Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
104. Ulang tahun Dedek Dean


__ADS_3

Dua bocah tampan tengah di kerubungi oleh para gadis cilik teman sekelas mereka.


"Hai...namamu siapa?" Tanya salah satu gadis cilik yang tampak centil dengan pita besar bertengger di kepalanya.


"Rava Abinawa Darmanto." Menjawab lantang dan dengan mimik wajah sombongnya. Namanya juga anaknya papa Varell.


Gadis kecil itu kemudian beralih menatap bocah tampan yang berada di sebelah Rava.


"Kalau kamu, namanya siapa?" Masih tetap bergaya centilnya tersenyum-senyum malu.


Tidak ada jawaban dari bocah laki-laki itu. Rava menyikutnya dan memberi kode agar Rama menjawab pertanyaan gadis centil yang sedari tadi selalu tebar pesona di hadapan mereka berdua.


"Rama." Jawabnya singkat dan datar.


"Cuma Rama saja? nama lengkapmu apa?" Gadis kecil itu sepertinya begitu ingin tahu.


"Rama Verdianto Pratama."


Semua para gadis cilik yang mengerubungi dua kumbang cilik nan tampan tersebut, mulai riuh saling berbisik sambil tersenyum malu-malu.


"Namanya bagus-bagus ya! mereka juga ganteng."


Rani dan Maima yang sejak tadi memperhatikan kedua jagoan mereka bagaikan idola yang tengah di kerubungi oleh para fansnya. Kedua mama muda itu pun mengulum senyumannya.


"Ran, lihatlah dua jagoan kita!masih kecil saja sudah banyak fans-nya?"


Rani pun hanya mengangguk dan tersenyum sambil menatap kedua bocah tampan yang tampak berbeda dari murid-murid lainnya. Meskipun masih kecil namun mereka sangat tampan dan mempesona bagi siapa pun yang menatapnya.


"Mereka benar-benar titisan papa Varell dan papa Rangga."


Obrolan mereka terhenti ketika melihat kedatangan seorang wanita muda yang mengantar putrinya. Namun, yang menjadi perhatian mereka adalah seorang gadis cilik yang mengekori di belakang ibu dan anak tersebut.


Gadis cilik itu berpenampilan sederhana berbeda dari anak yang tengah digandeng mamanya yang berjalan lebih dulu di depannya.


"Naina, kamu duduk di sini dan jaga Cyntia ya!kalau kamu butuh apa pun, minta sama Naina ya,sayang!mama tinggal, nanti pak Sholeh yang akan menjemput kalian!"


Muach...


"Naina, jaga dan layani nona Cyntia ya!"


"Baik, nyonya Marissa!" Gadis cilik itu pun mengangguk mengerti.

__ADS_1


Rani dan Maima sangat terenyuh melihat gadis cilik tersebut. Sepertinya ia bukanlah anak dari wanita muda yang tadi mengantar mereka. Apa gadis itu hanya anak dari pelayan yang bekerja di rumahnya?


"eh, Ran.Kamu memperhatikan gadis cilik itu?cantik,ya? dan kelihatannya anaknya pendiam ataukah dia minder dengan teman-temannya yang lain? wanita yang tadi juga sepertinya kurang ramah pada anak itu, aku jadi penasaran deh,Ran?" Maima terus menatap intens Naina.Ya, gadis cilik itu bernama Naina.


Tak berapa lama terdengar bel tanda masuk, seluruh siswa Tk dan Paud mulai berbaris di depan kelas masing-masing.Setelah itu mereka pun masuk ke kelas dengan tertib dan berbaris teratur.


Para orang tua murid yang mengantar pun di persilahkan untuk meninggalkan wilayah sekolah. Begitu pun Rani, Maima dan Ayu. Mereka melangkah beriringan keluar dari gerbang sekolah menghampiri suami mereka masing-masing.


"Sudah? mereka tidak perlu di tunggu kan?" Varell bertanya pada Rani.


"Iya, jangan khawatir! mereka adalah anak-anak yang pintar dan pemberani. Malah jagoan cilikmu itu ya sungguh mencerminkan papa nya.Baru hari pertama sekolah, mereka sudah memiliki banyak fans para gadis cilik?"


Mendengar apa yang di katakan oleh sang istri membuat Varell merasa bangga. "Ya, wajar saja siapa dulu papa nya?"


