Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
65.Baby Sitter Baru


__ADS_3

"Bagaimana Ngga? boleh tidak?"


" emm..." Rangga masih menyimak apa yang barusan di katakan Zack.


Rangga beranjak berdiri lalu tersenyum menyeringai.


"Apa lagi rencanamu Zack? bukankah tadi kau bilang sudah mengikhlaskan dan menerimanya. lalu apa ini?"


Varell pun berdiri diantara Rangga dan Zack. Begitupun Doni, ia mulai waspada akan terjadinya adu jotos sesi dua.


"Wow,santai bro! Ngga, tahan emosi loe!"


"Dan elo Zack, ngapain sih minta yang enggak-ngak. semua masalah sudah clear kan? trus kenapa loe seakan ingin membuat masalah baru?" Varell mempertanyakan juga apa maksud dari permintaan yang mustahil untuk di realisasikan itu.


Tiba-tiba saja Zack tertawa terbahak-bahak, menatap ketiga sahabatnya yang sedang memasang wajah tegang. Apalagi Rangga, sudah memerah tersulut amarah.


"Hahaha!"


"Ngapain loe malah ketawa? apanya yang lucu? loe tu ngak lucu sama sekali tahu Zack!" Doni pun mulai kesal.


"Sorry‐-sorry guys, gue cuma bercanda kali. beneran Ngga!"


Doni dan Varell mengehela nafas lega.Karena ternyata Zack tidak serius.


"Tahu ngak, muka loe semua terlihat aneh?berhasil, kalian kena prank!"


Doni langsung merangkul Zack dan mengeplak belakang kepalanya. "Zack is back!"


Sedangkan Varell mendekati Rangga, lalu menepuk pundak sahabatnya yang wajahnya tak terlihat tegang lagi.


"Loe sudah bisa tenang sekarang bro.Persabatan kita tak akan pernah tergoyahkan oleh apapun!" Rangga menyunggingkan senyum bahagianya.


"Bagaimana kalau kita lunch bareng? untuk merayakannya?" Usul Doni.


"Boleh juga, di mana?" Tanya Varell


"Di tempat biasa saja. Gue yang traktir." Kali ini Rangga yang mengusulkan.


"Oke, deal. Kita jalan sekarang?" Doni berjalan lebih dulu. lalu, di ikuti oleh yang lainnya. Menuju ke sebuah cafe tempat biasa mereka berkumpul.


-------‐--------


 Menjelang pukul 02.00 sore,Rani pamit untuk pulang. Baby Rava pun terlihat sudah mengantuk.


"Mai, kami pulang sekarang ya?tak terasa sudah menjelang sore hari. Lain waktu kita pasti main ke sini lagi."


"Yah, padahal maaih kangen sama baby Rava? cepat sekali sih sudah sore saja?" Jawab Maima sambil memasang wajah cemberutnya.


Melihat Maima yang tak rela mereka pulang, Rani pun menggenggam tangan sang sahabat dan tersenyum lembut.


"Maima, lain waktu kami akan main ke sini lagi kok? Jangan sedih dong! dedek bayi juga sehat selalu ya, besok kakak Rava main lagi sama dedek. oke?"


"Iya, kakak Rava. Dedek tunggu ya!" Maima menjawab dengan menirukan suara seperti anak kecil. Membuat Rani dan bu Lina tertawa.

__ADS_1


Maima dan bu Lina mengantar Rani dan baby Rava sampai ke depan rumah.


"Da—da baby Rava!" Maima melambaikan tangannya sampai mobil yang di tumpangi Rani berlalu keluar dari pintu gerbang.


 


 


tok tok tok


"Permisi nyonya, orang yang akan menggantikan baby sitter untuk baby Rava sudah datang." Bi Munah mengetuk pintu kamar mama Sandra.


"oh, iya kah?baiklah bi, nanti aku akan segera turun."


"Baik nyonya." Bi Munah pun bergegas turun dan menemani calon baby sitter baru untuk anak majikannya.


Beberapa menit kemudian, mama Sandra telah berada di ruang tengah bersama dengan bi Munah dan seorang gadis muda.


"Maaf ya lama menunggu!" Mama Sandra tersenyum pada gadis yang duduk berhadapan dengannya.


"Siapa namamu?"


"Nama saya Ayunia Danastri, nyonya. panggil saja saya Ayu!" Gadis muda itu mengangguk dan masih terlihat gugup.


"Baiklah! begini ya mbak Ayu, nanti kamu akan membantu untuk mengurus cucu saya! Sekarang mbak nya istirahat dulu saja! bi, tolong antarkan mbak Ayu ke kamarnya ya!"


"Baik nyonya. Ayo, mbak Ayu ikut saya!"


"Kalau begitu, saya permisi nyonya." Mama Sandra mengangguk dan tersenyum.


kriettt


"Nah, ini kamar mbak Ayu ya!"


"Iya, terima kasih ya bi.Oh ya bi, panggil Ayu saja ya bi! jangan pake mbak!"


