Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
44. Bayi ini adalah tanggung jawabku


__ADS_3

"Maima!?"


"Kak Rangga!"


Rangga dan Maima pun sama-sama terkejut. mereka benar-benar tak menyangka akan dipertemukan kembali, bahkan ditempat yang tak pernah mereka sangka-sangka yaitu dirumah orang tua Rangga.


"Loh, kalian berdua sudah saling kenal? Ngga?" Bu Herlina menegur Rangga, namun sepertinya sang putra lebih fokus dengan hal lainnya.


"Ngga....Rangga?kamu denger ngak sih pertanyaan mama tadi?"


"Eh iya ma, sorry. tadi mama mau tanya apa?" Jawab Rangga kikuk.


Bu Herlina pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu. Sementara itu, Maima langsung undur diri kembali ke dapur dengan tubuh yang terasa lemas dan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Jadi pak Jatmiko dan bu Herlina adalah orang tua dari kak Rangga. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?" batin Maima bergejolak tak tenang.


Mbok Sarmi memperhatikan Maima yang tampak gelisah. Ia pun mendekati Maima yang terduduk lesu di meja dapur.


Jari jemarinya saling bertautan erat, dan yang begitu jelas terlihat adalah wajah Maima yang pucat pasi.


"Mai, kamu kenapa?" Mbok Sarmi menyentuh pundak Maima.


"Maima istirahat sebentar boleh ngak mbok? kepalaku pusing sekali." Memijit pelipisnya.


Mbok Sarmi yang tidak tega pun mengizinkan Maima untuk kembali kekamarnya lebih awal.


"Ya sudah sana Mai istirahatlah, biar nanti semua simbok yang beres-beres."


"Maaf ya mbok."


"Iya, ngak apa-apa Mai." Maima melanglah gontai menuju kekamarnya yang terletak dibelakang tempat kamar para pelayan.


 


Karna esok adalah weekend, maka anak dan menantu serta cucunya pun menginap.Kakak perempuan Rangga yang bernama Erla juga telah masuk kekamar untuk menidurkan anaknya. Sedangkan suaminya masih bercengkerama dengan pak Jatmiko dan Rangga, bu Herlina menghampiri mbok Sarmi didapur.


Ia tak melihat Maima bersama mbok Sarmi. "Loh....Maima mana mbok?"


"Maima sedang tidak enak badan bu, jadi saya menyuruhnya untuk istirahat dikamar.maaf, saya baru bilang sama ibu."


"ya sudah, biarkan dia beristirahat mbok. kasihan mungkin dia kecape'an." bu Herlina lalu kembali ke ruang keluarga.


"Ada apa ma, sepertinya dari tadi papa ngak lihat Maima?"


"Maima istirahat dikamarnya , sepertinya dia kecape'an pa." Pak Jatmiko pun mengangguk.


Malampun semakin larut. semua penghuni rumah telah tidur didalam kamar masing-masing. Tepat pukul dua belas malam, seperti biasa Maima akan keluar dari kamarnya menuju ke dapur karena perutnya kembali terasa lapar.


" Kamu mau makan apa nak? bagaimana kalau kita buat telur dadar tepung krispy, hmm...pasti enak sekali?"


Maima mengambil sebutir telur lalu mulai menggorengnya. Ia tidak tahu kalau ada sepasang mata yang terus memperhatikkannya.

__ADS_1


"Sedang apa Maima malam-malam memasak? siapa yang menyuruhnya? tapi tunggu dulu! di sedang berbicara dengan siapa?"


Rangga masih mengamati gerak gerik Maima dari memasak sampai ia selesai makan.


"Ternyata dia memasak untuk dirinya sendiri. Besok sajalah aku bicara dengannya." Rangga pun akhirnya kembali kekamarnya.


-------‐------


Keesokkan Paginya seperti biasa, Maima sudah berada didapur untuk membantu mbok Sarmi memasak.


"Selamat pagi mbok, pagi ini kita akan membuat sarapan apa?"


Mbok Sarmi terkejut karena Maima tiba-tiba saja muncul di belakangnya ketika ia sedang serius meracik bahan makanan yang akan dimasak.


"Astaqfirullah, Maima...kamu bikin jantungan saja. kamu sudah baikkan Mai?"


"Alhamdulillah sudah mbok, sekarang apa yang aku bisa bantu mbok?" Mengambil wajan untuk memasak.


"Ini kamu tolong buat bawang goreng ya!"


"Siap mbok Sarmi."


memberi hormat menggunakan sodet untuk menggoreng sambil terkekeh. Maima telah kembali ceria.


Maima mulai memasukkan bawang kedalam wajan dan ketika sudah hampir matang dan akan menirisinya, tiba-tiba saja perutnya terasa bergejolak. Bau bawang goreng membuatnya mual. Ia berlari cepat masuk kedalam kamar mandi yang berada dekat dengan dapur.


"Hoek....hoekk...hoekk!"


"Kamu ini masih sakit Mai, jangan dipaksakan untuk bekerja. sudah ayo kembalilah kekamar ya, biar simbok yang menyelesaikan memasaknya!"


Kemudian Maima diantar Mbok Sarmi kekamarnya, namun setelah sampai didalam gadis itu malah menangis. membuat mbok Sarmi kebingungan.


