
Istrinya itu melepaskan pelukannya terhadap Aziel, lalu memutar badan menghadap Axel. Pipinya telah basah oleh air mata. Axel mengusap bekas air mata dan beralih membelainya dengan lembut. "Kenapa kamu menangis?"
"Dia sangat mencintai ayahnya. Entah kenapa, aku ikut merasakan rindu, tetapi aku tidak tahu sedang rindu kepada siapa."
"Apa karena kamu merindukanku?" tanya Axel mendekap tubuh istrinya.
"Entah, aku merasa hampa ketika Aziel tak berhenti menceritakan ayahnya tadi."
"Apa mungkin karena kamu juga merindukan orang tuamu?"
Yuvi beralih heran. "Apakah aku masih memiliki orang tua?"
"Tentu, hanya saja aku belum sempat memiliki kontak mereka, dan aku belum sempat ke sana lagi mencari mereka karena sibuk bekerja dan mencarimu. Aku tahu, mereka pasti sangat mengkhawatirkanmu."
Yuvi membenamkan diri ke dalam dada suaminya. Axel tersenyum penuh arti menarik dagu istrinya itu. "Pokoknya, malam ini ... kamu harus menemaniku melewati waktu yang terbuang sia-sia."
Perlahan, ia mendekatkan wajah dan mengecup bibir Yuvi. "Sudah sejak lama aku ingin melakukan ini padamu." Kecupan kembali jatuh pada bibir istrinya.
Yuvi memejamkan mata merasakan ada bayangan yang terlintas, saat mendapatkan kecupan yang sama, dari wajah yang sama, tetapi suasana berbeda. "Aah, kita pernah melakukan ini." Ia bangkit dan duduk menautkan kedua tangan pada leher suaminya.
Sekali lagi mereka saling bersentuhan bibir yang tadinya manis dan lembut, kini menjadi semakin dalam membelai dua benda yang ada di balik baju istrinya.
Des*han Yuvi membuat ia semakin dalam memainkan lidah istrinya. Membangkitkan gairah laki-laki yang dipendamnya selama ini. Rasa semakin lama menjadi semakin memuncak hingga kecupan itu menjadi semakin liar dan menuruni inci demi inci l3her jenjang dan mengh1sapnya bagai vampire yang kehausan.
__ADS_1
Di sela ringisan dan des*han, Yuvi menikmati permainan yang terasa tidak asing pernah ia rasakan.
Pak suami mulai merasa bergelora membuka pakaian yang tadinya masih melekat dan melemparnya dengan asal. Ia tidak sadar pakaiannya itu mendarat menutupi wajah Aziel yang sudah lelap dalam tidurnya.
"Ehmmm, barusan kamu—"
Mulut istrinya yang mulai bersuara kembali disumpal dengan serangan kecupan yang telah membara dalam gelora membelai setiap jengkal kulit yang ada di balik baju yang masih terpasang.
Kamar itu dipenuhi seni suara mendayu dan ringisan membuat seseorang yang tadinya terlelap merasa terganggu. Bocah yang tertutup oleh pakaian dilempar seseorang dalam buncahan asmara, berguling melayangkan kakinya pada pinggang Axel.
"Aww ..." Pria yang sudah di ubun-ubun itu tersentak kaget mendapat tendanganan dari bocah laki-laki yang baru saja tertidur.
Axel mengusap pinggangnya sembari meringis. "Keras juga tendangannya."
Lalu ia mengecek kembali Aziel, apakah dia terbangun atau sekedar ngelindur. "Dia masih tidur ternyata."
Axel menarik sang istri kembali dan mencoba membuka pakaiannya. Yuvita menahan pakaian tersebut, tak rela d1lucuti oleh Axel dan menggeleng canggung dan takut.
"Kenapa?" bisik Axel mengecup daun telinga Yuvi.
"Kamu mau apa?" rintihnya masih memeluk diri sendiri.
"Mau mengajakmu kembali pada masa kita menyelami indahnya malam." Axel mengecup perut Yuvi.
__ADS_1
"Agar kamu tahu, bagaimana proses bayi di dalam rahimmu ini terbentuk." Tangan Axel sudah mulai meliuk masuk ke dalam celah baju Yuvi.
"Aah, ... hmmmfff ... aku ..." d3sah Yuvi.
"Ssstttt ... nikmati saja ...." hembusnya pada telinga Yuvi. Ia kembali menjadi vampir yang menghisap perlahan pada l3her itu dan terus turun membantu Yuvi untuk rebah.
Drrrrttt
Drrrrttt
Ponsel Axel bergetar pada nakas di samping ranjang. "Ck!" decaknya kesal. Ada-ada saja yang mengganggu malam indahnya ini, hingga membuatnya memilih mengabaikan panggilan itu.
Axel melanjutkan permainannya, dan tak ingin sekian malam yang telah berlalu, kembali terlewati.
Drrttt
Drrrtt
Ponsel itu kembali bergetar membuatnya menatap benda itu dengan kesal. Ia meringsek turun menuju ponselnya, tanpa sempat melihat orang yang memanggil, ia memilih menolak dan non-aktifkan benda tersebut.
"Sayang, bersiap lah ... malam ini Papa mau menengokmu yang ada di dalam sana."
Axel membuas menarik pakaian istrinya dan melucuti semua tanpa sisa. Di sana terpampang perut yang mulai membulat, tetapi belum sempurna. Yuvita menutup wajahnya merasa malu dan takut akan kelakuan suaminya ini.
__ADS_1
Axel menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Ia menarik pakaian bagian bawah lalu membenamkan dirinya berdua di bawah selimut putih.
"Permen loli minta d1****," bisiknya mengecup kembali bibir wanitanya, tidak kuasa lagi menahan segala rasa.