
Maima diam terpaku, langkahnya terhenti kepalanya tiba-tiba saja pusing. Rani yang tahu penyebab kebekuan Sang sahabat meraih tangannya dan menggandengnya berjalan menuju ke ruang tamu, tempat dimana semuanya telah berkumpul.
"Maima...!"
"Ayo Mai, kenapa diam saja!?"
"Sebenarnya ini ada apa Ran? kenapa Kak Rangga dan bu Herlina datang ke sini? apa ini semua sudah direncanakan?"
Maima menatap intens Rani, menunggu jawaban dari sahabatnya tersebut.
"Iya, maafkan kami ya Mai. ini semua demi kebaikkanmu dan juga anakmu kelak."
"Ran, aku kembali kekamar saja ya. maaf Ran, aku....?" Maima melangkah cepat menaiki anak tangga dan menuju kekamarnya
"Maima....!!"
Mendengar suara Rani yang cukup keras, membuat semua orang menoleh kearahnya.
"Loh Ran, Maima mana?" Mama Sandra tak melihat Maima bersama menantunya.
"Itu ma, Maima kembali ke kamarnya. maaf ma, Rani ngak bisa mencegahnya." Jawab Rani tertunduk lesu.
Bu Herlina dan Rangga jadi merasa tambah bersalah, karena kehadiran mereka Maima jadi bersikap seperti itu.
Akan tetapi tekad mereka sudah bulat untuk membawa kembali Maima pulang dan melanjutkan rencana pernikahan antara Rangga dan Maima.
"Maaf tante, om. apakah aku boleh berbicara berdua saja dengan Maima? aku akan mencoba untuk membujuknya."
"Begitu juga lebih baik, cobalah bujuk dia.semoga Maima luluh dan mau menerima kehadiranmu kembali." Papa Tyo memberi izin untuk Rangga berbicara langsung secara pribadi dengan Maima.
"Kamar Maima ada di lantai atas, paling pojok kanan ya Ngga." Kali ini mama Sandra yang memberitahu letak kamar Maima.
"Baik om, tante. terima kasih." Rangga segera beranjak menaiki anak tangga. sesampainya di depan pintu kamar yang ditempati Maima, lalu Rangga mengetuk pintu itu.
tok tok tok
kriettt
Akhirnya Maima mau membuka pintunya juga, sontak wajahnya langsung berubah ketakutan melihat kehadiran Rangga. Ia menatap Rangga sejenak, akan tetapi langsung memalingkan wajahnya.
"Mai, aku ingin berbicara berdua saja denganmu. boleh aku masuk?" Rangga begitu sedih, netranya menatap nanar Maima. Gadis itu sampai tak ingin melihat wajahnya. apa sebegitu bencinya pada dirinya.
__ADS_1
"Untuk apa kak? sudahlah, aku sekarang baik-baik saja. Tidak usah mencampuri kehidupanku lagi, kakak dan keluarga bisa bebas dan tenang sekarang."
"Kenapa berbicara seperti itu Mai? Tenanglah dulu! ayo kita bicara di dalam, masa' sambil berdiri di depan pintu seperti ini? boleh kan Mai, tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan segala kesalah fahaman ini Mai." Rangga sampai menangkupkan telapak tangannya memohon agar Maima mau berbicara dari hati ke hati dengannya.
"Masuklah!" Maima tak mau mengelak lagi, ia pun penasaran juga dan ingin mendengar langsung dari Rangga sendiri. Ia juga ingin mengetahui apakah ada kejujuran dan ketulusa n pada diri laki-laki tersebut.
Maima duduk di tepi ranjang dan Rangga pun sama, namun sepertinya Maima enggan berdekatan hingga ia menggeser duduknya agak menjauh dan menjaga jarak.
"Aku akan langsung menjelaskan apa yang memang sebenarnya terjadi. Maaf kan mama ya Mai, karena perkataan Zack waktu itu telah membuat mama jadi salah faham. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya pada mama dan papa, kalau akulah ayah dari bayi yang kau kandung.Mama merasa bersalah dan sangat menyesal Mai, beliau selalu saja menangis bila mengingat dirimu."
"Benarkah yang kau katakan itu kak? atau cuma karanganmu saja agar aku mau menerimamu dan.....?" Maima terdiam tak melanjutkan lagi perkataannya.
"Dan melanjutkan rencana pernikahan kita. itu kan yang kamu mau katakan?"
"Heumm....maaf kak, aku bukannya ingin menghapkan apapun dari kakak dan juga keluarga kak Rangga. Baiklah, aku sudah memaafkan bu Herlina sejak lalu."
Tertunduk tak mau melihat Rangga yang tak lepas selalu menatapnya.Hal itu di manfaatkan Rangga untuk bergeser letak duduknya lebih mendekat lagi pada Maima.
"Aku dan keluargaku yang sangat berharap segalanya sama kamu Mai." Meraih tangan Maima dan menggenggamnya erat.
