Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
47.Makan siang bersama


__ADS_3

Mendengar celetukkan pak Jatmiko membuat Rangga dan Maima menjadi salah tingkah. Rangga berpura-pura menggaruk tengkuknya yang bahkan tak gatal sedangkan Maima hanya tertunduk malu dengan semburat merah dipipinya.


"Sudah-sudah pa, jangan menggoda mereka terus!" Bu Herlina menepuk paha suaminya lalu melihat Rangga lalu Maima bergantian sambil tersenyum penuh arti.


"Ehem !"Pak Jatmiko kembali mengagetkan keduanya yang tengah saling mencuri pandang.


"Ma, sepertinya kita harus menikahkan mereka secepat mungkin, tuh lihat!" Bu Herlina pun tersenyum melihat tingkah malu-malu keduanya.


Bu Herlina mengantarkan Maima untuk kembali kekamar, namun sekarang ia menempati kamar tamu. Yang juga berada dilantai atas.


"Istirahatlah Mai, jangan terlalu kecape'an! kandunganmu masih terlalu riskan."


"Iya, terima kasih bu. Sudah memperlakukan saya dengan baik.maaf, saya sudah banyak menyusahkan ibu dan keluarga."


Bu Herlina meraih tangan Maima dan mengusapnya dengan lembut.


"Jangan berkata seperti itu sayang, panggil mama karena kamu sekarang adalah anak mama juga.Mama dan papa sangat bahagia karena sebentar lagi juga akan nambah cucu." Bu Herlina tersenyum sumringah sambil mengusap lembut perut Maima.


"Ya sudah, mama tinggal dulu ya."


"Iya, M...ma!" Maima masih tampak canggung merubah panggilannya terhadap bu Herlina.


Setelah merasa cukup beristirahat, Maima keluar dari kamarnya dan turun kebawah menuju ke dapur untuk membantu mbok Sarmi memasak.


"Mbok, siang ini mau masak apa?"


"Astaga nduk, kamu ngagetin simbok aja." Mbok Sarmi mengelus dadanya.


"hehehe....maaf ya mbok, bukan maksudku ngagetin mbok Sarmi."


Mbok Sarmi ikut senang melihat keadaan Maima yang kini berubah lebih baik. Gadis itu selalu tersenyum bahagia, bahkan mbok Sarmi sampai menitikkan air matanya.


"Mbok Sarmi kenapa menangis?" Maima mengusap wajah wanita tua yang sudah dianggapnya seperti ibunya itu.


"Simbok ngak pa-pa nduk, simbok ikut senang karena sekarang kamu dan mas Rangga akan segera menikah."


"Iya, Maima juga ngak pernah nyangka kalau akhirnya berjodoh dengan kak Rangga." Maima mengusap matanya yang memerah.


"Sudah ah mbok, ayo kita masak saja.kapan matangnya?"


Merekapun akhirnya mulai kembali berkutat menyelesaikan masakan untuk makan siang nanti.


Semua hidangan telah tertata rapi dimeja makan. Maima mendudukkan bokongnya disalah satu kursi, pinggangnya terasa pegal.


"Alhamdulillah, akhirnya rampung juga ya mbok?"


Mbok Sarmi pun tersenyum melihat Maima yang tengah duduk sambil menatap berbagai hidangan dengan rasa puas.


"Hmm...harumnya, masak apa nih?" Tiba-tiba muncul bu Herlina dan itu membuat Maima terlonjak kaget hingga ia refleks langsung berdiri.


"Aduh! Maima memegang perutnya karena berdiri secara tiba-tiba, perutnya langsung terasa tegang dan kram.


Bu Herlina langsung menghampirinya dengan rasa khawatir, wanita paruh baya itu memapah Maima dan mendudukkannya kembali ke kursi


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan? mana yang sakit? ayo kita periksa ke dokter kandungan sekarang! Aduh bagaimana ini, mama telpon Rangga ya?"


Maima jadi merasa tak enak karena membuat bu Herlina ketakutan sampai ingin menghubungi Rangga segala.


