
Ting
"Maima, aku ingin bertemu denganmu. kita harus bicara dari hati ke hati. hanya kita berdua manis!"
"Apa-apaan sih ni anak?" Rangga begitu geram karena Zack dengan beraninya mengirim pesan singkat pada Maima.
"Bagaimana ini mas?apa yang harus kita lakukan?" Maima menatap takut suaminya.
"Biarkan saja, tidak usah di ladeni. nanti kalau dia masih mengejar juga. kita akan menghadapinya bersama."
Maima hanya terdiam, namun tampak jelas ada yang di pikirkannya. dan Rangga mengerti akan hal itu.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan! ingat, kamu sekarang sedang hamil. kaaihan dedek nya nanti!"
"Ayo, lebih baik kita istirahat saja.bobok siang!" Rangga membimbing sang istri naik ke atas tempat tidur, lalu perlahan merebahkannya. begitupun ia sendiri, memeluk tubuh Maima dengan erat dan senyaman mungkin.
Sejak Maima tak pernah menghiraukan apa pun usaha yang di lakukan Zack untuk mendekatinya. Keadaan rumah tangga mereka terasa tentram.
Kehamilan Maima kini telah memasuki bulan ke tujuh. Di tengah kebahagiaan dalam acara syukuran tujuh bulanan, terjadi sesuatu yang membuat mereka was was.
Ada paket kiriman yang tiba-tiba datang, berupa sebuah kado yang terbungkus begitu rapi dan tampak cantik. Di sana tertulis untuk Maima.
Dengan rasa penasaran, Maima langsung ingin membukanya. Namun seketika di cegah oleh Rangga.
"Jangan di sentuh! biar mas saja yang membukanya!" Rangga pun mengambil alih kado tersebut dan perlahan ia mulai membukanya.
Mata keduanya terbelalak melihat isi dari kado tersebut. Yaitu sepaket perlengkapan bayi yang sangat menggemaskan.
"Wah, lucu banget ya mas. warnanya juga cocok sesuai dengan dedek. Siapa ya mas pengirimnya?"
"Sebentar! oh ya, ini ada kartu ucapannya?" Rangga mengambil dan membacanya. sedetik kemudian raut wajahnya berubah, amarah mulai merasuki di hatinya.
"Mas, ada apa?" Maima begitu takut melihat ekspresi wajah sang suami yang penuh dengan amarah.
"Zack....ternyata dia masih belum juga menyerah?"
"Kak Zack? Jadi yang mengirim ini semua adalah kak Zack? memangnya dia bilang apa mas?" Maima meraih kartu ucapan yang masih di pegang oleh Rangga.
Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya lemas tak bertenaga.Tangan Maima bergetar dan matanya pun mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba rasa takut menderanya.
__ADS_1
" Selamat ya manis, tak terasa sudah tujuh bulan usia kandunganmu. Andai saja bayi itu adalah milikku, pasti akan sangat membahagiakan. Kita pasti akan menjadi keluarga kecil yang berbahagia. Semoga kelak takdir akan mempertemukan kita dan membuat kita bisa bersama kembali. l love you manisku." 😘❤
"Mas, aku takut? kenapa kak Zack berbuat seperti ini?"
"Tenanglah sayang, jangan khawatir hemm! semua akan baik-baik saja. Mas akan segera menyelesaikan ini semua, oke!" Rangga merengkuh tubuh Maima ke dalam pelukannya.
Batas kesabarannya habis sudah.Rangga menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Zack sudah sangat keterlaluan. Laki-laki itu ternyata masih juga terobsesi pada istrinya.
Setelah Maima tertidur lelap, Rangga beranjak turun dari tempat tidur. Meraih ponselnya lalu menuju ke balkon kamar. Ia kemudian menghubungi seseorang.
---‐--------------
Di kediaman keluarga Darmanto. Varell baru saja selesai memberaihkan diri, melakukan ritual biasanya sebelum beranjak untuk tidur.
Sedangkan Rani, baru saja masuk ke dalam kamar setelah menidurkan baby Rava. Sebenarnya mereka telah mempekerjakan seorang baby sitter. Ya, Varell yang memutuskan agar mereka mengambilnya.
Varell kasihan pada sang istri yang terlihat kelelahan, setidaknya dengan adanya seorang pengasuh yang membantunya, Rani memiliki waktu istirahat yang cukup.
Begitu pula ada yang lebih penting, apa lagi kalau bukan sang suami yang ingin mendapatkan perhatian lebih dari istri cantiknya.
