
"Ga tau, Boss. Mereka sengaja membuat ban kendaraan yang kami bawa meledak."
Sang ketua mengusap dagunya dengan kasar. "Bukan kah di dunia hitam ini kita tidak boleh saling mengganggu? Cepat cari tahu siapa mereka! Kita akan membuat perhitungan, agar mereka tidak mengganggu lagi."
Braaaaakk
Dinding gudang besar yang mereka tempati, tiba-tiba saja ambruk. Dari arah dinding ambruk itu, tampak bandul baja raksasa yang terikat oleh alat berat.
Percikan darah tersebar begitu saja. Banyak anggota yang berjejer di sekitar sana tertimpa oleh reruntuhan bangunan itu. Ada yang tewas di tempat, ada yang masih bertahan di ujung nyawa.
"To-tolong."
"Boss ... tolong kami ...."
Sang ketua bangkit dari kursi kebesarannya. Ia berjalan menantang alat berat yang membuat markasnya rusak.
"Siapa kau, keparat! Berani sekali kau mengganggu kami!"
Arsen turun dari kemudi alat berat itu. Wajahnya terhias senyum dingin menyugar rambutnya.
Wajah sang ketua terlihat tegang saat melihat wajah siapa yang baru saja memorak-porandakan markasnya itu.
"Ka-kau? Apa yang kau lakukan? Lancang sekali kau mengganggu kami!?"
__ADS_1
Arsen tersenyum dingin. "Oh, aku yang lancang? Lalu, kau menculik anakku itu tidak lancang?"
Sang ketua penculik anak tersentak. "Anak? Bahkan kami tidak tahu siapa anakmu."
Arsen tersenyum dingin. "Oh, begitu?" Arsen menandai pria yang menculik anaknya tadi.
Dari segi pakaian yang masih sama, Arsen menarik pemuda yang tadinya membius Aziel dan anak lainnya. "Ini orangnya!"
Arsen menarik pakaian bagian belakang pemuda itu lalu mendorongnya dengan kasar.
Bibirnya masih memamerkan gigi-gigi putih, dengan seringai lebar menatap semua yang ada di sana.
Arsen mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong kemeja hitam yang ia gunakan. Ia menatap dingin pada pimpinan penjahat itu.
"Lu mau apa dengan anak buah gue?"
Arsen kembali menyeringai. "Jadi, begitu?" Arsen melirik pada anggota lain yang telah siap dengan peralatan di tangan masing-masing. Semuanya memegang pentungan dan potongan balok yang didapat entah di mana.
Pimpinan penculik anak mundur, memberi aba-aba pada pasukan lainnya untuk menyerang. Sementara, ia segera masuk ke gudang persenjataan dan mengambil satu senapan.
"Khusus untuk kau! Kau adalah jatahku!" Ia kembali menyeringai menatap pria yang tadi memasukan anaknya ke dalam karung.
Tangan Arsen sudah tersiap sebuah benda kecil bewarna putih. Sebelumnya, Arsen melayangkan tendangan pada dada pelaku penculikan itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dokter keji itu menginjak dada si penculik dengan sepatu pantofel mengkilap yang melekat di kakinya. Tapak kaki ditekan memutar ke kiri dan ke kanan.
"Aaaagghh ...." ringis pilu terdengar keluar dari mulutnya.
"A-a---mpun ...." Napasnya tertatih menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Arsen membungkuk menarik rambut pemuda yang sudah menjadi target bulan-bulanannya kali ini. Dia kembali menyeringai dengan naluri pemb*nuhnya yang kuat. Arsen memamerkan benda yang ada di tangannya kali ini. Sebuah alat suntik yang di dalamnya telah terisi sodium thiopental.
"Kau tahu apa yang akan menantimu?"
Pemuda itu menggelengkan kepala. "Aaampuun ... aaampuun ... ampuni gue! Gue janji tidak akan melakukannya lagi."
Melihat reaksi pesakitan yang kini menjadi bulan-bulanannya itu, seringai kembali menghiasi wajah Arsen.
"Setelah zat yang ada di dalam ini menyatu dengan darahmu, bersiap lah ... neraka sudah menantimu!" Arsen menarik tutup alat suntik itu dan menancapkan pada bahu pemuda sang penculik.
"Sebenarnya sayang sekali organmu jadi tidak berguna, tapi ... untuk pembalasan seperti ini, pantas untuk bajingan yang berani menyentuh anakku!"
Arsen mendorong pria yang baru saja disiksanya secara perlahan. Seringai tak luput dari wajah dingin itu. Sekeliling tempat itu, anggota di bawah kepemimpinannya, sibuk menyerang sang tuan rumah.
Arsen berjalan kembali ke belakang. Karena, hanya itu yang diinginkannya.
Namun, terdengar lengkingan suara yang sangat nyaring, membuat semua orang yang sedang sibuk adu kekuatan, kini menghentikan aktivitasnya. Aroma ozon tercium kental dalam rongga pembauan. Pria yang tadinya berjalan dengan gagah, kini tampak meringkuk memegang bahunya.
__ADS_1