Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
37. Brigpol Luki


__ADS_3

Dengan seketika sate yang tadi setengah kunyah dalam mulut seperti tak ada rasa di lidahnya. Gagang sate yang ada di tangan langsung diletak kembali pada tempatnya.


"Ma-maaf. Saya juga tidak tahu alasan makanan ini selalu saja terngiang dalam pikiran. Makanya saya beli keluar." Mila menundukan wajah, tak berani menatap wajah Arsen yang merah padam tak tau alasan.


Suasana hening mencekam beberapa waktu. Arsen masih menatap mereka secara bergantian dengan wajah amarah. Kegagalan saat Seto membawa anaknya Danisha keluar dari rumah sakit itu, membuatnya merasakan kerugian yang sangat besar. Apa pun itu, bisa membuat emosinya meluap. Apalagi ia tahu Mila keluar dari mansion ini.


"Jika kau masih ingin merasa tenang tinggal di sini, kau harus mengikuti peraturan yang telah kubuat. Jika tidak ... Hmmmfff." Arsen memilih tidak melanjutkan. Rasa amarah itu membuatnya balik badan dan meninggalkan kedua orang tersebut yang telah mengeluarkan keringat dingin.


"Huuufffttt ... sumpah, aku tegang banget," lirih Mila setelah memastikan Arsen menghilang dari pandangan mereka.


"Sssstt!" Telunjuk Bibi tepat berada di bibir dan menguncinya. "Habiskan makanannya dan kita berpindah lokasi." Bibi memberi peringatan tetapi, Mila menggelengkan kepala.


"Sepertinya, aku sudah kehilangan minat untuk memakan ini semua."


"Makan aja, Non. Perjuangan untuk membelinya saja, bukan sesuatu yang mudah," ucap Bibi lagi.


Akhirnya Mila menganggukan kepala. Mila menyuapi potongan demi potongan hingga semua habis meskipun makanan itu tak terasa nikmat lagi.


Bibi melihat tingkah Mila dengan menggelengkan kepala dan sedih. Ia merasa kasihan pada wanita yang tiba-tiba muncul bersama Aziel ini. Namun, bagaimana lagi. Melihat keakraban dengan Aziel, mau tak mau mereka harus menemain gadis yang diberi nama dengan Mila.


Pada sebuah kamar, Arsen mengernyitkan wajahnya. Kedua tangan mengusap kepala karena merasa sangat marah dan kesal. Mengetahui Mila diam-diam keluar mansion terasa sangat mengganggu pikirannya.


"Aaagghh!"


Arsen mondar-mandir di sekitar kamarnya. "Sial! Hari ini adalah hari yang paling sial dalam hidupku."


"Ini semua gara-gara si bangsat itu! Awas kau! Setelah ini, tak ada lagi ampun bagimu! Setelah semua organ dalam tubuhmu kujual, jasadmu akan aku cincang dan berikan pada anjing-anjing liar!"

__ADS_1


Arsen menyeringai dingin. "Dan, setelah itu ... Mila akan utuh menjadi milikku dalam ketidaktahuannya siapa kau sebenarnya."


*


*


*


Keesokan hari, Axel langsung mencari pimpinan divisi kriminal yang dikenal dengan Komandan Aji.


"Selamat pagi Komandan, apa saya bisa meminta partner dari pihak kepolisian untuk membantu saya untuk sebuah penyelidikan atas kasus klient saya?"


Wajah Komandan Aji yang berada di seberang terlihat heran. "Bukan kah, saya sudah memberikab Briptu Gilang kepada Anda?"


"Saya meminta sekitar dua orang lagi sebagai tambahan. Tidak hanya itu, saya juga akan meminta pihak kesehatan dari kepolisian untuk mendampingi sebagai ahli visum dalam penyelidikan ini."


"Oh, begitu ... kalau begitu datang lah ke kantor saat ini. Saya akan merekomendasikan beberapa orang yang sangat potensial," ucap Komandan Aji.


"Baik lah," ucap Komandan Aji setuju.


