
Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun tiba, mobil Lexus Lc500 berwarna merah yang di kendarai Zack akhirnya memasuki pintu gerbang kediaman keluarga Darmanto.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Varell dan Rani yang sudah berdiri di teras depan.Rani terlihat amat tak sabar untuk mengetahui keadaan Ayu, ia ingin tahu apakah gadis itu baik-baik saja? apakah masih utuh? maksudnya, apakah Zack tidak melakukan sesuatu padanya? pikiran Rani sudah kemana-mana.
Sedangkan Varell berkacak pinggang, ketika melihat Zack yang baru saja turun dari kendaraannya. Laki-laki itu hanya cengengesan saja melihat tatapan mematikan sang sahabat.
"Assalamuallaikum bro. Apa kabar?" Dengan gayanya yang sok cool. Tapi, memang cool sih! Zack meraih tangan Varell untuk di ajaknya bersalaman. Varell hanya menggelengkan kepala lalu melenggang masuk ke dalam.
Ayu terlihat sungkan dan ada rasa takut juga karena walau bagaimana pun ia masihlah seorang karyawan di rumah tersebut.
Gadis itu melangkah dengan perlahan sambil menunduk tak berani menatap wajah Rani. Ia mengahampiri sang majikan yang masih berdiri menunggunya.
"Maaf kan saya nona Rani. Saya benar-benar tidak bermaksud untuk melalaikan pekerjaan saya.Saya berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi." Ayu mendongak menatap Rani lalu menunduk kembali.
"Iya, tidak apa-apa Yu. Justru Rani yang mengkhawatirkanmu. Ayu tidak kenapa-napa kan? apa kak Zack telah berbuat sesuatu padamu?"
Rani memegang pundak kanan dan kiri Ayu sambil memindai tubuh gadis itu, memastikan keadaan fisik nya.
Di perlakukan sedemikian baiknya membuat Ayu semakin tidak enak dan malu tentunya.
"Saya tidak apa-apa nona. tuan Zack juga tidak melakukan apapun terhadap diri saya. terima kasih anda sudah mengkhawatirkan saya."
"Syukurlah kalau begitu. Ayo, masuklah!"
Rani pun tersenyum lembut lalu melangkah masuk ke dalam rumah menyusul sang suami yang telah masuk lebih dulu.
Ayu mengekori sang majikan di belakangnya. Setelah sampai di ruang tengah, Ayu pamit ke kamarnya yang berada di area belakang rumah. Ia ingin membersihkan diri dan berganti pakaiannya agar bersih ketika menyentuh baby Rava.
"Maaf, Tuan, nona!saya permisi mau ke kamar!"
"Oh, iya silahkan Yu. Tidak usah terburu-buru karena baby Rava sedang tidur di kamar mama!"
"Baik nona, terima kasih dan permisi!" Gadis itu pun melenggang pergi begitu saja tanpa menyapa Zack, bahkan melihat ke arahnya pun tidak? membuat wajah tampan itu cemberut seketika.
"Muka loe kenapa Zack? lecek amat?" Varell terkekeh geli melihat raut wajah sang sahabat yang sudah di tekuk sedemikian rupa.
"Anjirr loe Rell, muka bak pangeran tampan seperti ini loe bilang lecek?Lihat dong yang benar!"
Sudah hampir satu jam mereka bertiga mengobrol. Zack sudah seperti orang yang kehilangan sesuatu. Iya terus celingak celinguk ke arah pintu belakang di dekat dapur. Seperti mencari seseorang.
"Ngapain loe Zack?loe cari Ayu?" Varell sudah bisa menebak apa yang ada di benak sahabatnya.
"Ah, elo kok tahu aja Rell. memang benar!" Cengengngesan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Varell dan Rani ikut melihat kearah pandang mata Zack. Kemudian suami istri itu saling pandang dan tersenyum.
__ADS_1
"Iya ya sayang, Ayu kenapa belum muncul juga?sepertinya dia sedang tidak ingin melihat wajah seseorang?" Varell mengulum senyumnya melihat tingkah Zack yang seperti cacing kepanasan.
"Maksud loe, gue gitu Rell? ya, ngak mungkin lah. Kami bahkan akan setiap menit, setiap jam, bahkan setiap hari akan selalu bersama dan menghabiskan waktu dengan keromantisan yang hakiki."
Varell mengernyitkan dahinya penuh tanya. "Maksud loe apa Zack?"
"Kan dah gue bilang, gue mau ngomong sesuatu yang sangat penting."
Varell jadinsemakin penasaran,ia menegakkan duduknya menatap Zack serius.
Yang ditunggu-tunggu sang pangeran Zack akhirnya muncul juga. Ayu masuk lewat pintu dapur, mengambil segelas air lalu meminumnya. Setelah itu ia melangkah ingin menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai atas.
Rani langsung memanggilnya, sehingga langkah gadis itu pun terhenti. ia menoleh dan menghampiri ketiganya yang masih berada di ruang tengah.
"Iya nona Rani. Apa ada yang harus saya kerjakan?"
"Tidak, duduklah Yu!"
"Saya berdiri saja, nona." Menolak untuk duduk. ia merasa tak enak dan tak pantas.
"Ayolah, duduk di sini! ada yang ingin kami.bicarakan dengan kamu, Ayu!" Rani menepuk sofa tepat di sampingnya.
