
"Lalu, kenapa anda dengan lancangnya mencuri ciuman pertama saya dan malah anda semakin kurang ajar memegang aset pribadi saya?"
"Ka–kalau soal itu sih...?" Menggaruk tengkuknya dan tersenyum malu.
"Heyy...kalian berciuman? dan aset pribadi bagian mana yang telah loe sentuh Zack?"
"Hahh!?"
Tiba-tiba saja Doni muncul dengan perkataannya yang cukup frontal itu. Bahkan sorot matanya memindai tubuh Ayu dari atas sampai ke bawah.
Membuat gadis itu semakin risih dan malu. Matanya terbelalak melihat tatapan mesum keduanya. Dengan mengeluarkan segenap keberaniannya, Ayu pun dengan lantang menggertak kedua pria tampan di hadapannya itu.
"Jaga matamu tuan Doni! dan anda tuan Zack, jangan pernah berani berbuat hal tak senonoh dengan diri saya lagi jika tidak, anda akan menyesal! Permisi!"
Ayu pun berlari meninggalkan kedua nya yang melongo tak percaya dengan apa yang di lakukan gadis itu yang bahkan berani mendorong tubuh dua pria kekar di hadapannya. Ya, walaupun tak berefek apa-apa pada tubuh keduanya.
"woww...gila bro! ternyata berani juga dia bro?" Doni menggeleng dan terkekeh.
"Loe juga sih Don, sembarangan bicara? wajar saja kalau dia marah."
Kemudian ia duduk kembali dan meraih secangkir cokelat panas yang masih belum tersentuh, lalu menyesapnya perlahan.
"Loh, yang satu ini.buat gue aja ya?" Langsung mengambil cangkir yang satu nya dan meminumnya.
"Lagian loe Zack, main serang aja anak perawan orang! btw, bagian mana sih yang elo sentuh sampai dia semarah itu? gunung kembar atau itu?" Menunjuk ke arah bawah sambil menaik turunkan alis matanya.
"Sudah ah, ngak usah bahas itu lagi! gue jadi tambah merasa bersalah sama Ayu."
"Oke lah kalau begitu. Tapi, gue pingin tanya sama elo dan harus jawab dengan jujur! loe naksir sama tu cewek?" Doni mulai serius bertanya pada sahabatnya itu.
Zack terdiam sesaat, menarik nafas dalam dan menghembusakannya perlahan.
"Entahlah Don, gue juga belum tahu bagaimana perasaan gue ke dia? tapi, sejak pertama bertemu dengannya gue ingin melihatnya selalu." Pikiran Zack kembali menerawang jauh.
"Itu sih artinya elo udah jatuh hati pada gadis itu, Zack! trus kelanjutannya bagaimana? gue kasih saran ya, kalau loe cuma mau jadiin dia pelarian lebih baik jangan! kasihan, dia itu gadis baik-baik Zack. Loe ngerti kan? jangan sampai menyakitinya!"
"Sudah ah! gue balik dulu ke kamar, mau mandi!"
Beranjak dari duduknya, kemudian menepuk pundak Zack lalu melangkah meninggalkan sahabatnya yang masih berkutat dengan pikirannya.
Semua sudah berkumpul di ruang makan. Minus Ayu, karena gadis itu sedang menyuapi baby Rava makan.
"Ayo–ayo cuss langsung eksekusi!" Seperti biasa, Doni si penyemangat mulai beraksi. Membuat yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkahnya.
"Loe lagi nyariin siapa sih Zack? clingak clinguk terus?" Varell yang memang selalu memperhatikan Zack yang sepertinya sedang menantikan seseorang.
__ADS_1
"Ah, enggak apa-apa kok. Ayo, kita langsung santap dan habiskan semua hidangan lezat ini!" Jawabnya.
Mendengar perkataan Zack, timbul ide untuk menjahilinya? ia ingin memancing agar laki-laki itu mengungkapkan secara jujur apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap Ayu sang baby sitter.
"Ya, jangan sampai di habisin juga kali Zack! nanti trus si Ayu mau makan apa? tega banget loe ya, dah berbuat itu ke dia? eh, sekarang malah mau bikin gadis itu kelaparan? tega banget loe?" Mencebikkan bibirnya namun, dengan senyum terkulum.
Dan sukses menarik perhatian yang lainnya. Hingga Varell yang mengerti siapa yang di maksud oleh Doni.
"Maksudnya berbuat itu apa?Zack, jangan bilang elo dah melakukan sesuatu pada gadis itu? ayo, cepat jawab?"
"Sial! si Doni mulutnya ember banget lagi?" Zack merutuki sahabatnya itu yang tak bisa menjaga rahasia.
"Sorry Rell, sungguh gue ngak ada maksud apa-apa sama Ayu? gue khilaf." Zack merasa bersalah dan sangat malu sekali akan perbuatannya.
"Kenapa minta maaf nya ke gue?memang apa sih yang telah loe perbuat ke Ayu?" Varell semakin di buat penasaran.
"Itu loh guys, ada yang baru kenal langsung mengobok-obok anak gadis orang?" Sekilas Doni melirik kearah Zack yang juga tengah menatapnya tajam.
