
Doni merebahlan tubuh Maima diatas ranjang, disalah satu kamar tamu. Wajah Maima terlihat sangat pucat. Rani begitu miris melihat keadaan sahabat yang sangat disayanginya itu.
Rani menyerahkan baby Rava pada bi Munah, lalu mendekati Maima yang belum sadarkan diri.
"Maima, kamu kemana saja selama ini?kenapa keadaanmu jadi seperti ini?" Rani mengelus pipi Maima.
Merasakan sentuhan halus pada wajahnya, Maima mulai membuka kelopak matanya. Ketika mereka saling bersitatap, Maima mengira bahwa ia sedang bermimpi bertemu dengan Rani yang sangat di rindukannya.
"Rani....aku kangen sekali sama kamu Ran." mengerjap-ngejapkan matanya.
"Iya, Mai. Rani juga sangat rindu sama kamu Mai."Mendengar suara Rani yang begitu nyata, membuatnya tersadar dan tergelak kaget karena ternyata itu adalah kenyataan dan bukanlah mimpi.
Rani menatap lekat Maima, hingga pandangannya terarah pada perut sahabatnya itu. Maima yang sadar langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Mai, itu....?" menatap penuh tanda tanya.
"Ke....kenapa aku bisa sampai dirumahmu Ran?" Maima mencoba mengalihkan pembicaraan.
Rani menggenggam tangan Maima." Kak Doni dan Angela menemukanmu pingsan dijalan, lalu mereka membawamu kesini. Sudah jangan berpikir macam-macam, sekarang istirahatlah! nanti kita makan bersama ya!" tersenyum lembut
"Rani tinggal dulu ya Mai." Maima tak menjawab, ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
---‐----------
Tepat pukul 19.00, Rani kembali kekamar Maima untuk mengajaknya makan malam bersama. Awalnya Maima menolak dengan alasan malu pada kedua orang tua Varell. Ia sadar akan keadaan dirinya, semua pasti akan mencurigainya.
"Enggak deh Ran, aku nanti saja bareng bi Munah setelah kalian semua selesai."
"Kamu ini apa-apaan sih Mai, sudah kayak siapa aja? Ayo, nanti mama Sandra akan marah kalau kamu malah menolak untuk makan bersama kami!" Rani tetap memaksa.
Akhirnya Maima pun menuruti ajakan Rani, mereka menuju ke ruang makan bersama. Mama yang melihat kedatangan Maima dan menantunya itu segera berdiri dan menghampiri Maima.
"Maima, ayo duduk sini sayang!" Mama Sandra menggiring Maima untuk duduk disalah satu kursi.
"I....iya tante, terima kasih." tersenyum kaku
Seperti biasa, setelah keluarga itu selesai makan malam. Mereka akan bersantai sejenak sambil menikmati secangkir teh dan mengobrol.
Maima masih merasa canggung dan tak enak hati karena membuat repot Ranindan keluarganya.
"Nak Maima sekarang tinggal dimana? sudah lama ya tidak main kesini."
"I....iya tante, maaf saya...." Maima tak melanjutlan lagi ucapannya, karena dia sendiri pun bingung harus beralasan apa?
__ADS_1
"Ma, Pa. Maima boleh kan menginap disini, Rani masih kangen. Sudah berbulan-bulan kita tak bertemu." Rani berekspresi sambil memberikan kode pada Mama Sandra.
"Ah iya, tentu saja boleh. Kalian pasti ingin temu kangen, mau ngobrol banyak bukan?" Mama Sandra menangkap akan maksud dari menantunya.
"Terima kasih tante, om. maaf kalau Maima merepotkan."
"Enggak lah Maima, jangan sungkan. kamu juga kan anak mama juga. oke? santai saja!" Mama Sandra tersenyum sangat lembut pada Maima, membuatnya merasa nyaman.
"Mai, Rani mau menidurkan baby Rava dulu ya. nanti aku akan menyusul ke kamarmu."
Maima pun mengangguk, Sejak datang Maima memang agak pendiam. Ia hanya bebicara seperlunya saja. tidak seperti Maima yang biasanya selalu ceria.
tok tok tok
kriett
"Maima apa kamu sudah mau tidur?" Rani membuka pintu dan langsung masuk.Ia membawa segelas susu hangat lalu diletakkannya diatas meja nakas. Melihat Maima tengah duduk ditepi ranjang sambil melamun.
"Mai....Maima, apa Rani mengganggu?"
Menyadari kemunculan Rani yang sudah berada dihadapannya, sontak membuatnya terjingkat kaget.
"Ah, iya Ran. Maaf ya aku ngak tahu ketika kamu mengetuk pintu." Maima menunduk malu.
"Sebelumnya Rani minta maaf ya , jika Rani lancang bertanya hal pribadi pada Maima. Apa ada yang ingin Maima ceritakan? tapi kalau Maima tidak berkenan juga ngal apa-apa. Rani sangat khawatir karena Maima seperti menghilang begitu saja."
Maima menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berat.
"Ran, kalau aku menceritakan semuanya. Kamu janji kan ngak akan memberitahukan tentang keberadaanku disini?"
