Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
54.SAH


__ADS_3

Setelah pertemuan dua keluarga dan terjadinya kesepakatan. Akhirnya Maima ikut pulang ke kediaman orang tua Rangga.


Sepanjang perjalanan Maima mendengar berbagai wejangan dari bu Herlina. Sesekali wanita paruh baya itu mengusap perut sang calon menantu.


Maima mendengarkannya dengan penuh hikmat. Ia dapat melihat ketulusan dari calon ibu mertuanya itu.


"Maima, kamu harus banyak makan sayuran dan buah-buahan ya sayang, oh ya, ikan-ikanan juga sangat penting untuk pertumbuhan baby dan juga biar dedeknya cerdas. Jangan tidur terlalu malam!tak baik untuk kesehatan ibu hamil!"


"Iya ma." Maima hanya mengangguk dan tersenyum. ia bingung harus menjawab apa?


Sedangkan Rangga menggelengkan kepalanya mendengar sang mama sedang asik berpidato ria, seperti guru yang tengah memberikan amanat di upacara bendera setiap hari senin, Rangga jadi teringat waktu sekolah dulu.


Tak terasa, setelah hampir setengah jam mereka mendengarkan serentetan wejangan dari bu Herlina, akhirnya merekapun sampai didepan pintu gerbang. Petugas security membukakan gerbang sambil menganggukkan kepalanya.


Bu Herlina menurunkan kaca jendela mobil dan melihat mamang security.


"Terima kasih Mang!"


"Selamat malam Bu, den....non Maima ya? eh, maaf. selamat datang kembali non!" tersenyum ramah.


Ada rasa yang berbeda ketika ia melangkah masuk kembali ke rumah itu. Perasaan tenang dan nyaman.


Bu Herlina selalu menempel pada sang calon menantunya. Ranggapun sampai tak di beri kesempatan untuk berdekatan dengan Maima.


"Ayo sayang, mama antar ke kamarmu ya!" menggandeng lengan Maima seperti akan menyeberang jalan. Rangga terus mengekori dari belakang.


"Rangga, mau apa kamu mengikuti mama dan Maima? sudah, masuk ke kamarmu sendiri sana!" Bu Herlina menegur sang putra karena juga ingin masuk kedalam kamar Maima.


"ehem....ma, apa tidak sebaiknya Maima tidur di kamar Rangga saja?kan nanti kamar Rangga juga akan menjadi kamar kami, ma?" menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Eh....eh....eh, no! enak saja kamu ya. kalian belum boleh satu kamar. berbahaya, ingat ya belum halal!" Bu Herlina menjewer kuping putranya.


"Iya iya ma, Rangga juga ngerti kok. kami belum bisa satu kamar, apalagi satu ranjang?"


Mengedipkan matanya genit pada Maima. bu Herlina yang melihatnya pun semakin gemas dengan tingkah absurd putranya. Pipi Maima juga merona karena malu akan ucapan frontal calon suaminya itu.


"Dasar anak nakal! sudah sana pergi, jangan ganggu menantu sama cucu mama!" mencubit pelan lengan Rangga.

__ADS_1


"Aww.....oke boss, Maima sampai jumpa nanti ya! da da!" melambaikan tangannya dengan senyum semanis madu.


Maima menatap Rangga sampai keluar dari kamarnya. Senyum simpul terukir indah di wajah ayunya. Maima baru tahu sisi lain dari seorang Rangga, yang ternyata sangat humoris dan juga agak jahil.


"Jangan dengarkan anak nakal itu ya Mai! sekarang istirahat! mama mau kebawah dulu melihat persiapan untuk makan malam."


Maima pun mengangguk dan menuruti perintah bu Herlina.


----‐-------------


Persiapan acara pernikahan Rangga dan Maima sudah hampir rampung.Dan hari H pun telah tiba, Maima tengah di rias oleh MUA, Angela terkesima melihat penampilan sang calon kakak ipar.


Maima mengenakan kebaya putih gading bergaya modern, dengan riasan senatural mungkin. Rambutnya di sanggul sederhana. Walaupun begitu, tak mengurangi aura kecantikkannya. Ya dikarenakan Maima sedang mengandung, jadi disarankan agar ia jangan terlalu banyak memakai skincare ataupun berbagai kosmetik yang tentunya sangat berbahaya untuk janin.


"wah, kak Maima cantik banget! bisa klepekk-klepek nih kak Rangga." Maima tersenyum malu mendengar perkataan Angela.


"Kamu ini ada-ada aja dek? mana mungkin kak Rangga sampai seperti itu, seperti melihat bidadari atau artis saja, sampai klepek-klepek?" Maima tak mau ke ge'eran.


