
Acara makan siang bersama Varell cs dan para istri berlangsung dengan hikmat dan mereka sangat menikmati hidangan yang di sajikan oleh sang tuan rumah.
Kini mereka telah berada di taman belakang rumah, tepatnya di sebuah gazebo. Menikmati miinuman teh hangat dan kopi panas di temani beberapa camilan ringan. Topik pembicaraan mereka seakan tak pernah habis, mungkin karena sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
Tak terasa hari sudah menjelang sore. Rangga dan Maima telah pamit terlebih dulu karena Maima sudah merasa letih dan ingin segera beristirahat.
Begitu pun Doni, satu-satunya di antara mereka yang masih lajang. Doni juga masih ada urusan yang lainnya.
Kini tinggallah pasangan pengantin baru Zack dan Ayu. Ayu sebenarnya enggan untuk pulang. Karena malam nanti akan ada tamu penting yang akan berkunjung ke kediaman keluarga Brown yaitu Tuan Wiratama berserta istri dan putrinya yang akan di jodohkan dengan Zack.
"Ayu, Mbak lihat kamu sepertinya sedang tidak baik-baik saja? apakah kamu baik-baik saja?sejak tadi kamu seperti tak fokus?" Rani memegang tangan Ayu.
"Oh, tidak ada apa-apa kok Mbak." Ayu mengelak dan mencoba bersikap biasa saja.
"Syukurlah kalau tidak ada apa-apa. Oh, ya bagaimana kedua orang tua kak Zack? merek baik kan sama kamu?"
"Iya, alhamdulillah mommy dan daddy baik,mbak sama Ayu. Mbak– boleh tidak kalau malam ini Ayu menginap di sini? Ayu kangen sama baby Rava dan juga semua yang ada di sini." Ayu tersenyum namun dengan wajah sendu.
"Menginap? mbak sih boleh-boleh saja.Tapi, apa kak Zack mengizinkan? secara kalian kan masih pengantin baru, mana bisa jika salinh berjauhan?" Jawab Rank terkekeh.
"Nanti Ayu tanya abang Zack dulu ya mbak!"
Baru saja Ayu hendak beranjak mencari suaminya namun,Zack telah lebih dulu menghampirinya.
"Sayang, ayo kita pamit sekarang?" Ketika Zack ingin meraih tangan Ayu namun, sang istri hanya terdiam.
"Bang, apa boleh Ayu menginap di sini? satu malam saja kak? bukankah nanti malam di rumah akan kedatangan tamu penting dan Ayu tidak..." Ayu tak bisa melanjutkan perkataannya katena takut Zack akan marah.
"Tidak– apa?Adek ngak boleh menginap di sini! kita ini kan pengantin baru sayang, masa' mau itu di rumah orang?"
Varell dan Rani menghampiri mereka. "Ada apa ini? sepertinya serius sekali?"–Varell
"Oh,ngak ada apa-apa kok Rell. Ini Ayu, masa' mau ngajak nginep di sini? nanti kalau kami mau bercocok tanam tidak bebas lah, suara-suara indah kami pasti akan menggema kemana-mana?" Melirik Ayu.
"Bu—bukan begitu kak Varell, abang Zack cuma bercanda saja kok. Itu, Ayu cuma kangen saja pingin tidur sama baby Rava seperti dulu. Tapi, abang ngak mengizinkan." Wajah Ayu sudah merona merah karena malu dengan perkataan Zack yang absurd.
"Loh, kalau adek bobok sama baby Rava trus abang siapa yang nemenin dan manjain?" Mengapit pinggang Ayu posesif.
Varell hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan super mesum salah satu sahabatnya itu.
__ADS_1
"Terus jadinya gimana? boleh nginep ngak bini loe?ck...dasar bucin akut loe Zack?"
"Abang kan nanti akan kedatangan tamu penting, Ayu ngak mau nanti mengganggu acara makan malam kalian? biar ayu di sini saja ya bang?" Ayu menatap penuh harap.
Zack mengapit kedua belah pipi Ayu dan menatap lekat wajah sendu itu.
"Kita akan pulang bersama dan abang tidak akan membiarkan siapa pun yang akan menyakiti adek, sekalipun itu Grandma!"
"Abang..."
"Ayo kita pulang! Rell, Ran...kami pamit ya!lain waktu kami akan main ke sini lagi." Varell dan Rani pun mengangguk
Rani kemudian menghampiri Ayu lalu memeluknya. Ia mengusap lembut punggung Ayu guna memberikan kekuatan hatinya. Rani yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada Ayu yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.
"Mbak Rani, Ayu pamit ya.Lain kali Ayu boleh ya main sama baby Rava lagi?"
"Iya, tentu saja boleh lah Yu. Kamu harus tetap bahagia, jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan! percayalah pada kak Zack! dia pasti tidak akan membiarkanmu tersakiti!"
