
Seminggu sudah Maima tinggal di kediaman keluarga Darmanto. Maima merasa tak enak jika tidak melakukan apapun, padahal ia hanya menumpang untuk sementara. sampai ia mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.
Pagi ini Maima sudah berada di dapur membantu bi Munah memasak untuk sarapan pagi. Maima sangat bersyukur selama tinggal dirumah Rani, bayinya tidak rewel. Bahkan setiap pagi ia tifak merasakan mual sama sekali.
"Bi, nanti saya ikut makan bareng bi munah saja ya."
"Loh memangnya kenapa non? nanti kalau non Rani tahu pasti akan marah, non Maima seperti biasa saja ikut sarapan bersama keluarga ini."
"Enggak ah bi, saya malu. cuma numpang tinggal tapi, tak tahu diri. seperti majikan saja. saya dan bi Munah anggap saja kita sama bi."
"Apanya yang sama sih Mai?" Rani muncul tiba-tiba sambil menggendong baby Rava.
Maima jadi salah tingkah, tak tahu harus men jawab apa?.
"Eh, itu....bukan apa-apa kok Ran. hallo baby Rava, ayo sini! mau ngak di gendong sama onty Maima?" Maima merentangkan tangannya ingin meminta baby Rava untuk digendongnya.
Baby Rava mencondongkan badannya meminta untuk digendong.
"Baby Rava pingin ya di gendong sama onty Maima?" Rani kemudian menyerahkan baby Rava pada Maima.
"Ran, baby Rava aku bawa ke taman belakang ya?" Rani pun mengangguk dan Maima melangkah pergi menuju ke taman belakang ke sebuah gazebo.
Seluruh anggota keluarga tengah menikmati sarapan bersama. minus Maima, karena sedang berada di gazebo bersama dengan baby Rava.
"Ran, jadi benar kan kalau Maima sedang hamil? Apa Zack tidak mau bertanggung jawab? atau orang tuanya yang tak menyetujui hubungan mereka? karena setahu mama, mamanya Zack itu sangat menjunjung tinggi detajat dan martabat keluarga mereka."
"Kalau masalah itu Rani tidak tahu ma. nanti coba Rani tanyakan lagi pada Maima." Rani mencoba bersikap biasa saja, berpura-pura tidak tahu masalah yang sebenarnya.
"Sayang!" Varell menyentuh tangan Rani, memberi isyarat agar menceritakan hal yang sebenarnya. Namun Rani hanya menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Rell, Ran? apa kalian menyembunyikan sesuatu soal Maima?"
"Asal kalian tahu, Maima itu sudah mama anggap seperti putri mama sendiri. mama kasihan sama anak itu. apa perlu nanti mama bicara pada tante Sinta tentang masalah ini?"
"Eh, itu....jangan ma, nanti biar Rani sama mas Varell aja yang akan membantu menyelesaikan masalah Maima!"
"O....ya sudah kalau begitu. beneran ya kalian harus meolong Maima. mama kasihan pada nya, melihatnya mama jadi teringat Angela."
"Iya ma." jawab Rani dan Varell bersamaan.
Rani menyusul Maima yang masih berada di gazebo bersama baby Rava.
__ADS_1
" Mai, sudah kamu sarapan dulu sana! bayimu kan pasti sudah sangat lapar juga! sini baby Rava biar sama Rani."
Maima tak menjawab, ia hanya mengangguk dan berjalan masuk kedalam rumah. Rani menatap nanar punggung sahabatnya.
Maima sarapan di ruang dapur bersama dengan bi Munah. Maima makan sangat lahap, bi Munah senang melihatnya.
"Non Maima kenapa malah ikut sarapan disini? nanti kalau non Rani tahu pasti akan marah."
"Bibi ini gimana sih? kan sudah saya bilang kalau kita ini sama bi. tolong jangan panggil saya non! cuma bedanya bibi tinggal disini bekerja, sedangkan saya kan cuma tinggal sementara saja. saya juga tidak akan tinggal selamanya di rumah ini bi. Saya tida mau merepotkan siapapun lagi." Maima tertunduk sambil mengaduk-aduk makanannya yang berada di piring.
Bi Munah tidak mengatakan apapun lagi. ia juga kasihan melihat keadaan gadis muda itu.
‐--------------
Varell baru akan keluar kantor untuk meeting dengan salah satu client. Saat melangkah keluar gedung, ada seseorang yang memanggilnya.
"Varell tunggu!"
"Oh, elo Ngga. Ada apa? tumben banget nyari gue sampe ke kantor segala?" Ya orang itu ternyata adalah Rangga.
"Gue ada perlu sama elo Rell, bisa kita bicara?"