"ya sudah, sekarang Ayu istirahat dulu saja ya! nanti kalau non Rani dan baby Rava sudah pulang, kamu akan bibi panggil lagi ya!" Ayu pun mengangguk.


Sebuah mobil sedan hitam memasuki pintu gerbang lalu berhenti di pelataran depan rumah. Pak Totok, supir pribadi Rani keluar dan membukakan pintu mobil untuk sang majikan.


Rani turun dengan baby Rava dalam gendongannya. Mama Sandra bergegas menghampiri menantu dan cucu kesatangannya itu.


"Hallo cucu uti, sini—sini sama uti sayang!" Meraih baby Rava dari gendongan Rani. Dan mereka melangkah beriringan masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam, mereka langsung menuju ke ruang tengah. Kemudian Mama Sandra memanggil bi Munah untuk membuatkan minuman untuk Rani.


"Ini non Rani, minumannya!" Meletakkan secangkir teh hangat diatas meja.


"Terima kasih ya bi." Jawab Rani.


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi nyonya, non Rani?" Sebelum undur diri, bi Munah bertanya lagi jika masih ada yang di butuhkan oleh para majikannya. Karena tidak ada tanggapan, ia pun berbalik badan untuk kembali ke dapur.


"Ah iya, sampai lupa kan? tolong panggilkan mbak Ayu ya, bi!" Mama Sandra melambaikan tangannya ketika bi Munah baru saja akan melangkah pergi.

__ADS_1


"Baik, tunggu sebentar! saya akan panggilkan gadis itu."


Baru saja bi Munah akan menuju ke belakang tempat di mana kamar para pelayan berada. Ternyata Ayu tengah berada di dapur. Gadis itu tengah mengambil minum.


"Ayu,kebetulan sekali. bibi baru saja ingin ke belakang, nyonya memanggilmu! beliau ada di ruang tengah bersama nona Rani. Sudah cepat kesana!"


"Baik bi, terima kasih!" Ayu bergegas menuju ke ruang tengah seperti apa yang di katakan oleh bi Munah.


"Permisi nyonya, anda memanggil saya?" Ayu agak membungkukkan badannya.


"Duduklah Mbak Ayu! ada yang ingin saya sampaikan?" Mama Sandra menunjuk sofa dan menyuruh Ayu untuk duduk.


"Terima kasih. Maaf, saya disini saja nyonya." Gadis itu merasa sungkan jika harus duduk di kursi yang sama dengan para majikan.


"Kenapa? ayo, duduklah!" Kembali menyuruh Ayu untuk duduk di sofa. Dan gadis itu akhirnya menurut juga.


"Nah, mbak Ayu. Perkenalkan ini anak menantu saya Rani dan jagoan kebanggaan kami baby Rava."


"Salam kenal ya Mbak Ayu, semoga kerasan bekerja di sini." Rani tersenyum ramah.


"Iya nona Rani, terima kasih. Tapi, tolong panggil saja saya Ayu. Nyonya—nona!"


"Oke, baiklah Ayu."


Dan Ayu sangat senang karena majikannya begitu ramah dan baik hati. Terutama ibu dari bayi yang akan di asuhnya, wanita itu begitu cantik mempesona.


"Nona Rani cantik sekali, baik lagi. beruntung sekali aku bisa bekerja di sini. Nyonya Sandra juga cantik dan ramah. Alhamdulillah ya Allah!"


"Assalamuallaikum." Varell varu saja tiba, ia langsung menuju ke ruang tengah ketika mendengar celotehan baby Rava yang sangat menggemaskan.


"Wa'allaikumsalam. Papa pulang sayang!"


Rani beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang suami. Mencium punggung tangannya dan Varell pun mencium kening Rani.


"Eh, anak papa..."


"Ganti baju sama bersih-bersih dulu mas! jangan langsung pegang anaknya!"


"Iya—iya sayang, mas ke kamar dulu." Varell sudah mengerti, ia tidak akan di perbolehkan untuk menyentuh baby Rava. Sebelum membersihkan dirinya. Apabila baru tiba dari luar rumah.


"Nah, Ayu. yang tadi itu tuan Varell,papa nya baby Rava.suami dari non Rani." Bi Munah memberitahu Ayu.


"Iya bi, Non Rani cantik dan tuan Varell juga tampan. Pasangan yang sangat serasi ya bi?" Ayu sampai terperangah melihat kecantikan dan ketampanan sang majikan.


"Hush, jangan macam-macam kamu Yu!"


"Bibi apa sih? memangnya tidak boleh ya hanya sekedar memuji ciptaan tuhan yang sungguh indah di pandang mata." Ayu malah cengengesan.


"Iya bibi tahu, yang penting kalau bekerja di sino kamu harus bisa jaga sikap dan sopan santun. Harus tahu batasan kita sebagai pekerja di rumah ini. kamu mengerti kan?"


"Siappp...!"


Bi Munah menggelengkan kepala melihat tingkah pecicilan gadis muda itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2