
"Nai...loe ngak pa-pa kan? ayo..."
Grepp
"Ayo kita pulang, Naina!"
Tiba-tiba Rama mendekat dan menarik tangan Naina dan membawanya pergi dari tempat tersebut.Rava yang baru akan melakukan hal yang sama ternyata malah keduluan oleh Rama. Dan mereka semua hanya menatap diam kepergian Rama dan Naina.
Sepanjang perjalanan pulang, Naina terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun. Biasanya gadis itu selalu banyak bicara jika sedang bersama sang kakak, Rama.
Rama pun demikian, pemuda itu tak mengajak berbicara ataupun bertanya tentang apa yang baru saja dialami Naina. Ia mengerti apa yang Naina tengah di rasakan saat ini.Pastilah hatinya sangat sedih karena hinaan bertubi-tubi yang di lontarkan oleh Chintya.
"Loh ,kok kalian jam segini sudah pulang?" Maima melihat kedua anaknya yang masih awal sudah kembali dari pesta ulang tahun Rava.
"Ma–Naina kekamar dulu ya!"
"Ah...iya,sayang."
Maima menatap wajah sang putri yang tampak sendu dan hal itu membuatnya jadi bertanya-tanya.
"Rama–tunggu!" Menghentikan langkah Rama yang baru saja akan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Iya ma, ada apa?"
Rama mendekat dan duduk di sebelah sang mama.
"Apa telah terjadi sesuatu di pesta tadi? kenapa wajah adikmu terlihat begitu sedih? katakan pada mama,Rama!"
"Tadi di pesta, Naina telah di permalukan oleh Chintya dan semua tamu yang datang akhirbya mengetahui tentang Naina."
Maima megerutkan keningnya, ia mencoba mengingat sepertimengenal nama tersebut.
"Chintya? apa dia itu adalah anak dari si sombong Bertha?" Dan di balas anggukkan dari Rama.
Seketika amarah mulai menguasainya, Mendengar nama wanita itu saja sudah membuatnya panas.Apa lagi ia mengetabui bahwa putrinya kembali tersakiti.
"Mau kemana kamu?"
Maima melihat Rama kembali melangka menaiki anak tangga.
"Mau ke kamar ma, capek dan ngantuk!"
"Hmm...ya sudah, sana!" Kemudian ia pun melangkah ke atas menyusul sang putra. Namun, tujuannya adalah untuk kamar Naina.
tok tok tok
"Sayang, bolehkah mama masuk?apa kamu sudah mau tidur?"
"Iya, masuk saja ma. Naina belum mau tidur kok,ma!"
Setelah mendengar sahutan dari dalam,Maima memutar handle pintu dan langsung masuk ke dalam kamar Naina.
Naina tengah duduk di tepi ranjang dengan ponsel di genggamannya.Gadis itu tersenyum manis pada sang mama, ya...senyum yang di paksakan.Karena saat ini hatinya masih terasa sakit mengngat semua perkataan Chintya pada nya. Naina bingung harus menanggapainya seperti apa?secara apa yang di katakan Chintya adalah benar adanya, dirinya hanyalah seorang anak pungut.
"Sudah, tidak usah kamu hiraukan anak si Bertha itu!kamu adalah putri mama dan papa. Dan tak ada seorang pun yang boleh mempermasalahkannya."
__ADS_1
"Tapi ma, semua teman-teman telah mengetahuinya dan mereka pasti akan..."
"Jika ada yang berani menghina putri cantik mama ini, maka mereka akan berhadapan dengan mama! mama akan memberi peringatan pada siapa pun yang telah membuat putri mama sedih."
Maima menangkup wajah Naina dan menatap penuh kasih sayang, mengusap air mata yang mulai meleleh dan membasahi wajah cantik sang putri.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat ya,sayang! l love you!" Mencium lembut kening Naina.
"Terima kasih mama telah menganggap Naina seperti anak mama sendiri.Naina sangat sayang pada mama dan papa, juga mas Rama."
"Iya, sayang. kami tahu.Sudah, jangan sedih-sedihan lagi. Ayo, cepat tidur besok kalian sekolah kan!?"
"hmm...selamat malam, ma!"
"Selamat tidur, sayang!"
"Kamu lama sekali sih? mas sudah mengantuk tapi kamu tidak masuk juga ke kamar?"
Baru saja ia menutup pintu kamar Naina dan ketika membalikkan tubuhnya, tiba-tiba saja ia di kagetkan dengan kemunculan suaminya
"Hoamm...!" Rangga menguap tanda bahwa ia memang sudah mengantuk.Berhubung terlalu lama menunggu sang istri akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan mencari keberadaan Maima dan ternyata istrinya itu berada di kamar putri mereka.
"Jika sudah mengantuk kenapa tidak langsung tidur saja sih, mas?"
Bukannya menjawab, Rangga malah bergelayut manja di pundak Maima.
"Ayo, kita tidur! mas, kangen sekali sama kamu sayang?"
Maima memicingkan matanya menatap curiga pada suami bucinnya itu, apa lagi mendengar ucapan penuh makna dari mulut manis Rangga.
Namun Maima tetap selalu menuruti apa yang di inginkan sang suami.
"Ma–shh...plakk!" Maima memukul tangan Rangga yang mulai nakal bekeliaran ke tempat Favoritnya.
Saat ini mereka tengah bersiap untuk tidur dengan posisi tubuh maima yang menyamping dan Rangga memeluknya dari belakang. Dan tentu saja bukan Rangga namanya jika tidak melakukan sesuatu yang menyenangkan.
