
"Apa maksud dari semua ini Rangga? ayo cepat jelaskan sekarang juga pada mama!"
Maima dan Rangga sangat terkejut ketika bu Herlina tiba-tiba saja membuka pintu dengan begitu kerasnya. Tatapan bu Herlihat begitu mengintimidasi keduanya, terutama pada sang putra.
"Kenapa kamu malah bengong saja Rangga? apa maksud dari perkataanmu barusan?"
Maima menunduk takut tak berani membalas tatapan penuh amarah yang jelas terpancar dari wajah bu Herlina.
"Baik ma, sebaiknya kita bicara tidak disini. Aku akan menkelaskan semuanya pada mama."
"Bu, saya mohon maaf bu." Maima menangkupkan kedua tangannya.
Bu Herlina terdiam sejenak, lalu ia melangkah keluar dari kamar Maima. sebelum itu ia mengatakan seauatu pada Maima.
"Saya mau bicara dengan putra saya." lalu berlalu pergi mengikuti langkah Rangga yang sudah keluar terlebih dahulu.
Setelah kedua ibu dan anak itu pergi, tubuh maima langsung merosot lemas bagai tak bertenaga. saat ini ia benar-banar kalut dan tak bisa berpikir jernih. Pikiran-pikiran buruk mulai menghinggapi dirinya.
"Bu Herlina sepertinya sangat marah. lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku pergi saja? iya, mungkin ini memang sudah waktunya."
tok tok tok
"Mbok, mbok Sarmi. ini Maima mbok. tolong buka pintunya mbok!"
ctekk
kriett
"Mbok....hiks hiks hiks."
"Maima, ada apa Mai?"
Maima langsung berhambur memeluk mbok Sarmi sambil terisak dan tubuh yang gemetaran. Mbok Sarmi mengurai pelukannya, menatap wajah Maima yang memucat dan penuh derai air mata. Kemudian mbok Sarmi mengajak Maima masuk kedalam kamarnya.
"Sudah Mai, ayo masuk dulu dan jelaskan semua apa yang terjadi sampai membuatmu kacau seperti ini!"
"Bu Herlina sudah mengetahui segalanya dan beliau begitu murka pada kami mbok. Sebaiknya aku memang harus segera pergi dari sini, aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. aku hanya akan menambah masalah dikeluarga ini mbok, nanti tolong sampaikan permintaan maafku pada bu Herlina dan pak Jatmiko!"
"Kamu ini bicara apa sih nduk? nanti dulu, tadi kamu bilang kami? maksudmu kami itu siapa?"
Maima menghentikan ucapannya karena pertanyaan dari mbok Sarmi dan Maima sadar bahwa tadi ia telah keceplosan bicara.
"Itu mbok sebenarnya ayah dari bayi yang kukandung ini adalah kak Rangga." Maima kembali menunduk dan mengusap perutnya.
"Kenapa kamu tidak menceritakannya Mai? memangnya apa yang membuatmu terus bungkam."
__ADS_1
"Sebenarnya begini mbok, kejadian itu bermula tanpa sengaja kak Rangga sebenarnya cuma berniat menolongku dan ...."
Maima menceritakan dari awal kejadian sampai saat ia mengetahui bahwa dirinya hamil. Hingga kejadian tadi ketika bu Herlina mendengar pembicaraannya dengan Rangga.
"Maka dari itu, aku sudah memutuskan akan pergi mbok. aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi. biarlah aku yang akan menanggung semuanya sendiri."
"Jangan berpikiran seperti itu dulu nduk! sebaiknya dibicarakan baik-baik sama mas Rangga. kamu juga kan belum mendengar langsung apakah dia mau bertanggung jawab atau tidak terhadap kamu dan calon anakmu ini Mai." Mbok Sarmi mencoba menasehati Maima agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan karena ini menyangkut masa depan anaknya kelak yang tentunya sangat membutuhkan seorang ayah.
Maima tak berkata apapun. lalu ia pamit pada untuk kembali kekamarnya.
"Aku mau kembali kekamar dulu ya mbok."Maima berjalan dengan tubuh gontai, kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
Sementara itu diruang keluarga, Rangga tengah disidang oleh kedua orang tuanya. Ia siberondong dengan berbagai pertanyaan. terutama soal kehamilan Maima.
Dan Rangga menceritakan semuanya pada tanpa ada kebohongan dan jujur ia merasa sangat bersalah pada Maima yang telah ia hancurkan masa depannya.
"Jadi sekarang, apa yang akan kamu lakukan terhadap Maima?" Pak Jatmiko menatap dingin putranya.
"Rangga akan bertanggung jawab dan akan segera menikahi Maima pa, ma."
"Baguslah kalau kau berpikiran seperti itu, karena kami benar-benar kecewa denganmu nak." Kali ini bu Herlina yang merasa lega dengan keputusan sang putra yang akan bertanggung jawab atas semua yang telah dilakukannya.
"Mbok Sarmi, mbok kesini sebentar mbok!" bu Herlina yang melihat mbok Sarmi yang tengah melintas pun langsung memanggilnya.
"Tolong panggilkan Maima kesini ya mbok!"