"Mas belum tidur?"
"Belum sayang, aku menunggumu." Varell sudah standby di posisi ternyamannya di atas tempat tidur, sambil memainkan ponselnya. Matanya sesekali menyorot pada sang istri yang berjalan menuju ke kamar mandi.
kriettt
"Sudah? ayo cepat kesini sayang!" Varell menepuk permukaan kasur di sebelahnya.
Rani pun menurut dan langsung naik ke atas tempat tidur, merebahkan diri di samping sang suami.
"Sepertinya tadi mas baru telponan ya, sama siapa?" Jemarinya aktif memainkan kancing baju piyama suaminya.
"Di buka saja sayang, tak usah ragu-ragu. jangan hanya di mainkan saja seperti itu!" Menaik turunkan alis matanya.
"Ish....mas nih, pikirannya mesum saja?"
Rani memukul dada sang suami dengan ekspresi manja, membuat Varell semakin gemas di buatnya.
"Jawab dulu, tadi mas baru bicara sama siapa?"
"Oh, itu tadi Rangga yang menelpon. Katanya Zack mulai berulah lagi?"
__ADS_1
"Berulah lagi? maksudnya? apa kak Zack mulai meneror Maima kembali?" Wajah Rani mulai serius ketika mendengar soal Zack yang memang juga mencintai sahabatnya.
"Iya, lemarin pas acara tujuh bulanan. Zack mengirimkan sebuah kado yang isinya satu set perlengkapan bayi.Dan yang membuat Rangga marah adalah isi dari kartu ucapan di dalam kado itu."
Rani mengernyitkan keningnya penuh tanda tanya.
"Kalau hanya memberi kado yang isinya perlengkapan bayi sih pasti tidak jadi masalah. Yang membuat mereka terkejut dan tak tenang adalah isi dari tulisan di kartu itu. Yang menyatakan bahwa Zack berangan kalau bayi itu adalah miliknya dan Maima dan Zack masih berharap kalau mereka akan kembali bersama."
"Kak Rangga pasti sangat marah kan? trus bagaimana dengan Maima, mas?dia baik-baik saja kan?"
Rani mengkhawatirkan keadaan Maima yang tengah hamil besar lalu menghadapi masalah yang cukup pelik itu.
"Entahlah, Rangga bilang tubuh Maima sampai gemetaran. Rangga sangat khawatir dengan keadaan istri dan baby nya."
"Kasihan Maima? Lalu apa yang akan dilakukan oleh kak Rangga? Jangan sampai terjadi sesuatu lagi mas sama mereka. Mas Varell mau kan membantu kak Rangga lagi?"
"Tentu saja sayang, tidak perlu di minta punmas akan dengan senang hati membantu mereka. Kamu juga, seringlah main ke rumah mereka. temani dan hiburlah Maima agar tidak terlalu tertekan memikirkan masalahnya. Yang terpenting tentu saja kesehatan ibu dan baby nya!"
"He'em, Rani pasti akan kesana mas. Menghibur Maima agar dia tidak stress." Rani kembali memainkan kancing baju Varell, membuat sesuatu bangkit dari peraduannya.
Varell menarik nafas dalam dan mencoba untuk menahan hasratnya yang seketika bangkit karena sentuhan lembut jemari sang istri disekitar dadanya.
"Sayang, bukalah saja. jangan hanya di mainkan seperti itu! Kau juga telah membangunkan sesuatu di bawah sana?"
Rani seketika menghentilan gerakan tangannya. kemudian ia melirik ke arah bagian bawah tubuh sang suami. Mulutnya mengangga dan matanya pun melotot melihat senjata tempur milik suaminya yang sudah siap siaga.
"Ya ampun mas, kenapa dia malah bangun sih? Mas lagi kepingin ya?" Rani menatap mata Varell dan mengerling genit, menggoda sang suami. Bahkan kini jemarinya pun mulai aktif kembali membuka satu persatu kancing baju suaminya.
"Baiklah sayang, aku sudah tidak tahan lagi?"
Menindih tubuh sang istri dan mulai melancarkan serangannya, sebelum menuju ke pertempuran inti.
"Iya, satu ronde saja cukup kok. agar mas bisa tidur nyenyak?"
Rani memicingkan matanya, mendengar perkataan yang tidak mungkin dari bibir suaminya.
"Satu ronde? yakin mas?"
"Hemm....lihat saja nanti?"
Kyaaa
__ADS_1
Tbc