Mendapatkan perlakuan selembut itu, Maima akhirnya memberanikan diri untuk menatap mata Rangga secara langsung. Ia melihat ketulusan dan keaungguhan disana.
"Apa kakak masih mau menerimaku sebagai calon istri kak Rangga?" Ia sebenarnya sangat malu mengatakannya, akan tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ia masih menginginkan laki-laki itu untuk selalu bersamanya. ya, tak dapat di pungkiri bahwa Maima sangat merindukan ayah dari anaknya itu.
Rangga tersenyum simpul, hatinya begitu terenyuh mendengar ungkapan langsung dari bibir calon ibu dari anak-anaknya kelak.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu sayang, aku mencintaimu Maima dan maaf aku terlalu lama menyadarinya. tolong jangan pergi meninggalkanku lagi, kamu mau.berjanji kan sayang?"
Mengecup punggung tangan Maima dengan penuh kelembutan dan rasa cinta yang semakin dalam mereka rasakan.
Maima tertunduk malu, bahkan pipinya sudah merona. Di tambah lagi tatapan mata Rangga yang membuat dadanya berdegub kencang.
"Aku....aku sangat merindukanmu kak." Maima bergumam pelan, namun Rangha masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas.
"Aku juga sangat rindu padamu sayang!" Rangga mendekatkan bibirnya ke telinga Maima dan membisikkan kata rindu yang semakin membuat Maima tersipu.
Tubuh mungil dengan perut yang sudah terlihat membuncit itu begitu indah dalam penglihatan Rangga. Tak tahan, di rengkuhnya tubuh gadis yang sudah di cintainya itu kedalam pelukan hangatnya. Maima menelusupkan wajahnya di dada bidang Rangga, menikmati aroma maskulin yang menguar dari tubuh kekar sang pujaan hati.
"Jadi, kamu mau kan pulang bersamaku dan mama? kita akan secepatnya menikah. aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. hari dimana kamu telah sah dan halal untuk kusentuh. maaf waktu yang lalu, aku dengan lancangnya menyentuhmu."
"Iya kak, aku sudah lama memaafkanmu. Sekarang aku sangat bahagia, ternyata kak Rangga juga merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. terima kasih ya kak." Mata mereka masih saling bersitatap.
__ADS_1
Menangkup kedua pipi Maima lalu mengecup bibir cherry nya yang telah lama tak dirasakannya.
Cup
"Masih manis seperti dulu sayang."
"Kak Rangga?"
"Apa sayang? hmm....aku pasti akan melakulannya setiap hari, ah....tidak, setiap saat. karena bibirmu ini selalu menggoda untuk di sentuh. l love you!"
"Ayo kita kebawah bertemu mama dan yamg lainnya! nanti kalau kita terlalu lama di kamar berduaan seperti ini, mereka pasti akan menaruh curiga dan mengira kita sedang bereproduksi lagi.
"Kakak ini bicara apa sih? mesum ah!" Mencubit perut Rangga.
"Awww....sakiy sayang tapi, bohong? belum mesum banget dong sayang, besok saja kalau sudah halal pasti akan tambah mesum. tepatnya, wajib. kan sama istri sendiri juga! hahaha!" Rangga malah semakin senang menggoda Alma.
"Kakak....malu ih, nanti kalau di depan bu Herlina dan yang lainnya awas ya kalau bicara macam-macam!"
Rangga mengernyitkan keningnya, mendengar panggilan Maima pada sang mama.
"Kok ibu sih Mai, Mama....mama Lina!"
"Iya...iya kak, mama Lina. sudah puas kan?" Maima mengerucutkan bibirnya. membuat Rangga semakin tak tahan untuk meraup bibir cherry nan manis itu.
"Belum sayang.....chuu!" mendekat dan memunyungkan bibirnya untuk minta di cium.
"Ish...kak Rangga, sudah ayo, katanya mau turun!" Bangkit dan menarik tangan Rangga agar segera keluar dari kamar, sebelum laki-laki itu bermodus kembali.
Suara langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga mengalihkan pandangan semuanya yang tengah menunggu kedua sejoli itu dengan sabar dan memang sebenarnya cukup lama mereka menunggu.
"hehehe....akhirnya keluar dari peraduan juga? gue kira loe lagi bercocok tanam Ngga? lamanyaa...? hampir aja mau gue intip?" Varell menyindir sambil cengngengessan.
"Awww..... Sayang?"Dan Varell pun mendapatkan cubitan maut di perutnya oleh sang istri.
"Ish, mas Varell sembarangan saja kalau ngomong?"
"Sabar Ngga, bentar lagi juga bakalan jadi halal kok Maima hanya untuk loe seorang! hahaha"
"Varellll.....!!" Kini mama Sandra yang mulai kesal dengan kelakuan putranya.
Jangan di tanya ekspresi Maima, wajah gadis itu sudah merah terbakar rasa malu yang sangat. Sedangkan Rangga menanggapinya biasa saja, malah me gacungkan jempolnya kearah Varell.
__ADS_1
Tbc