
"A....apa kak Zack juga akan datang mas?" Air mata mulai menetes ketika Rangga mengangguk, membenarkan jika memang itu benar.
"Mas, aku takut....Jangan pergi mas!"
Deg
----‐--------------
Malam harinya Rangga tengah bersiap untuk bertemu dengan para sahabatnya di tempat biasa mereka berkumpul.
Maima menatap sendu suaminya. Hatinya begitu tak tenang melepas kepergian sang suami. Rangga dapat merasakan kegundahan yang tengah melanda istrinya.
"Mas...."
"Kenapa sayang?Sini mas peluk dulu ya biar bunda sama dedek tenang!" Rangga kemudian merengkuh tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Hal itu berhasil membuat Maima merasa hatinya tenang dan tenteram.
"Hati-hati ya mas, Jangan sampai terbawa emosi jika berbicara dengan kak Zack nanti!"
Rangga menangkup wajah Maima, menatap lekat wajah cantik sang istri. "Iya sayang, mas pasti akan mengendalikan diri dan tak akan terbawa emosi. karena mas sadar kalau mas yang salah telah merebutmu darinya." Mengecup kening lalu beralih ke bibir cherry Maima.
"Ya sudah, mas berangkat dulu ya! Ayah pergi dulu ya dek, baik-baik sama bunda ya!" Mengelus dan mencium perut buncit istrinya.
"Iya mas, hati-hati. cepat pulang ya ayah!"
Rangga membalas dengan lambaian tangannya dan senyuman hangat.
--‐------------
Sementara itu di kediaman Varell juga sedang bersiap untuk berangkat ke tempat pertemuan dengan para sahabatnya.
Rani hanya memperhatikkan gerak gerik sang suami dari atas tempat tidur sambil menyusui baby Rava.
Kemudian Varell mendekat pada istri dan anaknya, mencium kening Rani dan baby Rava.
"Aku berangkat sekarang ya sayang! "
"Mas, jangan terlalu malam pulangnya! bantu kak Rangga ya mas, semoga saja kak Zack bisa menerima semua kenyataan yang telah terjadi."
"Aamiin. iya, pasti dong sayang. walau bagaimanapun mereka berdua adalah sahabat terbaik yang selalu ada dalam suka maupun duka."
Mereka telah berkumpul di salah satu ruang VVIP di sebuah club tempat biasa mereka nongkrong.
Tampak Zack yang tak lepas menatap tajam pada Rangga. Posisi mereka duduk saling berhadapan di sebuah sofa yang berbentuk U. Varell duduk di sebelah Zack, sedangkan Doni disebelah Rangga.
"Jadi, katakan!" masih dengan tatapan menghunusnya.
Rangga berusaha tetap tenang menghadapi Zack yang pastinya tengah dilanda amarah pada dirinya.
"Zack, sebelumnya gue mau minta maaf atas semua yang telah terjadi diantara kita. sungguh gue ngak bermaksud untuk merusak Maima ataupun merebutnya dari loe. Semua itu terjadi di luar kendali dan kami mela....."
"Kalau bukan, trus apa maksudnya sampe loe ngebuntingin pacar gue brengsek?"
Amarah Zack semakin memuncak ketika Rangga mengatakan telah merusak Maima dengan kata lain laki-laki yang selama ini mengaku sebagai sahabatnya itu telah menyentuh dan menodai kekasihnya.
"Please, dengerin penjelasan gue dulu Zack! setelah itu terserah loe mau marah dan hajar gue juga pasti bakal gue terima Zack."
__ADS_1
"HAHH....pokoknya intinya elo dah ngehancurin semuanya, terutama Maima. Cewek yang paling gue cintai, gue masih belum terima. Maima harus tetap menjadi milik gue!"
Varell dan Doni mulai ancang-ancang untuk menghalau keduanya agar jangan sampai bentrok. terutama Zack yang semakin di kuasai emosi, bahkan wajahnya sudah merah padam.
"Oh, kalau itu....sorry, gue ngak bisa Zack. Maima sekarang sudah jadi milik gue, kami sudah menikah. Dan asalkan loe tahu, Maima dari dulu hanya cinta sama gue. Loe harus bisa terima kenyataan itu Zack!"
"Dan elo ngak pernah cinta sama dia, loe selalu mempermainkan perasaannya. O....jadi loe udah nikahin Maima? it'a ok, no problem. gue bakal rebut di balik sampe kalian berpisah!"
"Apa maksud loe Zack? kurang ajar loe ya, ngak bisa banget di kasih pengertian. terima dong kenyataan yang ada, intinya sekarang kami sudah bahagia bersama dengan calon anak kami kelak. titik. itu aja yang maj gue sampein."
"Gimana sih loe ngga, malah nantangin zack gitu?" Doni berbicara pelan tepat di dekat telinga Rangga.
"Elo yang ngak tahu diri Ngga, kurang ajar loe main serobot sampe nikmatin pacar orang seenak jidat loe. sini gue kasih pelajaran loe....!"
BUGH
PlAKK
DUGH
Varell yang tengah lengah, kecolongan juga. Zack langsung melesat menghantam Ranvga dengan berbagai pukulan dan tendangan di wajah dan perutnya.