"Mengobok-ngobok? maksudnya apa itu? loe ngapain dia aja Zack?" Kali ini Varell mulai tersulut emosi.
"Sttt...orangnya kesini?!" Doni memberi kode jika, Ayu sedang melangkah menuju ke arah mereka.Dan semuanya pun akhirnya terdiam lalu melanjutkan sarapannya.
"Maaf permisi! nona Rani, ini baby Rava sepertinya haus ingin mimik?" Ayu menyerahkan baby Rava pada Rani yang memang telah menyelesaikan sarapannya.
"Ah iya, kesinikan Rava nya Yu! sekarang kamu juga ikut sarapan saja, ayo duduklah!"
"Ayo Yu, duduk dan makanlah! kenapa malah bengong? kami sudah selesai kok!"
"Dan elo Zack, pembicaraan kita belum selesai? gue tunggu di gazebo!" Varell pun beranjak dan berjalan menuju ke kamar menyusul istri dan anaknya.
Sekilas Ayu menoleh pada Zack. Namun, ketika mata mereka saling bersitatap Ayu langsung menunduk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ayu—Ayu! Maima menegur, namun gadis itu sepertinya tidak menyadarinya? dan ketika tangan Maima menyentuh pundaknya, Ayu pun tergelak kaget.
"Eh, iya nona Maima. Ada apa ya?"
Maima mengernyitkan keningnya? menatap Ayu penuh tanya, ia sudah bisa menebak dari gerak geriknya. Bahwa gadis ini memang merasa tak tenang dan aedang memikirkan sesuatu.
"Tidak ada apa-apa. Ayo, makanlah! kami juga sudah selesai kok. jangan sungkan pada kami ya Yu! Oh, satu lagi. Tolong jangan panggil nona ya! panggil mbak aja!" Tersenyum dan mengusap punggung Ayu.
"Ayo sayang kita kekamar!" Rangga merangkul pinggang Maima mesra.
"Iya, mbak Maima." Ayu pun membalas senyuman hangat calon ibu muda itu.
Akhirnya Ayu duduk di salah satu kursi untuk memulai sarapannya.Ia mencoba untuk berpura-pura tidak melihat keberadaan Zack yang masih duduk tepat di depannya.
__ADS_1
"Mbak Ayu, memangnya semalam ada kejadin apa sih? kok semua pada tegang gitu, terutama kak Zack?"
Dengan polosnya Angela bertanya pada Ayu.Tentu saja Ayu jadi kikuk dan bingung harus menjawabnya seperti apa?
"Ah, itu..."
"Tidak ada kejadian apa-apa kok sayang, sudah yuk mending kita ke gazebo saja! ngak mungkin juga kan kita ke kamar seperti 2 pasangan bucin itu?"
" Untung saja si gadis polos ini tidak menyimak pembicaraan kami tadi? kalau ngak, bisa heboh?" Doni merasa lega karena Angela tidak mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi di antara orang dewasa di sekitarnya.
Dan kini tinggalah mereka berdua. Zack dan Ayu sama sekali tak bertegur sapa sejak mereka bertemu di gazebo tadi pagi.
Ayu masih fokus dengan makanannya, sedangkan Zack memperhatikan gadis itu dengan seksama.
Gadis itu bukannya tak sadar ada sepasang mata yang terus menatapnya, ia hanya tak ingin berinteraksi dengan laki-laki yang telah membuatnya merasa di rendahkan dengan perbuatannya tadi malam.
"Ekhem...Maaf, apakah kita bisa bicara?" Zack mencoba untuk membuka perbincangan di antara mereka.
"Silahkan tuan, bukankah sekarang anda juga sedang berbicara? Maaf ya tuan, kalau.saya sambil makan. tidak masalah kan?" Jawabnya agak ketus.
"Oh, iya. tentu saja. silahkan!" Tersenyum kaku? Zack juga agak takut untuk mengungkit lagi tentang masalah yang telah ia perbuat malam tadi.
"Hmm...untuk kejadian yang semalam. aku benar-benar minta maaf dan menyesalinya. Kamu mau kan memaafkan atas kekhilafan ku?" Menatap penuh harap pada gadis yang terlihat semakin manis saja di matanya.
Ayu meletakkan sendok dan garpunya, lalu menatap Zack.
"Baiklah tuan, saya sudah memaafkan anda!"
"Terima kasih ya Ayu!" Tersenyum sumringah.
"Kalau begitu antara anda dan saya sudah tidak ada urusan apa pun lagi kan? anggap saja tidak pernah ada yang terjadi. Maaf, saya sudah selesai. Permisi tuan Zack!"
"Tunggu...!"
Beranjak dan mengitari meja dan menghampiri Ayu yang baru saja akan melangkah pergi.
"Ada apa lagi tuan Zack?masalah di antara kita sudah selesai kan. lalu apa yang anda inginkan lagi dari saya?" Menatap kesal.
"Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku padamu?" Zack menatap dalam mata gadis yang telah mencuri perhatiannya.
"Maksudnya?"
"Maukah kamu menerimaku? Ayo kita menikah!"
"APA??"
__ADS_1
Tbc