Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
35. Rasa yang masih ada


__ADS_3

"Pesta masih terus berlangsung. hiruk pikuk para tamu yang saling bercengkerama dan juga suara para penyanyi diiringi musik yang menghibur para tamu.


Semua menikmati acara tersebut, begitupun dengan keluarga Darmanto. Papa Tyo juga sibuk bertegur sapa dengan para kolega bisnisnya. begitu pun Varell dan Doni . Sedangkan Rani dan mama Sandra tengah menikmati sajian yang telah tersedia. Lain lagi dengan Angela , ia malah sedang asik menikmati sajian musik sambil sesekali bergoyang mengikuti alunan musik yang berdendang.


"Ma, kelihatannya baby Rava sudah mengantuk . apa kita pulang sekarang saja ya?" Rani melihat anaknya sudah terlihat merengek dan resah. sepertinya bayi itu memang telah mengantuk.


"Oh iya, ini juga sudah hampir jam sembilan malam. Sebentar....mama panggil papamu dan Varell. Ini lagi si Angela, dimana lagi anak itu?"


Mama Sandra bergegas mencari keberadaan suami dan kedua anaknya. Setelah itu merekapun berpamitan pada si tuan rumah. Setelah sampai didepan lobby hotel, Rani baru teringat akan keberadaan Maima.


"Loh, mas.... Maima dimana ya? Kasihan nanti siapa yang akan mengantarnya pulang?" Perasaan Rani tiba-tiba tak enak. Ia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


"Sudah jangan khawatir sayang, pasti Zack yang akan mengantarnya pulang. Lagi pula masih ada Doni dan Rangga kan. ayo, kasihan Baby Rava!"


"Iya mas." "Semoga kamu baik-baik saja Mai." Merekapun akhirnya naik ke mobil masing-masing. Papa Tyo, mama Sandra dan Angela dan Varell satu mobil bersama istri dan anaknya.


Didalam Zack tampak panik mencari keberadaan sang kekasih. Ya, tadi ia sedang menyapa para tamu yang kebanyakan dari kalangan pebisnis.


Ketika ia kembali ingin menemui Maima yang sedang menunggunya dan laki-laki itupun terkejut tak mendapati kekasihnya lagi. Zack terus berkeliling mencari Maima, hingga ia bertemu dengan Doni yang juga sedang mencarinya.


"Woi, Zack gue cari loe kemana-mana, ternyata disini. kenapa loe kok kayaknya kusut amat?"


"Gue lagi mencari Maima, Don. Apa loe lihat dia? Tadi dia gue tinggal sebentar, terus pas gue balik dah ngak ada? Gue telpon juga ngak diangkat-angkat?"


"Loh kok bisa? apa jangan-jangan dia dah pulang Zack, mungkin bareng Rani?" Doni menerka-nerka kemungkinan Maima pulang bersama sahabatnya Rani.


"Ngak mungkin Don, tadi mereka dah pamitan pulang dan ngak ada Maima bersama mereka. Gimana nih Don, gue khawatir banget nih?" Zack sampai mengacak-acak rambutnya. Hatinya semakin risau memikirkan sang kekasih.


"Rangga, coba gue telpon dia dulu." Doni langsung mengambil ponsel disaku celananya, lalu mendial nomer Rangga. Namun ternyata sedang tidak aktif.


"Gimana Don?"


"Nga bisa dihubungi Zack, mungkin ponselnya sedang lowbatt?."


"Apa gue susul kekoskosannya ya?" Zack sudah akan melangkah pergi, namun dicegah oleh Doni.


"Loe gila Zack, ini acara kan belum selesai. lagian loe mau ortu loe malu. secara kan ini acara loe sendiri."

__ADS_1


Mendengar itu, Zack pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Ya, kalau kedua orang tuanya tahu dia pergi meninggalkan pesta hanya karena seorang gadis, pasti mereka akan sangat marah dan kecewa. Akhirnya ia memutuskan akan kerumah Maima jika acaranya telah usai.


Sementara itu, Maima tengah berada didalam sebuah mobil yang tengah melaju di keheningan malam. Gadis itu dalam keadaan setengah sadar. wajahnya memerah dan tubuhnya menggeliat tak tenang. Sedangkan laki-laki disampingnya yang masih fokus mengemudi, sesekali ia menoleh pada gadis itu.


Maima masih bisa mengenali wajah dan suara pria itu walaupun terlihat samar-samar di penglihatannya. Entah mengapa ia merasakan suhu tubuhnya semakin panas dan tidak enak. selain pusing yang semakin mendera, juga ada rasa yang tak ia mengerti.


"Kak Rangga....tolong aku kak, rasanya panas sekali." Tanpa sadar ingin menurunkan retsleting dress nya. Rangga yang melihat langsung menginjak pedal rem mobilnya dan menghentikan apa yang dilakuman oleh gadis itu.


"Maima, Jangaaann!"


Rangga langsung melepas jasnya lalu menutupi tubuh Maima yang sudah terekspos separuh badannya. Keringat sudah menetes di kening Rangga, bahkan tubuhnya saat ini ikut terasa panas. Panas melihat pemandangan indah disampingnya.


"Aduh kos-kosan Maima masih jauh lagi, gimana ya....apa aku bawa ke Apartemen saja? Bisa-bisa belum sampai di kos-kosannya, bisa jadi sudah polos tubuhnya."


"Maaf ya Mai, aku ngak bisa mengantarmu pulang dalam keadaan seperti ini. bisa-bisa penghuni kos mu yang lain bakal heboh."


Rangga pun berbelok menuju ke Apartemennya. Ya, Rangga memutuskan membawa gadis itu ke Apartemennya.