"ARGHH.... loe yang ngak tahu diri, Maima sama sekali ngak ada rasa sama loe. masih aja loe ngejar-ngejar dia, sadar dong loe sadar Zack! buka mata loe lebar-lebar!"
BUGH
BUGH
" Gue ngak peduli, ni rasakan!"
PRANG.....
BRAKKK
"Arghhh !?? " Rangga meringis kesakitan karena terkena hantaman botol yang secara tiba-tiba mendarat tepat di kepalanya.
"Woii....Rell, amankan Zack dulu, cepat! Security....!!" Doni memegangi Rangga yang sudah terlihat sempoyongan karena merasakan sakit di kepalanya yang sudah dibanjiri oleh darah yang semakin mengalir deras.
Tak beberapa lama, dua orang security berbadan besar pun langsung membantu mengamankan situasi dengan memegang Zack yang masih terus mencoba mendekati Rangga.
"TENANG ZACK....TENANG! Loe liat itu Rangga!" Varell sudah habis kesabarannya menghadapi Zack yang memang tak terkontrol emosinya.
"Don, tolong loe bawa Rangga ke rumah sakit! biar Zack gue yang urus! Ayo pak, bantu saya!" Varell kemudian keluar dari ruangan itu sambil menarik Zack, dibantu oleh dua orang petugas keamanan club.
Begitupun Doni, ia juga langsung memapah Rangga yang telah terkapar tak berdaya. Doni juga meminta bantuan karyawan di club untuk membawa Rangga ke mobilnya.
---‐------------
PRANGG.....PYARRR
"Akhhh !?"
"Ada apa ini? kenapa dadaku tiba-tiba sakit sekali? perasaanku juga tidak tenang, mas Rangga? tidakkk?!"
Matanya mulai berkaca-kaca dan sedetik kemudian Makma mulai terisak.
hiks hiks hiks
"Maima....ada apa sayang, apa yang terjadi?"
__ADS_1
Bu Herlina yang mendengar suara pecahan kaca pun segera menghampirinya. dan ternyata Maima tengah menangis dengan pecahan kaca gelas yang berserakan di bawah dekat kakinya.
"Ma....mas Rangga ma?"
Bu Herlina memeluk Maima, menenangkannya.memapahnya menuju ke ruang tengah dan mendudukkannya di sofa.
"Mbok Sarmi....mbok, tolong bersihkan pecahan gelas ini! hati-hati ya mbok!"
Tak berapa lama, mbok Sarmi datang dengan membawa segelas air putih dan menyerahkannya pada bu Herlina.
"Ini bu minumnya !"
"Terima kasih mbok. ini sayang, ayo diminum dulu!"
Maima meneguknya sampai habis. setelah itu bu Herlina mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja dan langsung menghubungi putranya.
" Ya hallo...!"
"Loh ini teleponnya Rangga kan? saya bicara dengan siapa ya?" bu herlina mengernyit bingung karena yang mengangkat bukan sang putra.
"Ah, iya tante. maaf ini Doni. Rangga sekarang sedang ada di rumah sakit tan. ini tadi Doni yang bawa."
"Apaa? Rumah Sakit? apa yang telah terjadi Don, Rangga kenapa?" bu Herlina mulai panik, bahkan Maima yang mendengar kalau sang suami tengah berada di rumah sakitpun tak bisa menahan tangis kesesihannya.
"Mama....mas Rangga kenapa ma?" hiks hiks hiks
"Tenang sayang, tenang dulu ya!"
"Don, sekarang kalian di Rumah Sakit mana?"
" Di Rumah Sakit Setia Harapan, tante. Rangga masih di IGD."
"Terima kasih ya Don, kami akan segera kesana."
"*Oke tante. Doni tutup dulu ya!"
klekk*
Bu Herlina dan Maima pun langsung bergegas pergi menuju kerumah sakit diantar oleh supir. sebelumnya bu Herlina menghubungi pak Jatmiko terlebih dahulu.
Tepat di depan lobby Rumah Sakit, mereka bertemu dengan pak Jatmiko yang juga sudah sampai. Pak Jatmiko langsung menuju kerumah sakit dari kantornya.
Maima berlari memasuki Rumah Sakit dan menuju ke ruang IGD. Bu Herlina sampai berteriak mengingatkan sang menantu agar tidak berlari terlalu kencang karena ia tengah hamil.
"Maimaaa....jangan lari sayang!" Bu Herlina dan pak Jatmiko pun mengejar Maima yang semakin jauh.
"Aduh pa, mama malah lebih khawatir sama Maima dan cucu kita pa?"
"Ayo cepat, kita susul Maima!"
Sesampainya di depan ruangan IGD, Maima menghentikan langkahnya ketika melihat Doni yang duduk di kursi tunggu.
"Kak Doni....Mas Rangga mana kak?"
"Masih di dalam Mai, tenang ya! Rangga ngak kenapa-napa kok. cuma luka di kepalanya saja terkena pecahan botol."
"APAA....?"
BRUKK
__ADS_1
"MAIMAA!?"
Tbc