"Baik bu." jawab mbok Sarmi, kemudian ia langsung bergegas menuju kebelakang menuju kekamar Maima.
tok tok tok
"Mai, simbok masuk ya?!"
kriett
Mbok Sarmi membelalakkan matanya melihat Maima yang tengah duduk ditepi ranjangnya. penampilannya pun terlihat rapi dan adanya sebuah tas jinjing yang cukup besar berada dibawah dekat ranjang.
"Mai, kamu mau pergi?"
"Iya, aku ngak bisa berlama-lama lagi berada disini mbok. apalagi setelah bu Herlina tahu tentang keadaanku. Aku ngak mau membuat kekacauan dikeluarga ini, lebih baik aku pergi menjauh." matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi bu Herlina menyuruhmu keruang keluarga, disana juga ada pak Jatmiko."
Maima menghela nafasnya sejenak, setelah itu iapun bangkit dan meraih tas nya lalu melangkah mantap, namun dengan dada yang masih terasa sesak.
"Baiklah mbok, apapun yang terjadi aku sudah siap."
__ADS_1
"Kamu berani menghadapi mereka seorang diri kan Mai? simbok ngak enak kalau ikut nimbrung diantara para majikan." menyentuh pundak Maima.
"Iya, ngak apa-apa. terima kasih ya mbok selama aku disini mbok Sarmi begitu baik dan pengertian padaku."
Maima memeluk wanita tua yang sudah dianggapnya sebagai pengganti ibunya.
Langkah Maima terhenti ketika akan mendekati ruang keluarga.Ia memajamkan matanya sambil menetralisir hatinya yang tak tenang. Setelah itu ia melangkahkan kakinya kembali.
"Permisi Pak, bu....!"
Entah mengapa Maima malah tak bisa melanjutkan ucapannya lagi, lidahnya terasa kelu.Apalagi melihat tatapan pak Jatmiko dan bu Herlina yang tak bisa terbaca.
"Duduklah Maima!"
Pak Jatmiko menyuruh Maima untuk duduk di sebelah Rangga, namun ia tampak sungkan dan tak enak hati pada bu Herlina yang memandangnya dengan tatapan dingin.
"Ba....baik Pak, terima kasih." Ia lalu duduk di samping Rangga namun agak menjaga jarak.
"Ehemm, begini nak Maima. Kami sudah mendengar semuanya langsung dari Rangga. Bapak dan Ibu sudah menanyakan apa langkah kalian selanjutnya? Rangga akan bertanggung jawab dan akan menikahimu. Dan sekarang kami hanya ingin memastikannya juga pada nak Maima. Apakah Nak Maima bersedia menikah dengan putra kami? Walau bagaimanapun bayi itu adalah cucu kami. Dan sudah seharusnya Rangga menjalankan tanggung jawabnya sabagai seorang Ayah. Bagaimana nak Maima?"
Maima jadi bingung harus berkata apa, niat awalnya sebenarnya hanya ingin berpamitan dan meminta maaf atas semua kekacauan yang telah ia perbuat. Mengetahui bahwa Rangga akan menikahinya, membuat hatinya lega dan juga was-was. Takut semua itu hanyalah harapan semu, ia sudah terbiasa mengalaminya.
"Maaf, pak,bu. Sebenarnya sejak awal saya tidak mempermasalahkan soal keadaan diri saya saat ini. Saya cukup mengerti maksud kak Rangga waktu itu hanya ingin menolong dan saya tidak berhak menuntut apapun. saya cukup tau diri. Kejadian itu tanpa disengaja dan kami juga tidak memiliki hubungan apapun. Maima menunduk karena air matanya sudah hampir tumpah, ia ingin terlihat kuat dan baik-baik saja.
"Sebenarnya saya ingin mohon pamit pada bapak dan Ibu. Saya sangat malu telah membuat kericuhan di keluarga ini. Dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Maima menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Iya, kami sudah melihatnya dan mengerti. Jadi, Rangga. Bagaimana usahamu untuk meyakinkan nak Maima agar mau menerima dan bersedia untuk menjadi istrimu?"
Rangga menoleh dan menggerakkan tubuhnya menyamping kearah Maima. Kemudian ia menggeser posisi duduknya mendekat pada Maima.
"Mai, Maafkan atas segala kesalahan yang selama ini kuperbuat dan pastinya telah sangat menyakiti hatimu. Aku ini memang laki-laki brengsek dan pengecut, yang tak berani menghadapi masalah yang telah kuperbuat sendiri."
"Maukah kamu memaafkan dan menerimaku Mai. Menikahlah denganku Maima. dan menjadi pendamping hidupku dan kita akan menjalaninya bersama dalam suka dan duka? Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian." Meraih kedua tangan Maima dan menggenggamnya erat penuh kelembutan.
Maima menatap mata Rangga dan mencari kejujuran dan ketulusan disana. Dan ia dapat melihat dan merasakan adanya ketulusan pada diri laki-laki itu.
Ia menatap pak Jatmiko dan bu Herlina. Ketika melihat senyum hangat yang terpancar dari wajah bu Herlina dan wanita itu juga menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia telah menyetujui dan menerima kehadirannya.
"Ba...baiklah kak, aku mau menikah denganmu." Maima sungguh grogi dan semburat merah muncul dipipinya, ia pun tertunduk malu.
"Terima kasih ya Mai." Rangga memeluk dan mencium Maima, namun diurungkannya.
"Ehemm, sabar Ngga belum halal!" dan keduanya pun jadi salah tingkah.
Tbc
__ADS_1