Axel segera menuju ke kantor polisi divisi kriminal. Ia memastikan bahwa orang yang tadi malam menerima laporan darinya sudah tidak ada di dalam kantor ini.


"Semoga orang itu, sudah pergi." Axel tak berhenti melirik segala bagian yang ia lewati dan segera memasuki ruang kerja Komandan Aji.


Komandan Aji menyambut Axel dengan sangat antusias. "Sepertinya, Anda akan menyelidiki sesuatu yang sangat besar. Saya mendapat laporan dari Briptu Gilang, bahwa kalian sempat melakukan pengejaran pada para penculik itu. Akan tetapi, mereka berhasil meloloskan diri."


"Pihak penyidik terus mengupayakan dalam melanjutkan penyidikkan ini, tetapi hingga saat ini kita belum menemukan titik terang."

__ADS_1


"Namun, kami sedang memantau sebuah rumah sakit yang menurut kami sedikit aneh," terang Komandan Aji.


"Rumah sakit Medika Jaya?" Mendengar penjelasan menggantung dari rekan kerjanya ini, membuat Axel begitu saja menyebutkan sebuah nama yang berada dalam pikirannya.


"Yap, benar! Tebakan Anda sangat tepat."


"Apakah Brigpol Luki, sudah melanjutkan laporan yang saya berikan tadi malam?" tanya Axel kembali.


Komandan Aji memasang wajah heran. "Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa kepada kami."


"Lalu, dari mana Anda tahu bahwa rumah sakit itu erat kaitannya dengan masalah penculikan ini?"


"Seperti yang saya katakan tadi, rumah sakit itu terlihat aneh. Rumah Sakit Medika Jaya sangat terkenal sebagai penyedia organ transplatasi terbesar di provinsi kita ini. Namun anehnya, surat keterangan asal organ yang mereka dapat, tidak bisa kami temukan kebenarannya."


"Secara diam-diam, kami masih melakukan penyidikan terhadap rumah sakit itu. Namun, tentunya tidak semua pihak kepolisian yang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang turun secara langsung saja yang mengetahui hal ini," terang Komandan Aji panjang lebar.


Axel mengangguk, ia setuju dengan cara yang dilakukan oleh Komandan Aji ini. "Karena di dalam setiap instansi, pasti ada salah satu atau dua orang yang tidak bisa dipercaya. Saya sangat suka dengan apa yang Anda lakukan."


"Tepat sekali! Namun, sebelum semua bisa terbukti, kami juga tidak bisa memberi tindakan kepada orang-orang seperti itu. Jika terbukti mengkhianati negara, kami tidak akan segan menanggalkan jabatan yang ia dapatkan selama ini."


Axel mengangguk, mulutnya ingin menyampaikan sebuah kecurigaan yang menggelut di dalam benak. Hanya saja, ia takut kecurigaan tak memiliki bukti itu, bisa menjadi boomerang hingga ia memilih untuk diam, tanpa menyampaikan dugaan tersebut kepada Komandan Aji.


"Saya akan menawarkan beberapa orang yang sangat kompenten dan kerahasiaan penyelidikan besar ini pun akan terjamin." Komandan Aji menawarkan beberapa orang yang bisa dipilih oleh Axel.


Wajahnya menegang saat salah satu di antara nama itu, tertulis nama Brigpol Luki. "Selain Brigpol Luki dan orang yang dekat dengannya, akan saya ambil. Pastikan bahwa dia tidak mengetahui penyelidikan ini," pinta Axel.


"Waah, sayang sekali ya? Padahal Brigpol Luki ini sudah sangat berkompenten. Namun, jika itu keputusan Anda, kami akan menerimanya."

__ADS_1


Komandan Aji memanggil orang-orang yang dipilih Axel dengan rahasia. Setelah briefing beberapa waktu, mereka keluar dari ruangan Komandan Aji.


Namun, tanpa mereka sadari ... orang yang mereka hindari menyadari ada misi rahasia yang dilakukan tanpa melibatkannya. Brigpol Luki, membuka ponsel dan kembali menghubungi sebuah narma.


__ADS_2