong hitam tersebut masuk ke dalam kendaraan roda empat miliknya.
Hawa mobil itu terasa sangat panas, ia segera membuka kantong besar itu, dan menidurkan anak yang baru ia temukan pada bangku tengah. Setelah itu, Axel menyalakan mobil dan pendingin udara.
Aziel yang memperhatikan semenjak tadi melongo menatap gerakan demi gerakan Axel yang membuatnya takjub. "Itu siapa, Om? Anak Om?"
Axel terkekeh mendengar pertanyaan Aziel barusan. Ia menggelengkan kepala merasa lucu membayangkan dirinya yang memiliki anak sebesar ini. Setelah udara di dalam kendaraannya terasa nyaman, Axel menutup pintu mobil. Meskipun deru halus pada kendaraan roda empat itu yang masih terdengar, menyala.
Axel kembali mengacak rambut Aziel. "Om ini—"
"Aziel?" Seorang wanita menghentikan ucapannya. Mereka berdua serempak menoleh kepada pemilik suara.
"Aaah ...." Tanpa sadar, Acel tersenyum akan kehadiran wanita itu.
__ADS_1