"Boleh, tapi maaf Ngga. gue baru mau meeting nih. gimana kalau sore aja. nanti gue hubungin elo lagi deh! gimana?"
"Oke deh, boleh juga." Akhirnya mereka pun berpisah, Varell pergi untuk meeting sedangkan Rangga kembali ke kantornya.
Sore itu, Varell dan Rangga pun akhirnya bertemu. mereka telah janjian di sebuah cafe.
"Apa ada yang ingin loe bicarain Ngga?" Varell langsung berbicara langsung ke intinya, karena hari sudah menjelang sore.
"Begini Rell, gue mau bicara jujur sama loe. Ini soal Maima."
"Soal Maima? maksud loe apa?" Varell berpura-pura tidak tahu.
Rangga menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya berat. Ia tak ingin lagi menutupi segalanya.
"Sebenarnya gue udah ngehamilin Maima, Rell. Dan sekarang gue ngak tahu dia ada di mana? gue mau bertanggung jawab dan menikahinya, karena sesuatu, maka terjadilah kesalahpahaman. Itu semua karena Zack yang bersikukuh ingin menikahi Maima. Mama jadi salah paham pada Maima, mengira kalau bayi yang dikandungnya adalah milik Zack bukan gue Rell."
"Trus, sekarang apa yang bisa gue bantu buat loe?" Varell jadi merasa iba juga melihat wajah sahabatnya begitu penuh penyesalan.
__ADS_1
Rangga menatap mata Varell penuh harap.
"Gue minta tolong kalau seandainya Maima ada minta tolong dan menghubungi Rani, gue mohon kabarin gue ya Rell. please!gue bener-bener menyesal atas semua yang terjadi sama Maima." Rangga kembali menunduk, terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
Varell jadi merasa kasihan juga melihatnya.Ia ingin sekali membantu sahabatnya itu dengan memberitahu keberadaan Maima, namun ia takut disalahkan oleh istrinya. Rani pasti akan sangat marah jika ia sampai membocorkannya.
"Gimana ya Ngga, gue sih mau bantu elo. Tapi, nanti gue takut Rani marah Ngga." Varell menggaruk tengkuknya.
Mendengar perkataan Varell, Ia sudah dapat menebak kalau saat ini Varell dan Rani mengetahui keberadaan Maima.
"Please Rell, gue mohon.kasih tahu dimana Maima sekarang. gue yakin kalian pasti tahu ka n?" Rangga sampai menangkupkan telapak tangannya memohon pada Varell
"Oke deh, sebenarnya gue ragu buat ngaaih tahu elo Ngga, tapi berhubung ini menyangkut kebaikan kalian berdua. terutama menyangkut masa depan anak kalian nanti."
"Jadi loe udah tahu semuanya Rell? apa Maima yang menceritakan semuanya pada kalian? please tolong kami?"
"Sebenarnya Maima menceritakan sendiri permasalahannya sama Rani. gue juga tahu dari Rani."
Varell menatap lekat pada sang sahabat, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Dengan penuh keyakinan akan keseriusan Rangga yang benar-benar akan mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Maima.
"Maima saat ini ada dirumah gue Ngga. Doni dan Angela tanpa sengaja bertemu dengan Maima yang tengah pingsan di jalan. mereka lalu membawanya ke rumah."
"Sorry Ngga, sebenarnya Maima sudah sangat putus asa. Kasihan Ngga, Maima itu gadis baik-baik dan elo yang udah ngerusak dia. Jadi sebelum elo bisa meyakinkan tante Herlina, tolong jangan menemuinya dulu. Jangan khawatir, Maima aman di tempat gue Ngga."
Rangga bisa bernafas lega mengetahui kalau Maima baik-baik saja. Ia akan segera memberitahukan kepada kedua orang tuanya, terutama sang mama.
"Baiklah, secepatnya gue akan menjemput Maima dan calon anak gue Rell. Thanks a lot ya bro. gue sangat bersyukur Maima enggak kenapa-napa."
"Tunggu aku ya Mai, aku akan segera menjemput kalian!" Rangga.
"Oke, gue tunggu kedatangan loe dan keluarga loe dirumah. Ingat, jangan bikin kesalahan dan menyakitinya lagi atau Maima akan semakin menjauh dari loe Ngga!"
Dengan langkah dan semangat yang menggebu , Rangga melangkah cepat memasuki rumah orang tuanya. Ia hendak mencari sang mama dan tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia tersebut.
"Ma....Maima sudah ketemu ma!"
"Apa? beneran Ngga? Alhamdulillah ya Allah. ayo Ngga kita jemput calon menantu dan cucu mama sekarang juga!"
Bu Herlina sangat bahagia, bahkan ia sampai menitikkan air matanya. Kemudian ia memeluk putranya.
__ADS_1
Tbc