
Sosok laki-laki tampan tegap menjulang tinggi tepat berada dihadapannya. Dia adalah Zack yang terlibat inaiden tabrakan tak sengaja dengan Maima di teras rumah keluarga Darmanto tadi.
Zack mengikuti Maima sejak gadis itu melewati ruang tamu ketika akan keluar. Wajah gadis itu tampak sendu walaupun ia selalu menebarkan senyum manisnya pada setiap orang, namun tetap tak bisa menipu apa yang sebenarnya sedang bergejolak dihatinya. Zack merasa kasihan, ia melihat ketika gadis itu selesai berbicara dengan Varell dan Rangga. Gadis itu melangkah sambil sesekali menyeka air matanya.
"Tu....tuan." Maima segera berpaling karena malu ada seseorang yang melihat keadaannya yang menyedihkan.
"Hi, kamu temannya Rani kan?tidak baik gadis manis sendirian ditempat sepi seperti ini. berbahaya loh."
" Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Zack." mengulurkan tangannya.
"Maima." menyambutnya dan merekapun bersalaman.Maima agak risih karena ditatap begitu dekat.
"Oke, Maima. sekarang kita sudah berteman bukan. kamu pasti belum tahu kalau aku juga salah satu sahabat Varell, kami berteman sejak SMA. Jadi kamu tidak perlu takut padaku." kembali teraenyum
"ini cowok senyam senyum terus, tapi memang tampan sih, jadi dia temannya kak Varell juga. sudah pasti dia kenal kak Rangga."
"Eh, iya tuan. aku teman sekampung Rani. kalau begitu aku permisi ya tuan."
"Hei tunggu dulu, kalau kamu tidak keberatan mari aku antar. ini sudah larut pasti sulit mencari kendaraan umum.jangan khawatir aku bukan orang jahat ." Maima pun menganggukkan kepalanya.
"Oke, kamu tunggu disini ya.aku ambil mobil dulu dirumah Varell. jangan kemana-mana!" Zack langsung melesat pergi kembali kerumah Varell untuk mengambil mobilnya.
Maima duduk dipinggiran trotoar menunggu zack. dan tak berapa lama muncul sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mendekatinya. Maima langsung bangkit berdiri dan memperhatikan zack yang keluar dari mobil itu lalu ia menghampirinya.
"Ayo, kita berangkat sekarang. nanti keburu malam!" Zack membukakan pintu mobil dan memperailahkan Maima untuk masuk.
Didalam mobil dengan orang yang baru dikenalnya membuat Maima canggung. ia tidak berani berucap satu katapun, hanya terdiam sambil memperhatikan lampu-lampu jalan lewat kaca jendela.
"Ehem... ngomong-ngomong, kemana tujuan kita sekarang? oh, maaf maksudku dimana rumahmu?" menggaruk pelipisnya, sadar telah salah berucap.
"Di daerah Pasar Minggu tuan, Pengadegan." hampir saja Maima salah tanggap karena mendengar perkataan ambigu Zack.
"Emm, bisa kan kamu jangan memanggilku tuan, aku ini bukan majikanmu loh. panggil aku kakak seperti kamu memanggil Varell dan juga Rangga. oke!"
"Ba...baik kak."
‐---‐-----------
Pagi harinya suasana kediaman keluarga Darmanto tampak ramai. semua anggota keluarga tengaj berkumpul dimeja makan untuk sarapan pagi. seperti biasa Celotehan dan candaan kedua kakak beradik itu menambah suasana ceria dipagi hari.
__ADS_1
"Kakak nih apa-apaan sih, aku ini ngak ada apa-apa ya sama kak Doni." mengerucutkan bibirnya
"Oh ya, ngak ada apa-apa ya? hmm....lalu yang selalu jalan bareng sama Doni siapa ya? apa kembaran kamu dek? kok mirip banget ya?" Ya, Varell pernah melihat sang adik dan sahabatnya Doni tengah berada disebuah Restauran. ketika itu ia tengah bertemu dengan salah satu klien bisnisnya. Hal itu membuatnya curiga karena dari gerak gerik dan gesture tubuh mereka terlihat jelas ada sesuatu yang spesial.
"ish...kakak ini, jangan ngada ngada deh." udah ah nanti aku telat. ma, pa, aku berangkat ya." mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Dada....kak Rani dan keponakanku tersayang." mengelus perut buncit kakak iparnya.
"Dan kakakku yang ganteng kayak awkuteng yang belum mateng. wekkkk....!!" langsung berlari tunggang langgang.
"Hei, awas nanti ya, ngak akan kakak kasih uang jajan kamu." Mama Sandra dan papa Tyo hanya menggelengkan kepala melihat keakraban kedua anaknya. sedangkan Rani tersenyum simpul dia sangat bahagia berada di tengah keluarga yang begitu harmonis dan penuh kasih sayang.
"Oh ya, Rell nanti setelah kontrol kandungan istrimu. mama mau menemani Rani berbelanja perlengkapan bayi dan lainnya. kalau kamu sibuk biar kami diantar sama pak sosro saja."
"Hari ini jadwalku senggang kok ma, pekerjaan di kantor biar di urus Doni."
" Begitu lebih baik, kau harus lebih memperhatikan istri dan calon anakmu. luangkanlah waktu lebih banyak untuk istrimu. jangan lembur terus. Jadilah suami siaga!" mama Sandra menasehati putranya.
