
Hening seketika, tak ada satupun diantara mereka. Hanya terdengar isakan tangis Maima dengan tubuh yang gemetaran.
Zack menatap nanar gadis yang sangat dicintainya yang terlihat begitu menyedihkan. Ingin sekali ia merengkuh tubuh mungil itu kedalam dekapannya.
"Mai, yang kamu katakan itu tidak benar kan?" Tangannya terulur ingin menyentuh, namun langsung ditepis oleh Maima.
"Itu benar, jadi tolong lepaskan dan biarkan aku pergi. masih banyak gadis diluaran sana yamg lebih baik dan pantas untuk kak Zack. tolong buka pintunya kak, aku mau turun!"
Bukannya menuruti permintaan Maima, Zack malah kembali menjalankan mobilnya. kali ini dengan kecepatan sedang.
"Aku akan mengantarmu pulang ke kos-kosanmu, tapi kita harus tetap bicara!"
Maima hanya mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya pada jendela sambil sesekali mengusap matanya.
Akhirnya merekapun sampai. Maima membuka pintu mobil dan hendak turun. sebuah sentuhan pada lengannya membuat Maima menoleh kembali.
"Siapa yang telah mengambilnya Mai, katakanlah padaku! aku tidak akan mempermasalahkannya, aku akan tetap menerimamu apapun yang terjadi."menatap gadis itu lembut
"Sebaiknya kakak tidak perlu tahu, biar aku sendiri yang akan menanggungnya. kakak laki-laki baik, maaf dan tolong relakan aku untuk pergi kak!"
"Turunlah dan istirahatlah Mai, aku akan datang lagi besok pagi untuk menjemputmu! Jangan berpikir ataupun berbuat macam-macam!tunggu aku!"
Maima tidak menjawab, gadis itu langaung melangkah meninggalkan Zack yang masih menatap kepergiannya.
-‐-----------------
Didalam kamarnya, Maima memasukkan semua pakaiannya kedalam tas besar. Ia sudah bertekad akan pergi sejauh mungkin. Berbaring diatas tempat tidur pikirannya menerawang menatap langit-langit kamarnya.
"Mengapa nasibku jadi seperti ini? apa aku perlu memberitahu Rani ya? tidak, aku tidak boleh merepotkannya lagi.aku pasti bisa melalui semuanya seorang diri."
" Kini ada kamu bersama ibu nak." Mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.
Dipagi buta seusai sholatb subuh, Maima bèrgegas pergi dari kos-kosannya. sebelumnya ia telah berpamitan pada sang pemilik kosnya.
Susana jalan masih lenggang.Maima berjalan tanpa arah, ia bingung harus kemana? dan tanpa tujuan yang pasti. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, perutnya sudah meminta untuk disi. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti disebuah warung makan untuk sarapan pagi.
Sementara itu, tampak seorang pria tengah berdiri didepan pintu gerbang kos-kosan Maima. Ia menunggu pintu kamar itu hingga terbuka, namun hingga hampir setengah jam sang penghuni tidak juga keluar.
Akhirnya ketika ada salah seorang penghuni kos-kosan yang menempati kamar tepat disebelah Maima membuka pintu dan sepertinya hendak pergi bekerja. Ia pun berinisiatif bertanya.
"Maaf mbak, boleh saya bertanya?"
"Oh iya mas, boleh silahkan mau tanya apa?"
"Mbak kenal Maima, yang tinggal di sebelah mbak. apa dia ada?"
"Oh, Maima nya sudah ngak tinggal disini lagi mas. Tadi pagi-pagi sekali dia sudah pergi."
"Begitu ya. apa dia bilang mau pindah kemana?"
"Kalau soal itu, maaf mas saya tidak tahu. Maima itu walaupun anaknya supel, tapi agak tertutup mas kalau soal urusan pribadinya. Permisi, saya buru-buru sudah telat!"
"Oh iya, silahkan! terima kasih ya mbak!"
__ADS_1
Ketika hendak berbalik badan, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.
"Ngga ngapain loe disini?"
"Oh...e....eloe Zack, enggak gue cuma ada perlu aja sama Maima."
Rangga begitu terkejut karena ternyata Zack juga datang mencari Maima.
"Ada perlu apa? bukannya kalian dah ngak ada hubungan apa-apa lagi kan? jangan bilang loe mau dekeketin dia lagi?"
Zack menatap penuh selidik. Ia agak curiga dengan keberadaan Rangga dan ia juga bertanya-tanya akan maksud kedatangannya ingin menemui Maima.
"Bukan apa-apa, gue rasa loe ngak perlu tahu Zack?"
"Maksud loe apa gue ngak boleh tahu? apa loe dah ketemu sama Maima?"
Zack melihat kesekitar kos-kosan yang sudah tampang lengang, karena hampir semua penghuni telah berangkat beraktifitas.
"Ya, sudahlah Zack. ngak usah di perpanjang. lagian Maima sudah ngak ada. Tadi tetangganya bilang Maima sudah pindah dari sini?"
Mendengar Maima pergi, sontak membuat Zack panik. Ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Maima.Dan ternyata tidak aktif dan Zack bertambah khawatir, sejak semalam gadis itu terlihat begitu putus asa. bahkan sudah tak ingin memperjuangkan hubungan mereka. Bahkan Maima mengatakan bahwa ia sudah tidak suci lagi.
