
"Papa cepat pulang yaaa ...." Aziel turut melambaikan tangannya, dibalas acungan jempol dari Axel.
Aziel memandang sebuah kendaraan yang terparkir tepat di pinggir jalan depan rumah mereka. Aziel menatap panjang pada kendaraan itu. Entah kenapa, kakinya ingin melangkah mendekati kendaraan yang tepat berdiri di depan rumah mereka.
Yuvi menahan langkah Aziel segera menggandeng tangannya. "Kamu mau ke mana? Lambaikan aja tanganmu!"
Aziel mengangguk dan melambaikan tangan, tetapi bukan ke arah mobil Papa Axel. Wajah Aziel terus menatap pada kendaraan yang berdiri tepat di depan pagar rumah ini.
"Nah, ayo ... masuk dulu!" Meskipun Yuvi merasa heran, ia terus menarik tangan Aziel.
Aziel masih melambaikan tangan ke arah kendaraan itu.
Tanpa mereka ketahui, di dalam kendaraan tersebut, berisi orang-orang yang memantau keharmonisan keluarga kecil tersebut.
"Mereka benar-benar menjaga Tuan Muda dengan baik, Boss. Jadi, Boss jangan khawatir!" Kano memperhatikan seseorang yang membisu menyaksikan seorang anak yang seolah melambaikan tangan padanya.
"Anda terlihat sedih, Boss. Apa Tuan Muda kita bawa sekarang aja? Dia terus melambaikan tangan ke arah kita."
__ADS_1
Orang yang ditanya masih membisu menatap rumah itu. Sosok yang selalu menjadi alasannya untuk berjuang, seakan menyadari kehadirannya. Baginya, Aziel terlihat sangat bahagia berada bersama mereka. Ia tak pernah melihat keceriaan itu selama bersamanya.
Entah kenapa, ada rasa iri kepada sosok pria yang baru dikenal oleh anaknya, tetapi hubungan mereka melebihi kedekatan saat bersamanya selama ini.
"Sekarang bagaimana, Boss? Apa perlu kita bawa pulang Tuan Muda sekarang juga? Saya tahu, Anda pasti sangat merindukannya." Kano melirik seseorang yang masih menahan rasa sakit pada pundaknya yang baru saja menjadi sarang timah panas.
Sesaat usai pengeluaran peluru yang bersarang di tubuhnya, ia masih belum ingin beristirahat. Meskipun ia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung, tetapi semuanya tahu Arsen sangat menyayangi sang buah hati
Kano tak sabar lagi, membuka pintu. Dia ingin bergerak sendiri untuk menjemput Aziel dari tangan Yuvita.
"Tunggu! Kau mau apa?" ucap Arsen membuat langkah Kano terhenti.
"Tidak usah, biar kan saja!"
"Apa Anda yakin? Bagaimana pun, dia adalah putra kesayangan yang telah kalian nanti selama ini. Apa hanya begitu saja melanjutkan perjuanganmu selama ini?" Kano kembali masuk dan duduk pada posisi awal.
Arsen menengadahkan wajah, menjepit bibir, memejamkan mata. "Aku rasa, aku tak membutuhkan komentar darimu."
__ADS_1
Kano terdiam sejenak. Ia menyandarkan diri bertopang pada kedua tangan di sandaran jok kemudi. "Yah, emang bukan urusan saya sih. Terserah juga. Saya hanya sekedar memberi saran.
"Untuk saat ini, biarkan aja dulu. Jika Aziel malah dalam bahaya jika terus bersama mereka, maka kita harus membawanya."
Kano menghele napas panjang. "Baik lah. Kalau begitu, sampai kapan kita akan menunggu di sini?"
"Lebih baik kita pergi saja. Aku hanya ingin mengetahuai bagaimana keadaannya aja."
Kano mengagguk segera mengambil posisi dan berputar arah keluar dari perumahan ini. Mereka tidak menyadari, saat ini berpas-pasan dengan kendaraan yang membuat kondisinya memburuk seperti sekarang.
"Jadi di sini? Kau yakin?" tanya sang pimpinan komplotan penculik anak itu.
"Waktu itu, kami di sini Boss. Tapi, kami tak tahu anak mana yang dimaksud dengan putra Dokter Arsen itu."
"Apa sudah kau cari profil datanya?"
"Sudah, Boss. Tapi data mengenai keluarganya benar-benar disembunyikan dengan sangat rapi." Salah satu anggota yang melalukan penculikan memberikan keterangan.
__ADS_1
"Apa kau bisa meluliskan sketsa keempat anak itu? Nanti kita akan melakulan uji autentifikasi berdasarkan kontur wajah Dokter Arsen. Tentunya, wajah Arsen itu bisa kita temukan di mana-mana." ucap ketua komplotan dan tersenyum sinis.