"Iya mamaku tercinta. muachh....!" Ayo sayang kita berangkat sekarang! sudah tidak sabar mau bertemu dedek bayi." menggandeng sang istri.
"Hei....hei, tunggu mama. ck, anak ini."
---‐------------
Mereka sangat fokus melihat pada layar yang menampilkan sosok mahluk kecil yang bergerak-gerak lincah didalam perut sang ibu.
Rani sampai menitikkan air mata, Mama Rani pun begitu tak terkira kebahagiaan yang dirasakannya saat melihat cucunya yang sebentar lagi akan dibisa ditimangnya.
"Lihatlah sayang, itu bayi kita!" Varell sangat terharu dan bahagia melihat wajah anaknya yang terlihat jelas dilayar.
"Iya mas, dia begitu imut dan menggemaskan.lihatlah tangan mungilnya itu!"
"Nah, Bapak dan Ibu dan juga bu Sandar yang sebentar lagi akan menjadi eyang putri. Saat ini berat bayi sudah 1900 gr dan panjang 37 cm. posisi bayi masih sungsang ya bu, masih ada waktu untuk bayi berputar keposisi jalan lahir. Jadi nanti Ibu Rani harus berlatih dirumah ya. nanti suster akan mengajarkan caranya. Nah, bayinya sangat tampan ya seperti papa nya."
"Tampan? jadi maksud dokter bayi saya laki-laki?" tanya Varell. dokterpun mengiyakan.
"Lihat ma, anakku laki-laki. hebat kan ma aku." membanggakan dirinya sendiri.
"Ck....yang lebih hebat bukan kamu, tapi Rani. menantu tersayang mama. dia yang mengandung dan menjaga calon cucu mama."
__ADS_1
" Ya tidak gitu juga lah ma, yang mencetak kan kami berdua. tapi yang lebih bersusah payah dalam proses membuatnya ya putra tampanmu ini."
"Mas, ngomong apaan sih, malu tahu" wqjah Rani sudah mersemu merah ia malu dengan kelakuan suaminya.
"Iya iya, kang mas Varell yang terhebat." mama Sandra menggelengkan kepala.
Sebelum mereka meninggalkan ruangan dokter, tiba-tiba Varell berceletuk dan bertanya pada dokter. membuat Rani jadi bertambah malu.
"Sebentar dok, aku mau bertanya . kalau berhubungan badan rutin boleh kan dok?"
"Mas..." Rani rasanya ingin bersembunyi saja saat itu juga, ia sangat risih dan malu.
Dokter pun terkekeh mendengar pertanyaan yang biasanya jarang ditanyakan secara gamblang oleh suami pasien. (cuma si Varell yang kepo?)
"Maaf ya pak, kalau bisa jangan dulu. tunggu sampai masuk masa menjelang kelahiran. ya, kalau bisa jangan terlalu rutin, cukup 1 x dalam 2 minggu. kalau sudah mendekati hari H baru bapak boleh rajin menengok dedeknya. sudah mengerti kan pak Varell?"
Dokter pun terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. sedangkan Varell malah mengangguk sambil meringis.
"Plakk, ish kamu ini apa-apaan sih Rell. bikin malu aja. tuh lihat istrimu wajahnya sudah semerah tomat!" memukul lengan putranya karena kesal.
"hehehe....siap dok, terima kasih."
Merangkul pundak sang istri lalu melangkah keluar dari ruangan itu. sedangkan mama Sandra mengekori keduanya sambil menggerutu.
‐--------------
Mama Sandra dan Rani sedang asik memilih-milih pakaian bayi yang terliahat begitu lucu dan menggemaskan. membuat mama Sandra sampai kalap memborong baju-baju bayi laki-laki. ya karena tadi dokter telah memberitahu jenia kelamin cucunya.
"Ma, mama mau buka toko pakaian bayi ya?" Varell melongo melihhat kegesitan mamanya dalam memilah milih segala perlengkapan untuk cucu pertamanya. Padahal Rani biasa-biasa saja dan hanya bisa melihat kekalapan sang ibu mertua.
"Hush....diam kamu, ini kan untuk cucu kesayangan mama. cucu pertama penerus keluarga Darmanto. Jadi, stop. jangan banyak protes!"
Setelah puas berkeliling dari satu toko ke toko, akhirnya mama Sandra pun menyerah.sang calon eyang uti kelelahan dan juga kelaparan.Karena memang sudah waktunya makan siang. mereka memutuskan untuk lunch disalah satu Restauran. mereka begitu menikmati makan siangnya dengan hati yang bahagia. Tanpa tahu ada yang mengamati mereka dengan intens.
"Kau lihat sayang, dua wanita dan satu pria yang sedang makan disana!" bergelayut manja
"Iya, kenapa sayang?" menatap arah yang ditunjuk oleh sang wanita.
"Apa kau mau membantuku sayang, kalau rencana kita berhasil. kita akan kaya sayang. bagaimana? sini!" sang wanita pun membisikkan sesuatu pada kekasihnya. dan sang pria tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Oke, siap sayang. Rencanamu sungguh briliant, kau atur saja semuanya!" merekapun saling tersenyum penuh kelicikkan.
Tbc