
Di kala semua orang terlelap dalam dunia mimpi. Di bawah sinar temaram bulan, sepasang insan masih setia saling menautkan bibir dan yang terdengar hanya bunyi decapan basah. Zack begitu menikmati bibir ranum gadis manis yang baru saja di kenalnya tadi sore.
Namun, entah mengapa Zack tak bisa lepas dari pesona sang baby sitter. Tetiba ia begitu tertarik dan menginginkan gadis itu.
"Tu–an...jangan?" Ayu mendorong tubuh Zack ketika merasakan sebuah telapak tangan menyentuh, ah bukan? akan tetapi me***** salah satu gunung kembarnya yang memang tak tertutupi wadahnya.
Tautan bibir kesuanya pun terlepas dan Zack sontak kaget dan sadar apa yang telah di lakukannya pada gadis polos di hadapannya saat ini.
"Maaf..."
Zack menatap penuh rasa bersalah. Apa lagi ia melihat mata indah yang telah berkaca-kaca dan mengeluarkan tetesan air mata.
"Permisi Tuan, saya mau kembali ke kamar!" Berlari sekencang mungkin.
"S****! apa yang telah ku lakukan?" Mengacak-acak rambutnya sendiri.
setelah berada di dalam kamarnya, Ayu tak bisa lagi membendung air matanya yang kini semakin mengalir deras membasahi pipinya yang merona. Yang ia rasakan saat ini adalah antara rasa malu dan juga kemarahan pada laki-laki yang dengan lancangnya merampas dengan paksa ciuman pertamanya.
Ia juga menyesal pada dirinya sendiri yang tak bisa mencegah kejadian tersebut.
"Dasar laki-laki mesum! kurang ajar sekali dia..."
Fajar telah menyingsing. suara kokokkan ayam pejantan yang merdu saling bersahut-sahutan. Membangunkan setiap insan yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Tak terkecuali sosok gadis muda berwajah manis yang telah siap melaksanakan tugas rutinnya di setiap pagi yaitu mengurusi baby Rava.
Ayu sudah tampak rapi, segar dan wangi. Ia segera menuju ke kamar sang majikan yang terletak di sebelah kamarnya.
tok tok tok
"Permisi nona Rani, tuan Varell?!"
ceklekk
kriett
"Hoamm...Ayu? sepagi ini kamu sudah bangun?" Rani masih terlihat mengantuk.
"Iya nona, saya ingin mengambil baby Rava."
"Bah kan Rava juga belum bangun Ayu. sudah nanti kembali sekitar satu jam-an lagi ya!"
"Baik nona!" mengangguk lalu pergi dari depan kamar sang majikan. Tidak tahu harus melakukan apa?Ayu masih termenung di anak tangga dan akhirnya ia memutuskan untuk turun dan menuju ke dapur.
Ternyata sudah ada teh Mimin dan teh kokom yang sedang memasak untuk sarapan pagi para tamu. Ayu pun mendekati mereka dan...
__ADS_1
"Dorrr...!"
"Eh, copot copet cepot—!"
Teh kokom ternyata punya penyakit latah. Ayu tertawa geli melihat ekapresi teh Kokom yang sangat lucu.
"Ya ampun, atuh si eneg mani bikin jantung mau copot atuh neng? bikin kaget aja." Teh kokom megelus-elus dadanya.
"Neng Ayu...neng Ayu, jahil juga ya kamu? Jam segini kenapa sudah bangun neng?" Kali ini teh Mimin yang bertanya.
Yang di tanya malah langsung menyelonong dan mengambil alih sayuran yang tengah di potong-potong oleh teh Kokom.
"Eleh...mau apa neng?sudah tidak usah biar teteh saja!" Mengambil alih kembali pekerjaannya.
"Tidak apa teh, Ayu juga mau bantu memasak. memang mau membuat sarapan apa teh?" Ayu celingak celinguk memperhatikan bahan-bahan masakan yang telah teracik dan sudah siap untuk di ekaekusi alias di masak.
"Sayur capcay, tumis kangkung, ayam goreng crispy, udang goreng crispy juga dan tahu tempe serta temannya sambal goreng terasi. Bagaimana?"
"Wow...amazing teh, uenakk tenang semua itu? boleh ya Ayu bantu-bantu, dari pada cuma bengong?habis baby Rava nya beljm bangun." Mengerucutkan bibir nya.
Teh Mimin bukannya menjawab, wanita paruh baya itu malah mengam dua buah cangkir dan membuat minuman cokelat panas.
"Ini neng!" Setelah itu teh Mimin menyerahkan nampan yang berisi dua cangkir cokelat panas iti ke tangan Ayu. Gadis itu pun mengernyit bingung.
Ayu mengarahkan pandangannya ke sekeliling dapur dan ruang tengah yang memang bisa terlihat dari arah dapur. Namun ternyata tidak ada siapapun selain mereka.