"hiks....hiks....hiks....mbok, aku mau pergi saja mbok. aku sudah tidak bisa berbohong lagi. maaf kan aku ya mbok."


"Kamu ini sebenarnya kenapa Mai, ayo cerita sama simbok! kenapa mau pergi?"


"Tenanglah Mai, ayo sekarang katakanlah apa yang membuatmu begitu sedih seperti ini? simbok pasti akan membantu apapun kesulitanmu Mai." mbok Sarmi mengusap-usap bahu Maima.


Menarik nafas panjang, kemudian Maima mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


"Sebenarnya saat ini aku sedang hamil mbok. Dan aku bingung mbok, bagaimana mengatakan pada laki-laki itu. karena itu terjadi pada saat aku dalam keadaan tidak sadar.lalu...."


"sudahlah mbok, aku juga telah ikhlas menerima takdirku ini. aku akan menjalaninya tanpa harus membebani siapapun mbok. bayi ini adalah tanggung jawabku."


Air matanya mulai menetes dan lama-lama semakin deras mengalir membasahi wajah sayunya.


"Tolong jangan cerita pada siapapun ya mbok, nanti aku akan mengatakannya sendiri pada bu Herlina. Setelah itu jika bu Herlina mengusirku, aku terima mbok. aku akan pergi dari sini."


"Ya Allah, kasihan sekali kamu nduk.sudah jangan menangis lagi. simbok akan menjaga rahasiamu sampai kamu siap untuk berbicara langsung pada bu Herlina dan pak Jatmiko. seng sabar yo nduk! bu Herlina dan pak Jatmiko tak akan mengusirmu. percayalah!" Mbok Sarmi mengusap wajah Maima yang berderai air mata.


-----‐----------

__ADS_1


Beberapa waktu sebelumnya


Tak seperti biasanya Rangga pagi-pagi sekali sudah bangun.Ia tengah bersiap untuk jogging pagi. Namun saat ia melewati dapur yang tampak sepi, Rangga pun jadi bertanya-tanya. Kemana mbok Sarmi dan Maima.


"Maima, kemana dia? kok tumben belum ada didapur? mbok Sarmi juga, kemana? apa sekarang saja ya aku menemuinya dan menuntaskan rasa penasaranku?"


Kemudian Rangga melangkahkan kakinya menuju kebelakang tempat kamar para pelayan.Ia celingak-celinguk mencari kamar yang ditempati oleh Maima. karena disana terdapat empat kamar.


"Ah, itu....hanya kamar itu yang masih menyala. pasti itu kamar yang ditempati Maima."


Rangga mulai mendekat dan saat akan mengetuk pintunya, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya karena mendengar percakapan antara Maima dan mbok Sarmi. Ya karena Rangga sangat mengenal suara keduanya.


Sebenarnya saat ini aku sedang hamil mbok. Dan aku bingung mbok, bagaimana mengatakan pada laki-laki itu. karena itu terjadi pada saat aku dalam keadaan tidak sadar.lalu...."


"sudahlah mbok, aku juga telah ikhlas menerima takdirku ini. aku akan menjalaninya tanpa harus membebani siapapun mbok. bayi ini adalah tanggung jawabku."


"Tolong jangan cerita pada siapapun ya mbok, nanti aku akan mengatakannya sendiri pada bu Herlina. Setelah itu jika bu Herlina mengusirku, aku terima mbok. aku akan pergi dari sini."


DEG DEG


Denyut Jantung Rangga berdetak kencang mendengar semua kenyataan yang selama ini ditutupi oleh Maima.


"Jadi Maima sedang mengandung anakku. kenapa dia tidak mengatakannya?"


--‐------------


Krett*


Mbok Sarmi keluar dari kamar Maima dan masuk kembali kedalam rumah utama.


Rangga yang tengah bersembunyi di balik pepohonan, setelah melihat kepergian mbok Sarmi. Rangga kembali mendekati pintu kamar Maima. ia ingin sekali berbicara pada gadis itu, tapi mengingat keadaan Maima yang terlihat belum stabil, ia pun kembali mengurungkan niatnya. karena ia takut jika berbicara sekarang, maka Maima akan melarikan diri kembali.


"Nanti malam atau besok pagi saja aku akan bicara padanya!" Rangga melanjutkan kembali kegiatannya untuk lari pagi.


 


Tak terasa waktu cepat berlalu, mbok Sarmi telah selesai memasak untuk makan malam majikannya.Sedangkan Maima sedang berada di lantai atas untuk mengganti sprei dibeberapa kamar.


"Aduh, kok tiba-tiba perutku mules ya? ah tidak sempat kebawah ini. numpang dikamar mandi sini saja deh." Maima terburu-buru langsung masuk kekamar mandi karena sudah tidak bisa menahannya lagi.


tek... kriettt


Rangga masuk kedalam kamarnya. Setelah pulang bekerja ternyata ia tidak pulang ke apartemennya.


"Hah, lelahnya. berendam air hangat dulu." Rangga melepas satu persatu pakaiannya, lalu mengambil handuk didalam lemari melilitkan di pinggangnya. Kemudian langsung masuk kedalam kamar mandi. Dan ketika membuka pintu....?


kriett


Brukkk


"Arggghh....!!"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2