Rani mengernyit dan menatap manik mata Maima penuh tanya. "Memangnya kenapa Mai? apa ada seseorang yang kamu hindari? Apakah ayah dari bayi yang kau kandung ini?" Rani menyentuh perut Maima.
Maima sontak kaget ketika Rani menyentuh perutnya dan sahabatnya itu telah mengetahui kalau dirinya tengah hamil. matanya mulai berkaca-kaca.
"Hidupku sudah hancur Ran. Tapi, aku sudah ikhlas menerimanya dan akan menjalani takdir yang telah digariskan oleh yang maha kuasa. Dan kamu juga tidak usah mengkhawatirkan aku ya Ran! Aku pasti kuat, demi anakku." mengelus perutnya dan mencoba untuk kuat didepan sang sahabat.
"Apa kamu tak ingin berbagi cerita pada sahabatmu ini? Bagaimana semua ini bisa terjadi padamu Mai, siapa laki-laki brengsek itu?"
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Semua berawal pada malam acara pesta kak Zack...." Maima menceritakan dari awal sampai akhirnya kesucian yang ia jaga selama hampir 20 tahun terenggut hanya dalam satu malam dan laki-laki itu adalah Rangga. Hingga akhirnya akibat dari kejadian itu, telah membuahkan hasil yaitu hadirnya makhluk mungil di rahimnya. Serta alasan kepergiannya dari rumah orang tua Rangga.
Rani menatap nanar wajah Maima yang sayu dengan mata sembabnya." Malang sekali dirimu Mai. Semoga suatu saat kamu akan meraih kebahagiaanmu."
"Bersabarlah Mai, esok pasti akan lebih baik. sekarang cepatlah tidur, sudah larut malam. bumil ngak baik begadang loh! oh ya, sampau lupa kan. ini diminum dulu susunya ya Mai, biar dedeknya sehat dan kuat seperti mama nya!" Rani terkekeh menggoda Maima agar gadis itu bisa kembali tersenyum dan usaha Rani pun berhasil. Senyum langsung merekah di wajahnya.
__ADS_1
"Ah, kamu bisa saja Ran. Terima Kasih ya Ran untuk segalanya. Kamu adalah sahabat terbaikku."
Rani kembali kekamarnya. Ternyata Varell juga belum tidur, suaminya itu masih berkutat didepan laptop menyelesaikan pekerjaannya. Melihat sang istri, Varell menutup laptopnya lalu meletakkannya diatas meja.
"Maima sudah tidur sayang? sini!" Varell menepuk kasur di sebelahnya. Rani beranjak naik keatas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disamping suaminya.
"hmm, semoga saja ia bisa tidur dengan nyenyak mas. Kasihan Maima, sepertinya dia sangat tertekan? Masalahnya begitu rumit. ini semua gara-gara kedua sahabatmu itu mas, mereka yang telah membuat Maima jadi sesedih itu."
"Gara-gara dua sahabatku? maksudmu siapa? apa Zack dan Rangga? benar kan tebakkanku?" Varell sudah bisa menebaknya.
"Iya, terutama kak Rangga. Ternyata dia yang telah menghancurkan masa depan Maima. Dasar laki-laki pengecut." Tani terbawa emosi mengingat cerita Maima tadi.
Varell masih menerka-nerka maksud dari perkataan istrinya.
"Apakah Rangga telah berbuat sesuatu pada Maima?"
"Bukan berbuat lagi mas, malah membuat Maima sampai hamil?" Ups....aduh, keceplosan deh?"
"Jadi benar Maima sedang hamil? Dan Rangga adalah....?"
"Iya mas, ngak usah ditebak juga sudah ketahuan kan. Mas, jangan kasih tahu mereka berdua dulu ya! terutama kak Zack."
"Loh, memangnya kenapa dengan Zack?" Varell tak mengerti kenapa sahabatnya yang satu itu tidak boleh mengetahui keberadaan Maima.
"Kak Zack itu menyeramkan kalau sudah bucin akut, Maima sampai ketakutan mas. pokoknya awas ya kalau sampai mas Varell memberitahunya."
"Iya iya sayang, mas janji ngak bakal kasih tahu Zack atau pun Rangga. Sudah kan ini membahas soal Maima nya?"
"Iya sudah, mengingat kelakuan dua laki-laki tampan itu bikin menguras emosi saja."
Varell tersenyum menggodà sambil menarik pinggang Rani agar lebih menempel erat padanya.
"Hmm....Untuk mengobati kekesalanmu, bagaimana kalau suami gantengmu ini akan memberikan treatment agar jiwa dan ragamu bisa lembali rileks sayang, bagaimana? apakah tertarik?" Varell mulai mengusap-usap punggung Rani dan menatap netra sang iatri penuh damba. Rani pun mengerti apa maksud dari suaminya itu. Apalagi kalau bukan treatmen full body alias olahraga malam di atas ranjang panas mereka. Rani pun memelototkan matanya pada sang suami.
"Tidak tertarik.... sudah ah, besok saja ya sayang! Good nite my hubby!"
muach
muach
muach
"Treatmentnya bukan seperti ini sayang?"
__ADS_1
Tbc