Merasa tak enak menolak perintah sang majikan, akhirnya Ayu menurut dan duduk. Namun, agak jauh dari Rani.
"Ekhem—Begini,Rell. gue mau bilang kalau lusa, kami akan menikah."
"Menikah? maksudnya loe sama Ayu?" Zack pun mengangguk mengiyakan.
Varell tak menyangka kalau Zack akan bergerak secepat itu. Tapi, yang masih jadi pertanyaan adalah apa tujuan dari sang sahabat sampai senekat itu ingin menikahi Ayu sang baby sitter yang bahkan baru beberapa hari di kenalnya?
"Ini beneran Zack? loe ngak lagi nge prank kita kan?"
"Iya, benar Rell. sumpah gue ngak bercanda! loe tanya langsung aja sama calon istri gue! Ayo, sayang katakan pada mereka berdua kalau lusa nanti kita benar-benar akan menikah!" Varell dan Rani pun beralih manatap Ayu penuh tanya.
"Apakah yang di katakan kak Zack itu benar,Ayu?" kali ini Rani yang sebenarnya masih tak percaya akan hal tersebut.
Gadis itu hanya mengangguk tak berani berkata apa pun. Ia sekilas melirik Zack yang ternyata juga tengah menatapnya.Dan al hasil kedua manik mata itu pun saling bersitatap dengan apa yang mereka rasakan masing-masing.
"Biar gue aja yang ngomong Rell. Begini, gue bukan hanya sekedar mengantar Ayu.Tapi, juga sekalian Ayu mau berhenti bekerja jadi baby sitter nya baby Rava. Hari ini juga gue mau membawa Ayu tinggal di rumah orang tua gue Rell. Kalian lusa datang ya ke acara akad nikah kami nanti!"
"Tentu saja kami akan mengizinkannya. Kalau itu demi masa depannya. Tapi, bagaimana dengan orang tua loe Zack? apa mereka bisa menerima Ayu apa adanya? Secara kita semua kan tahu bagaimana orang tua loe, sorry Zack bukannya gue bermaksud untuk... loe ngerti kan apa yang gue maksud?"
"Iya Rell, gue tahu gimana sifat mommy and daddy. Tapi, syukurlah kami bisa meyakinkan mereka dan akhirnya kami dapat mengantongi restu dari mereka juga."
"Alhamdulillah kalau memang begitu adanya. Semoga acara kalian besok di beri kelancaran. Kami pasti akan datang."
__ADS_1
"Apa kamu sudah berkemas, sayang?kita akan segera pulang! apa perlu aku bantu, biar cepat?di mana kamarmu, ayo!" Zack sudah bangkit dan mengantar Ayu ke belakang.
"Tidak usah Tuan, terima kasih. saya bisa sendiri!"
"Mas, Rani mau ke kamar mama dulu ya! mau lihat baby Rava." Rani pun beranjak meuju ke lantai atas.
Kini hanya tinggal dua sahabat yang masih saling mengejek. Ya, begitulah mereka.
Varell tertawa geli melihat sang playboy kelas kakap di tolak oleh seorang baby sitter. Dan ia pun tak tahan untuk mengejek sang sahabat.
"Cie—cie, di tolak ni yee? by the way Zack, kok Ayu masih memanggil elo, tuan sih?aneh aja gitu, gue jadi curiga deh?"
"Apa sih loe Rell, negatif thinking aja? ngak senang apa melihat temannya bahagia yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya."
"Sorry...sorry ya Zack! beneran sumpah, gue masih penasaran.kayaknya ada sesuatu yang loe sembunyikan ya? gue sanksi kalau ortu loe memberi restu sekilat itu? Ayo ngaku ngak loe,Zack!" Ternyata Varell tidak bisa percaya begitu saja. ia masih begitu penasaran dan juga tidak percaya.
"Iya sih, sebenarnya gue mengarang sesuatu? gue bilang kalau Ayu..." Zack menghentikan ucapannya, karena Ayu tiba-tiba saja sudah muncul.
"Saya sudah siap Tuan!" Ayu menenteng tas besarnya.
"Kalau Ayu kenapa Zack? kok berhenti? ayo katakan!"
"Ngak jadi deh Rell, besok saja ya!" mengedipkan matanya.
Setelah berpamitan dengan semuanya, Zack dan Ayu kembali menuju ke rumah kediaman keluarga Brown.
"Mengapa kamu diam saja? apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?"
"Tolong jangan panggil saya sayang—sayang, Tuan! rasanya jijik sekali. Kita tidak sedekat itu, ini semua kan bukan kehendak saya?"
"Lalu, kenapa kamu menyetujuinya kalau bukan dirimu menyukaiku juga?"
"Terpaksa! entah mengapa saya tidak bisa menolaknya? anda dan nyonya besar selalu menekan saya?" Ayu menghembuskan nafasnya berat.
"Kamu kok kalau kita sedang berdu'an jutek sekali sih?Jangan begitu dong sayang!nanti yang lain bisa curiga?"
"Tapi, nanti kalau kamu galaknya di atas ranjang aku sih no problem, malah suka?" Menoleh dan mengedipkan matanya genit pada sang calon istri."
"Galak di atas ranjang? hii...?" Ayu bergidik ngeri membayangkannya.
"Kok hii sih sayang? bukanlah! tapi, uh...ah?" tersenyum mesum.
Seketika Ayu memelototkan matanya.
Tbc
__ADS_1