"Eh, Tidak apa-apa kok ma.tadi cuma agak kaget saja. tidak usah menelpon kak Rangga." Maima menarik tangan bu Herlina ketika akan beranjak untuk menelpon putranya.


"Benar juga, nanti Rangga juga kan pulang untuk makan siang."

__ADS_1


"Kak Rangga mau makan siang dirumah?"


Maima tengah bersantai ditaman belakang rumah, ia duduk disebuah gazebo. Terdengar langkah kaki yang semakin dekat. Maima menoleh dan melihat Rangga.


"Ternyata kamu disini! ayo,mama memanggil untuk makan bersama!" Rangga mengulurkan tangannya, namun Maima enggan untuk membalasnya.


"Ehemm..." Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal mengalihkan rasa canggungnya.


"Iya kak." Merekapun melangkah masuk kedalam rumah dengan Maima yang mengikuti dibelakang Rangga.


Pak Jatmiko dan bu Herlina telah menunggu mereka. Rangga menarik satu kursi untuk Maima lalu ia pun duduk disebelahnya.


"Ehemm, tumben Ngga kamu duduk disitu?" Pak Jatmiko mulai menyindir putranya yang bertingkah tidak seperti biasanya.


"Duduk dimanapun kan sama saja to pa?" protes Rangga.


"Sudah-sudah! kalian ini bapak dan anak sama saja. ngomong-ngomong, kok mereka belum tiba ya pa?"


"Siapa, apa mbak Erla mau datang ma?"


"Bukan, tapi...."


"Assalamuallaikum. hai semua, maaf ya kami telat. habis jalanan padat sekali. maklum jam makan siang."


"Siang tante, iya nih mama kelamaan tadi di Restaurannya."


"Ngak pa-pa kok Zakiyah, Karina. ini kita juga sedang menunggu kalian kok." Mereka bercipika cipiki lalu mengambil posisi duduk masing-masing.


Deg


Maima mendongak melihat kearah suara yang sangat dikenalnya.


"Bu Zakiyah?" Ia tergelak kaget melihat kehadiran ibu dan putrinya itu.


"Loh, Maima? kamu ada disini?saya kira kamu jadi pulang kekampung halamanmu?"


"Kalian sudah saling mengenal toh? Iya ini Maima calon istri Rangga." Bu Herlina menjelaskan alasan keberadaan Maima dirumahnya.


"Hah, ngak salah tante? masa' kak Rangga mau menikah sama seorang pelayan restauran?" Karina menatap Maima rendah.


Maima hanya bisa tertunduk, di lubuk hatinya iapun menyadari kalau dirinya memang hanyalah gadis biasa dan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Rangga.


"Karina! tidak sopan kamu bicara seperti itu!" Bu Zakiyah menatap tajam putrinya.


"Tapi memang benar kan ma, memangnya aku salah kalau mengatakan yang sebenarnya?" menjawab dengan.wajah cemberut. Apalagi setelah mendapatkan pelototan lagi dari ibunya.


Bu Zakiyah pun mengalihkan pandangannya pada bu Herlina dan Maima.


"Oh iya, Lin. Maima memang pernah bekerja di Restauranku. Dia itu gadis yang sangat giat dan rajin. kamu beruntung sekali ya akan memiliki menantu yang baik seperti Maima."


Bu Zakiyah tersenyum pada Maima yang masih tak berani menatap orang-orang disekelilingnya.ia tahu kalau gadis itu tengah merasa rendah diri karena perkataan putrinya tadi. Sedangkan bu Herlina tersenyum hangat pada melihat Maima.


"Maima kenapa ya?kok dari tadi dia menunduk terus, apa karena ia merasa direndahkan oleh perkataan Karina? Anak itu tak pernah berubah, selalu saja membuat orang lain kesal." bu Herlina menggelengkan kepalanya menatap Karina.


Sedangkan Rangga juga menatap Karina tak suka. "Kasihan Maima."