"Apa sih, sayang? mas kan cuma ingin mencari kenyamanan biar bisa bobo dengan nyenyak?"
Masih tetap kekeh dengan pendiriannya, yaitu mencari spot ternyaman untuk tangannya bernaung dimana lagi kalau bukan di dua gundukkan kenyal kesukaannya.
"Mas...ada yang ingin aku bicarakan? ini soal putri kita."
"Naina?"
"Ya iyalah mas, memangnya kita punya putri berapa sih?tadi sepulang dari pesta, Naina tampak sangat sedih dan itu di karenakan ulah anak dari wanita sombong itu. Ish...gemas sekali aku, ingin rasanya memberi pelajaran pada gadis nakal itu."
"Siapa yang kamu maksud?" Rangga belum mengerti siapa yang tengah di bicarakan oleh Maima.
"Itu loh mas, anaknya si Bertha yang dulu membuang Naina. eh, sekarang anaknya yang berulah.Beraninya dia menyakiti hati putri kesayanganku."
Maima begitu kesal karena putri tersayangnya telah di sakiti.
"Lihat saja, besok aku akan datang ke sekolah dan memberi pelajaran pada gadis kurang ajar itu."
"Oo...iya, aku ingat perempuan itu.Dia yang waktu dulu pernah kamu maki-maki kan?lalu kenapa anaknya bisa sampai di undang ke pesta Rava?"
__ADS_1
Rangga dan Maima beum tahu kalau Chintya juga bersekolah di tempat yang sama dengan anak-anak mereka.
"Iya ya, kok tadi aku lupa tanya sama Rama kenapa gadis itu bisa berada di pestanya Rava? Besok pagi aku akan bertanya langsung pada Rama."
"Hmm...begitu pun lebih baik.Yang terpenting sejarang bagaimana urusan kita, sayang?" Semakin mendusel-dusel di tengkuk sang istri. Membuat Maima jadi merinding disko.
"Ihh...geli mas, urusan kita yang mana? sepertiny kita tidak memiliki rencana apa pun,kan?" Bingung dengan ucapan sang suami yang memang tak ada juntrungannya itu.
"Urusan yang ini,sayang!" Rangga meraih tangan kiri Maima lalu membimbingnya ke area bawah miliknya yang ternyata sudah bertegangan tiñggi membuat Maima terbelalak .
"Apa? Jadi yang mas maksud adalah urusan si otong ini toh?" Meremas manjah milik sang suami hingga membuat Rangga mengerang nikmat.
"Arghh...sayang, kamu sungguh membuat mas semakin tergila-gila. Kamu sungguh pintar, sayang. Ayo, lanjutkan! dia selalu menginginkan perhatianmu."
Namun, tiba-tiba Maima melepaskan genggamannya membuat Rangga mendengus kecewa.
"Heuhh...kenapa berhenti sih,sayang?"
"Itu loh, mas ada yang lebih penting yaitu urusan anak-anak kita.Terutama Naina."
Akhirnya dengan berat hati Rangga pun mendengarkan keluh kesah sang istri sambil menahan sesuatu yang ingin segera di tuntaskan.
"hmm...lalu, mau kamu bagaimana?"
"Besok aku akan datang ke sekolah dan akan memberikan pelajaran pada gadis itu.Kalau perlu aku akan bicara dengan kepala sekolah agar dia di keluarkan!?"
"Ya, tidak bisa seperti itu juga,sayang! walau pun kita adalah salah satu donatur di sekolah itu, kita todak boleh berbuat seenaknya. Nanti anak-anak kita yang akan kena imbasnya. Kamu mau Rama dan Naina di nilai oleh teman-temannya sebagai sebagai anak yang orang tuanya arogan dan bertindak otoriter? tidak,bukan?"
Rangga mencoba memberi pengertian dan menasehati bahwa apa yang akan di lakukan oleh sang istri itu tidaklah di benarkan.
"Emm...iya juga sih? lalu solusinya bagaimana? aku tidak ingin Ñaina bersekolah akan tetapi perasaannya tertekan oleh bully-an dari si Chintya itu."
"Soal itu bisa kita pikirkan dan bicarakan eaok hari.Bagaimana?"
Maima berpikir sejenak dan akhirnya ia pun menuruti apa yang di katakan oleh Rangga.
"Baiklah, besok kita bicarakan dengan anak-anak. Kalau perlu kita percepat saja keberangkatan Naina ke Inggris!"
"Sabar, sayang! sebentar lagi juga mereka akan segera lulus dan biarkan mereka yang memutuskan akan kemana tujuan kedepannya. Kan, mereka yang akan menjalaninya.Kita jangan memaksakan kehendak jika mereka tidak menyetujui apa yang kita inginkan!"
"Okelah kalau begitu. Aku manut mas saja!"
Rangga pun merasa lega akhirnya Maima mau menurut padanya.
"Nah begitu dong, itu baru istrinya mas yang paling oke!Sekarang bagaimana kalau kita melanjutkan kegiatan kita? sambil menunjuk kearea bawah tubuhnya dan mengedipkan matanya nakal.
Maima pun mengerti apa yang di maksud oleh sang suami. Tentu saja dengan senang hati ia akan melayani hasrat biologis suaminya karena itu sudah merupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Ayukk...akhh, mas...sabar dong ah!"
"Mas sih sabar, sayang.Tapi, si otong yang sudah ngak sabar? lihatlah!"
"Woww...wes atos tenanan iki, mas. gek uwes...gaspoll lah!"
Tbc
__ADS_1