Rangga sangat tampan dengan stelan jas berwarna putih gading, senada dengan kebaya yang dikenakan Maima.Telapak tangannya terasa dingin, namun keningnya sudah berkeringat. sesekali ia mengelapnya dengan saputangan.


Pak Jatmiko tersenyum melihat kegugupan putranya. mendekat pada sang putra dan membisikkan sesuatu.


"Papa ini apa-apaan sih, bikin tambah gugup saja?"


"Dag did dug der ya Ngga?" Pak Jatmiko terkekeh geli melihat Rangga yang bertambah resah.


Yang telah lama di tunggu pun akhirnya muncul juga, Maima sang pengantin wanita menuruni anak tangga perlahan di apit oleh dua orang perempuan beda generasi. sang ibu dan putrinya. Bu Herlina dan Angela.


Seluruh mata terfokus menatap sang pengantin yang sangat cantik mempesona. Senyumpun tak pernah lepas dari wajah cantiknga. terutama ketika melihat kehadiran sang sahabat Rani dan baby Rava.


Maima bisa membaca gerakan bibir yang tengah di ucapkan oleh Rani. "Maima, kamu sangat cantik!" lalu mengacungkan jempolnya.


Sorot mata Rangga tak pernah lepas dari Maima. Ternyata benar kata papanya tadi, Calon istrinya ini memang wow....dan benar saja, sekarang ini jantungnya berdegup kencang. Dag dig dug.... seakan mau copot.Ia melirik dan sesekali mencuri pandang menatap wajah ayu yang kini telah bertahta di hatinya. Maima telah duduk di sebelahnya.


"Ehemm...Apa sudah bisa kita mulai Ijab Qobulnya?" Semua orang yang hadir, dan para saksi mengangguk dan mengatakan siap.


"Baiklah kalau begitu, Mas Rangga. Apa anda sudah siap?" Tak ada respon apapun, karena yang bersangkutan tengah asik memandang sang pengantin wanitanya.

__ADS_1


"Sekali lagi saya tanyakan, apakah Mas Rangha sudah siap untuk melakukan Ijab Qubulnya sekarang?Mas....maaf mas Rangga?" Sang penghulu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf pak Jatmiko, apakah bisa saya minta tolong sadarkan anak laki-laki anda ini!"


"Oh, iya sebentar pak!" Pak Jatmiko jadi merasa tak enak akan kelakuan sang putra. jatuh cinta memang bisa lupa akan segala-galanya.


Pak Jatmiko kemudian menepuk pundak Rangga cukup keras. Hingga membuatnya sontak kaget dan beralih menengok kerah sang papa yang berada tepat tak jauh darinya.


"Eh iya pa, ada apa?"


"Ada apa? itu pak penghulu sudah beberapa kali bertanya, apakah kamu sudah siap untuk melaksanakan Ijab Qobul?" Pak Jatmiko tersenyum menyeringai melihat tampang Rangga yang cengo.


"I....ya, siap pak!" Jawabnya lantang. membuat semua langsung menoleh padanya. bahkan Varell dan Doni tak bisa lagi menahan tawanya.


"hahaha....malah kayak inspektur upacara loe Ngga?"


"Huss, berisik! lagi-lagi Angela yang selalu menjadi petugas interupsi jika mulai ada pengganggu di setiap ada moment sakral. Dan al hasil Varell sang kakak dan Doni pun terdiam.


Dan acara Ijab Qobul pun berlangsung lancar jaya....hingga suara penghulu dan para saksi dan tamu serempak mengucapkan...


SAH


SAH


SAH


"Alhamdulillah....Selamat, sekarang Mas Rangga dan Mbak Maima, telah resmi menjadi pasangan suami istri." Pak penghulu menyalami kedua mempelai.


Maima mencium punggung tangan sang suami untuk pertama kalinya. Dan jangan di tanya, Rangga tanpa instruksi pun langsung mencium lembut kening Maima yang baru saja menjadi istrinya. Namun ketika ia hendak mendaratkan bibirnya pada bibir cherry Maima, tiba-tiba Pak Jatmiko berdehem ria?


"Ehemm....!" sambil melirik putranya yang tak sadar tempat itu.


"Hey Ngga, mentang-mentang dah halal langsung nyosor aja loe? hahaha"


Kali ini si Gesrek Doni yang meledek Rangga.


"Kak Doniii...!! Kali ini Angela yang sudah dalam mood melotot.

__ADS_1


Jangan ditanya apa reaksi Maima, wajahnya bukan lagi merona akan tetapi sudah berubah semerah tomat.


Tbc


__ADS_2