"Terima kasih ya Mbak Rani."
"Abang jalan duluan saja!sepertinya tamu nya sudah datang? Ayu memutar dan masuk lewat belakang saja ya bang?"
"Kenapa? apa adek takut sama mereka? sudahlah, abang bilang kan jangan pernah berpikir macam-macam! abang akan selalu melindungi adek, ingat itu!" Zack semakin erat menggenggam tangan Ayu dan mulai melangkah masuk ke dalam.
"Selamat malam semua. Maaf kami terlambat,apa acara dinner nya sudah selesai? kalau begitu kami permisi dulu mau kembali ke kamar!" Menyapa semua yang tengan berada di ruang tamu.
Ayu memberanikan diri untuk melihat satu persatu. Grandma Catherine tentu saja menatapnya dengan seringai tak suka. Mommy Sinta dan Daddy Edward biasa saja.
Sedangkan ketiga orang tamu tersebut menatapnya dengan ekapresi berbeda-beda. Tamara, tentu saja wanita itu menatapnya begitu tak suka. Seakan dirinya adalah seorang pelakor yang telah merebut pasangannya.
Pasangan Tuan Wiratama dan istri, menatap Ayu dengan mimik wajah yang sulit di artikan. Antara syok atau tak menyukainya.
"A—apa gadis itu yang bernama Ayu, istri Zack?" Nyonya sherina bertanya dengan terus menatap intens pada Ayu.
Dan mommy Sinta yang menjawab pertanyaan dari nyonya Sherina.
"Betul jeng, dia adalah istri Zack yang bernama Ayu.Apa jeng mengenalnya? sepertinya kalian begitu terkejut melihatnya?"
__ADS_1
"Ya, tuhan. kenapa bisa mirip sekali? siapa gadis ini sebenarnya?" Nyonya Sherina
"Apa jeng Sherina mengenal menantu kami?" Namun, Nyonya Sherina tak menjawab.Wanita paruh baya itu masih terus menatap Ayu. Membuat suasana seketika hening.
"Jeng Sherina, apa anda mengenal Ayu?" Mommy Sinta kembali bertanya.
"Eh, maaf jeng. Ti–tidak! saya tidak mengenalnya. Menantu jeng sangat cantik ya?nak Zack pintar juga mencari istri." Menyunggingkan senyum ramahnya.
"Ah, jeng bisa saja! putrimu juga tak kalah cantik kok."
Mendengar perkataan Mommy Sinta membuat Ayu semakin tak percaya diri.Ia jadi menyadari keadaan dirinya yang memang tak sepandan dengan mereka yang dari kalangan atas.Apalah ia yang hanya orang kecil.
"Apa yang di katakan mommy Sinta memang benar. Putri dari keluarga Wiratama memang sangat cantik dan berkelas, tentu saja kan? Ayu, kamu itu tak ada apa-apanya?" Ayu jadi insecure pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba suara Grandma Catherine menginterupsi perbincangan mereka.
"Ekhem...berhubung yang kita tunggu-tunggu telah hadir, mari kita mulai dinner nya! Silahkan, Tuan dan Nyonya Wiratama dan nak Tamara!"
Merekapun beranjak dan melangkah beriringan menuju ke ruang makan. Zack dan Ayu pun melakukan hal yang sama.
"Abang, Ayu tidak usah ikut makan malam ya? Ayu mau ke kamar saja." Ayu berbicara pelan pada suaminya.
"Tidak, adek harus tetap bersama abang apapun yang terjadi. Abang akan melindungi adek!" Semakin menggenggam erat tangan sang istri.
"Zack..." Grandma Catherine tak meneruskan ucapannya. Namun, arah matanya dengan jelas menatap tajam pada Ayu seakan mengatakan bahwa Ayu tidak di inginkan untuk bergabung dengan mereka.
"Maaf semuanya, saya tidak bisa ikut makan malam bersama sebab, saya tadi sudah makan. Saya permisi!" Ayu tersenyum kaku lalu ingin beranjak pergi.
"Abang, Ayu ke kamar dulu ya? tiba-tiba kepala Ayu terasa pusing." Mencoba melepas tangannya dari genggaman erat sang suami.
"Oh iya, tentu saja!kalau begitu silahkan beriatirahat, kamu ternyata cukup tahu diri juga ya? baguslah kalau begitu. Zack ayo cepat duduk! jangan mengecewakan tamu kita!"
"Maaf semua, aku juga tidak bisa. sebaiknya aku melihat keadaan Ayu! Silahkan menikmati santap malamnya!"
Zack mengangguk dan bergegas menyusul istrinya menuju ke kamar mereka.
"Zackkk...!"
Bahkan suara bentakan keras Grandma Catherine pun tak di hiraukannya. Ia tetap pergi.
__ADS_1
Tbc