Teh Mimin tersenyum lalu menunjuk ke arah luar, tepatnya di sebuah gazebo yang terletak di belakang Villa dekat dengan kolam renang.
" Kalau kamu memang mau membantu? nah, sekarang neng Ayu tolong antarkan minuman ini ke gazebo sana itu ya!"
"Loh, memangnya sudah ada yang bangun juga ya teh? siapa saja?" Ayu penasaran siapa yang juga telah bangun sepagi ini.
"Sudah antar saja sana! nanti juga kamu akan tahu sendiri siapa orangnya?" Teh Mimin tersenyum penuh arti.
"Mencurigakan teh Mimin ya?siapa sih teh? jadi bikin penasaran aja deh?"
Teh Mimin malah mendorong pelan punggung Ayu agar segera melangkah pergi ke tempat yang telah beritahukannya. Mau tidak mau, akhirnya gadis itu pun menuruti perintah teh Mimin dan beranjak menuju ke luar Villa.
Ketika sudah hampir mendekat, Ayu dapat melihat ada seseorang yang tengah duduk di gazebo. Ia hanya bisa melihat bagian punggungnya saja.
"Siapa ya? ternyata cuma ada satu orang saja kok!lalu, kenapa teh Mimin membuat minumannya dua cangkir? ah, sudahlah. biar aku antarkan saja. Setelah itu kembali ke dapur membantu mereka." Ayu bermonolog dalam hati lalu kembali melangkah lebih dekat ke arah gazebo.
"Per—misi...Tu–an...Zack!"
__ADS_1
Ayu sontak kaget melihat siapa yang orang itu? dan ternyata adalah sesosok pria tampan yang sejak semalam telah membuat perasaannya kacau balau.
"Ayu—kamu juga sudah bangun? itu, apa yang kamu bawa? apa untukku?"
Zack pun tak kalah terkejut melihat penampakan gadis yang semalam hampir saja di lecehkannya. Ia jadi merasa bersalah dan sejak semalam pun ia sama sekali tak bisa tidur memikirkannya.
Gadis muda itu tidak menjawab, ia langsung meletakkan dua cangkir itu di atas meja yang berada di tengah gazebo.
"Silahkan Tuan, kalau begitu saya permisi mau kembali ke dapur untuk membantu teh Mimin menyiapkan sarapan pagi!"
Baru saja Ayu berbalik dan akan melangkah pergi. Namun, tangannya langsung di tahan oleh Zack.
"Ku mohon di sinilah dulu. duduklah! ada yang ingin aku bicarakan denganmu?" Menepuk kursi tepat di sebelahnya.
Ayu tak menjawab, entah mengapa ia menututi keinginan Zack dan langsung duduk di samping pria itu.
"Ada apa ya tuan? apa ada yang ingin anda inginkan? nanti biar saya buatkan untuk an—
"Sttt...diamlah! biar aku yang berbicara terlebih dulu, oke manis!?" Jari telunjuk Zack tepat mendarat di bibir ranum Ayu dan sukses membuat gadis itu mematung.
Ayu merasa bagai tersengat listrik, rasa aneh mulai menjalar di hatinya? apa lagi menatap langsung dan begitu dekat mata indah pada wajah tampan seorang Zack.
"Baiklah, lalu apa yang ingin anda bicarakan tuan?" Ayu hanya berani menatap sekilas pada Zack, setelah itu ia menundukkan wajahnya.
"Lihatlah ke sini Ayu!wajahku tidak berada di bawah sana? tataplah langsung pada lawan bicaramu!"
"Mau apa lagi sih dia? awas saja kalau berbuat hal yang aneh lagi seperti semalam!" Ayu menggerutu dalam hati.
Setelah Ayu tidak menunduk lagi dan telah menatap langsung padanya. Zack pun tersenyum senang.
"Ekhem...! Maaf soal kejadian semalam. Sungguh, aku tidak ada niatan jelek apa pun padamu Ayu."
"Lalu apa maksud anda tiba-tiba mencium saya dan anda juga telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak boleh anda sentuh tanpa izin? memangnya anda menganggap saya apa? gadis gampangan, begitukah pandangan saya di mata anda tuan?"
"Sungguh, aku tidak pernah berpikiran yang tidak-tidak terhadapmu Ayu! hal itu benar-benar tidak di sengaja. Entah mengapa sejak pertama melihatmu aku merasa ada sesuatu yang telah menyentuh di sini?" Zack menunjuk dadanya sendiri.
"Lalu, kenapa anda dengan lancangnya mencuri ciuman pertama saya dan malah anda semakin kurang ajar memegang aset pribadi saya?"
"Ka–kalau soal itu sih...?" Menggaruk tengkuknya dan tersenyum malu.
"Heyy...kalian berciuman? dan aset pribadi bagian mana yang telah loe sentuh Zack?"
"Hahh!?"
__ADS_1
Tbc