"Kak, kita mau kemana kak. ini kenapa jas kak Rangga ada disini?" Ingin mengembalikan jas yang menutupi tubuhnya.


Karena gadis itu selalu bergerak tak bisa diam. Bahkan ketika didalam lift gadis itu mulai memperlihatkan gelagat aneh. Tiba-tiba saja ia menerjang Rangga dan menciumnya. Rangga berusaha melepaskan diri, namun gadis itu semakin tak terkendali.


"ups....ini tak bisa dibiarkan, siapa orang yang berniat berbuat sejahat ini padamu Mai?" Batin Rangga.


Dengan bersusah payah, akhirnya Rangga berhasil membawa Maima masuk kedalam. Ia lalu merebahkan tubuh Maima diatas ranjangnya. Setelah itu ia menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


ceklekk


Grepp....!


"Tolong aku kak, panas...hh!" Maima kembali memeluk Rangga yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rangga pun tak kalah syok, bukan hanya karena tiba-tiba dipeluk akan tetapi juga merasakan sentuhan kulit putih nan halus gadis itu. Ya, ternyata selama Rangga didalam kamar mandi Maima melepas dressnya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.


"Glek....Mai, kenapa kamu melapas pakaianmu?" Rangga melangkah masih dengan tubuh Maima yang masih menempel padanya. Berkali-kali Rangga menelan salivanya dan menahan godaan yang telah mengusik jiwa kelelakiannya. Rangga baru akan meraih selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjang Maima, tapi karena ia tak bisa menahan keseimbangannya. Mereka malah jatuh diatas ranjang dengan posisi Maima dibawah tubuhnya.


"Kak Rangga, aku suka sama kakak." Maima bergumam dan menatap sayu pada Rangga. Rasa itu ternyata masih ada pada diri gadis itu.


"Benarkah yang kau katakan itu Mai? ternyata kamu memang masih menyukaiku, aku juga suka padamu sayangku Maima." Entah setan apa yang telah mempengaruhinya. Melihat bibir pink Maima yang terbuka dan lengguhan yang keluar dari bibir s**y itu, membuat Rangga tak bisa lagi menahan hasratnya. Ia mulai menjelajah tubuh yang telah dilucutinya hingga polos dan terjadilah pergulatan antara dua insan yang tengah bergejolak merasakan surga duniawi.

__ADS_1


 


Sinar matahari menembus melalui jendela yang masih tertutup tirainya. Perlahan sepasang mata dengan bulunya yang lentik mulai membuka. Ia merasa ada seauatu yang berat tengah menimpa perutnya, refleks menoleh kesamping dan bola matanya langsung membulat.


Gadis yang bernama Maima itu bahkan mengucek-ucek matanya seakan itu adalah sebuah mimpi. Akan tetapi ketika ia akan menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, tiba-tiba rasa sakit dan nyeri yang amat sangat dibagian bawah tubuhnya.


"Apa ini? apa yang telah terjadi, kak Rangga?'"


Maima seakan merasakan dunia runtuh saat itu juga. Tubuhnya bergetar, apalagi melihat keadaan dirinya dan Rangga yang sama-sama polos. Laki-laki itu masih terlelap.


Samar-samar ia mengingat kejadian semalam. Ia menutup mulutnya dan menjerit dalam bekapan telapak tangannya sendiri. Perlahan Maima turun dari atas ranjang dan mencari gaun yang semalam dikenakannya. Dengan langkah tertatih-tatih Maima masuk ke kamar mandi.


Didalam sana ia memutar kran air lalu kembali melampiaskan kesedihannya dengan kembali menjerit dan menangis. suara air kran yang mengalir sedikit menyamarkan suara tangisannya.


"aku sudah tidak suci lagi, dan kak Rangga yang telah mengambilnya."


"Hoam....Maima?" Tangannya meraba dan tak menemukan keberadaan gadis itu disebelahnya. Sayup-sayup ia mendengar suara air kran yang mengucur dan juga tangisan pilu gadis itu.


tok tok tok


"Mai, buka pintunya....apa yang sedang kamu lakukan di dalam? Maima, kumohon bukalah sayang!"


Rangga khawatir gadis itu akan berbuat nekat dan melukai dirinya sendiri. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan Maima tampak menyedihkan dengan wajah sembab dan tubuhnya yang masih gemetaran. Maima tak berani menatap langsung pada Rangga, ia menunduk dengan tangan yang saling meremas.


"Maima, apakah kamu tidak apa-apa?" Rangga ingin menyentuhnya akan tetapi gadis itu malah menghindar dan berlari sambil meringis ke arah pintu kamar.


"Maaf kak, aku mau pulang sekarang!" Dengan tangan bergetar Maima menarik handle pintu dan keluar dari kamar itu.


"Maima, tunggu sebentar!" Rangga langsung mengenakan celana dan bajunya asal, lalu berlari mengejar gadis itu. Ternyata Maima keaulitan membuka pintunya, Rangga langsung menghadangnya dan menatap Maima dengan penuh rasa bersalah. Ia menyesal tak bisa mengontrol dirinya dan menjamah gadis itu.


"Aku antar ya Mai?" Membuka password pintu tersebut.


"Tidak usah kak, aku bisa pulang sendiri. maaf kak permisi. Awhh....hh." Maima kembali merasakan nyeri yang teramat sangat , namun kali ini terasa sampai perut bagian bawahnya. Rangga yang melihatnya pun jadi tak tega.


"Jangan menolak, ayo aku antar!" Rangga langsung menbopong Maima ala bridal style lalu masuk kedalam lift menuju ke lantai bawah.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2