"Tidak aktif? kemana kamu Mai, kenapa tidak mau mendengarkanku sih?" Zack mengusap kasar wajahnya, ia menyesal telah mengantarnya pulang semalam.
"Gue tadi juga dah telpon dia Zack, memang sudah ngak aktif. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Rangga pun ikutan tak kalah panik.
Tanpa menjawab, Zack langsung melangkah pergi meninggalkan Rangga. "Ngga, gue rasa loe ngak perlu ngurusin Maima lagi. dia adalah tanggung jawab gue. apapun yang telah terjadi pada dirinya, gue tetep akan menerimanya." Setelah mengatakan hal itu, ia melanjutkan langkahnya kembali.
Rangga terdiam dan menatap Zack yang melangkah semakin jauh. ia berpikir sejenak, menangkap akan maksud dari perkataan Zack.
"Hallo, assalamuallaikum Ran."
""Wa'allaikumsalam. eh, iya kak Rangga. ada apa ya kak?"
"Ran, apa Maima menelponmu atau sekarang dia sedang bersamamu?"
"Maima? sejak terakhir Rani telpon sampai saat ini Maima belum menghubungi Rani lagi. memangnya ada apa sama Maima kak?" Rani terdengar mulai khawatir.
"Ya sudah ya Ran, nanti kalau Maima datang atau menghubungimu tolong kabari aku ya Ran!"
"Baik kak, kakak juga ya!"
Maima keluar dari sebuah warung makan setelah merasa kenyang. Ia kembali melangkah menelusuri jalan. Tiba di salah satu halte bis iapun rehat kembali, ia duduk dan mengaktifkan ponselnya. Karena sejak semalam ponselnya memang sengaja tidak diaktifkan.
Dari kejauhan Zack melihat sosok yang dicari dan juga begitu dirindukannya. ia langsung mempercepat laju kendaraannya mendekat pada Maima yang tidak menyadari akan kehadirannya.
"Maima!!"
Maima menoleh kebelakang, matanya melotot kaget melihat kemunculan Zack. Ia langsung mempercepat langkahnya sambil menenteng tas besarnya.
"Tunggu aku Mai, berhenti!" Zack terus mengejar.
__ADS_1
Grepp
Zack langsung merengkuh tubuh Maima. Sedangkan Maima terus memberontak ingin melepaskan dirinya dari dekapan laki-laki itu.
"Lepaskan aku kak! jangan ikuti aku, biarkan aku pergi." Semakin kuat Maima menolak, maka Zack pun bertambah nekat dan langaung menarik paksa Maima masuk kedalam mobilnya.
Brakkk
"Aku tidak menerima penolakan lagi darimu Mai, aku tidak ingin kamu pergi dariku lagi Mai! "
Maima pun akhirnya pasrah dan tak melawan lagi. karena ia tahu itu tak akan ada gunanya.
"Kita mau kemana kak?" Maima mencoba bertanya
"Kerumah orang tuaku."
"Untuk apa? Jangan seperti ini kak, tolong biarkan aku pergi. berhenti, aku mau turun kak!" Namun Zack malah melajukan mobilnya semakin cepat, hingga Maima sangat ketakutan.
Tibalah mereka didepan gerbang sebuah mansion mewah. Maima memandang takjub akan tetapi dadanya juga tak henti berdebar.
dag dig dug
Ketika mulai masuk dan sampai disebuah ruangan yang terlihat dua orang wanita yang sedang duduk di sebuah sofa sambil berbincang. Maima semakin gugup, merasa tak nyaman.
"Ma....!!" mama Sinta yang mendengar suara putranya langsung menoleh dan melihat Zack yang datang bersama seorang gadis.
"Zack, ada apa ini? kenapa tiba-tiba mengajak pacarmu itu kesini?"
"Dan juga ada apa kamu pagi-pagi sudah bertamu Tamara?" Zack terlihat tak suka akan kedatangan wanita muda itu.
"Tamara sedang ada urusan sama mama dan mama yang menyuruhnya datang." Mama Sinta membela Tamara.
"Ya sudah, aku akan membawa Maima untuk beristirahat. nanti Zack mau bicara sama mama dan papa."
Maima hanya terdiam dan menurut saja mengikuti langkah Zack yang membawanya ke lantai atas.
Sepeninggal Zack dan Maima. Tamara kembali bersiasat kali ini dengan menghasut mama Sinta agar membenci Maima.
"Maaf ya tante, bukannya aku mau ikut campur hubungan Zack dan wanita itu. Tapi asalkan tante tahu, dia itu bukanlah wanita baik-baik tante."
"Maksudmu apa Tamara?" tanya mama Sinta
"Nanti tante pasti akan tahu sendiri. Kalau begitu aku pulang dulu ya tante."
"Oke, hati-hati ya sayang!"
Setelah Tamara pergi, mama Sinta naik kelantai atas. ketika sampai didepan kamar sang putra, ia samar-samar mendengar perdebatan antara putranya dengan kekasihnya.
"Sudahlah kak, jangan memaksaku terus. aku sudah dengan jelas bukan mengatakan semuanya padamu kan? aku ini sudah tidak suci lagi kak dan sama sekali tak pantas untuk kakak. Dan saat ini..."
"Saat ini apa Mai? apalagi yang akan kamu jadikan alasan agar kita tak bersama, ayo katakan Mai! kenapa berhenti?"
"Saat ini....aku sedang hamil kak, aku mengandung bayi dari laki-laki lain!"
__ADS_1
DEG
Tbc