Sedangkan Pak Jatmiko hanya terdiam tak ingin berkomentar apapun yang akan menambah kekisruhan diantara para wanita.


Acara makan siang bersamapun telah selesai. kini mereka tengah berbincang santai diruang keluarga. Setelah membantu mbok Sarmi merapikan meja makan dan bersih-bersih didapur.


Maima undur diri untuk kembali kekamarnya. Rangga hanya menatap kepergian Maima yang menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Ma, papa mau langsung kembali kekantor ya! setengah jam lagi ada meeting dengan klien dari Bandung." Pak Jatmiko beranjak dari duduknya dan langsung melangkah pergi,namun sebelumnya ia mengatakan sesuatu pada Rangga.


"Ngga, kamu juga langsung menyusul papa ke kantor. kamu harus ikut meeting juga!"


"Iya pa." Rangga pun mengikuti langkah papanya dari belakang.


Sepeninggal pak Jatmiko dan Rangga. Para wanita kembali melanjutkan obrolannya.


"oh ya, ngomong-ngomong Lin. Kapan hari H nya?"


" Secepatnya, mungkin dalam minggu-mìnggu ini."


"Mendadak sekali, sebelumnya maaf ya Lin. bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Mau bertanya tentang apa? tentu saja boleh Kiyah."


"Apa Maima sedang hamil? sekali lagi maaf ya Lin, bukan maksudku menuduh putramu yang tidak-tidak."


Bu Zakiyah agak tak enak hati bertanya masalah sepribadi itu, namun ia sangat penasaran melihat kedaan fisik Maima yang memang jelas terlihat berbeda.


Bu Herlina terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaan adik sepupunya itu.


"Iya, benar. Maima memang tengah mengandung anak Rangga. kamipun sempat kecewa, namun apa boleh buat. semuanya sudah terjadi."


"Benar Lin, sudah tidak apa-apa. Selamat ya, sebentar lagi kamu akan nambah cucu."


"Terima kasih ya kiyah." Merekapun saling tersenyum bahagia.


Sedangkan Karina selalu saja berpikiran negatif. " hmm....jadi cewek miskin itu sudah hamil duluan ya? apa itu benar anak kak Rangga.aku ngak percaya deh. jangan-jangan kak Rangga cuma ditipu?"


---‐-------------


Malam sudah semakin larut, semua penghuni rimah telah masuk kekamarnya masing-masing. Begitupun dengan Maima.gadis itu sudah akan bersiap untuk tidur, namun terdengar ketukan pintu. iapun bergegas membuka pintu kamarnya.


tok tok tok


klek... kriettt


"Apa kamu sudah tidur sayang? mama menganggu ya?"


"Tidak, belum kok ma. mari silahkan masuk ma! mama ada perlu sama Maima?"Bu Herlina menuntun lengan Maima dan mengajaknya duduk ditepi Ranjang.


"Begini Mai, besok kamu ikut ya ke butik untuk memesan kebaya untuk acara ijab kalian nanti! setelah itu kita mampir ke Mall xxx untuk berbelanja keperluan yang lainnya."


"Baik Ma."


"Oke, sudah sekarang kamu cepat tidur ya! tidak baik wanita hamil tidur larut malam!"


Setelah mengusap perut Maima, bu Herlina pun langsung keluar.


‐-------------


Seperti yangbtelah direncanakan. Setelah dari butik, kemudian bu Herlina dan Maima menuju ke sebuah Mall untuk berbelanja.


Saat ini mereka tengah berada disalah satu restauran yang berada di foodcourt didalam mall tersebut.


"Mai, mama tinggal ke toilet sebentar. kamu jangan kemana-mana ya!" Maima mengangguk dan tersenyum.


Maima masih menikmati makan siangnya, hingga tiba-tiba ada sebuah tepukan di pundaknya.


"Maima, aku sudah mencarimu kemana-mana. Ayo ikut pulang denganku ya!"

__ADS_1


"Ah.....kakak?"


Tbc


__ADS_2