"Iya...iya, tuan Varell yang tak ada tandingannya. Hot daddy!" –Zack


"Bagaimana? sudah selesai kan acara ngobrol santainya?sorry guys, gue duluan ada meeting jam 9 an!kalian kalau masih mau lanjut, silahkan!" Zack pamit undur diri,ia akan mengantar Ayu pulang lalu, akan langsung kembali ke kantor.


"Oke, silahkan! kita sudah mau balik juga,kok!" Kali ini Rangga yang menjawab.


"Para mama, kalau belum puas ngerumpi bisa di sambung nanti sore saja ya!" Varell terkekeh geli melihat wajah-wajah cantik yang mencebikkan bibir mereka, terlihat sangat lucu.


Dan mereka akhirnya membubarkan diri dan melaju dengan kendaraan masing-masing.


"Terus, memangnya kalau wanita itu bukanlah mamanya lalu, kalian mau apa?sudahlah, tidak usah mengurusi orang lain! nanti malah bisa menjadi salh faham karena terkesan kamu dan Maima mencampuri urusan pribadinya."


Rani pun mengangguk menanggapi perkataan dan nasehat dari sang suami.


"Emm...iya, kami cuma kasihan saja melihat anak semanis itu terlihat tidak bahagia di hari pertamanya sekolah. Baiklah, Rani ngak akan mengurusi urusan orang lain!"


Varell mengantar Rani ke rumah orang tuanya, karena sore nanti Doni dan Angela akan melangsungkan acara perayaan ulang tahun putra mereka, Dean yang ke 3 tahun.Hanya pesta sederhana yang hanya di hadiri oleh kerabat terdekat dan para sahabat saja.


"Selamat pagi Ma, maaf ya Rani kesiangan. Tadi kami juga menunggu Rava sampai masuk ke kelasnya."


"Iya, ngak apa-apa Ran! itu sudah ada bi Munah dan keponakannya yang baru datang dari desa. Mama Sandra menunjuk bi Munah dan seorang gadis muda yang tengah membantu memasak di dapur.


"Ayo, mama akan perkenalkan!" Mama Sandra dan Rani menghampiri bi Mudah dan keponakannya.


"Bi Munah,mbak, tolong kesini sebentar!" Mendapat panggilan mereka pun segera menghampiri sang majikan.


"Nah, ini Ran.Keponakan dari bi Munah yang akan bekerja di sini menggantikan Ani. Namanya Sri suwarni. Mbak Sri, ini menantu saya namanya Rani."

__ADS_1


"Hallo mbak Sri, semoga betah ya bekerja di sini?"


"Iya, nona Rani.Terima kasih!"


"Wah, nona Rani cantik sekali! sangat lembut dan ramah lagi."


Akhirnya semua persiapan acara telah selesai. Bersamaan dengan itu Rava pulang dari sekolahnya. Ya, mama Sandra meminta pak Anto supir pribadi keluarga mereka untuk me jemput sang tuan muda cilik.


"Mama...Rava pulang!" Rava langsung berhambur dan memeluk sang bunda.


"Eh, jagoan mama yang ganteng sudah pulang.Cape' tidak?" Dan di balas anggukkan oleh Rava.


"Kalau begitu, sekarang mas Rava mandi dulu ya!setelah itu ganti baju biar tambah ganteng!"


Muachh


Muachh


"Ih...mama, Rava kan sudah besar.Jangan cium-cium dong!kan malu?"


Mengusap kedua belah pipinya. Rani hanya tersenyum melihat tingkah putranya yang merasa sudah seperti orang dewasa saja.


"Iya...iya, maaf kan mama ya ganteng! ayo kita ke kamar!"


Di dalam kamar Varell.


"Ma, tadi ada teman Rava yang di bully sama yang lainnya. Kasihan deh, ma?!"


Saat ini mereka sudah berada di kamar mandi. Rani tengah menyabuni tubuh Rava. Sambil menyimak cerita dari putrany itu.


"Oh, ya? hmm...tapi, mas ngak ikut-ikutan membully teman mas itu,kan?"


"Ya, enggak lah ma, Rava kan anak baik!"


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya anak mama Rani dan papa Varell." Rani mencubit gemaa pipi Rava.


"Wah...asiknya yang sedang mandi.Loh, katanya mas Rava sudah besar dan bisa mandi sendiri?"


"Mas, kamu sudah pulang? Sebentar ya,mas.! ini Rava sebentar lagi juga sudah selesai."


"Oke, sabar menunggu kan, mau di mandiin sama mama juga?" Mengerlingkan matanya nakal.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2