Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
55.Persiapan untuk bertempur?


__ADS_3

Setelah prosesi ijab Qabul, tidak ada acara resepsi. Karena kondisi Maima yang tengah hamil. Mereka tak ingin mengambil resiko jika Maima sampai kelelahan dan pastinya akan membahayakan janinnya.


Hanya ada acara kumpul-kumpul dengan sanak saudara terdekat dan para sahabat dari Rangga dan Maima. Ya walaupun Maima hanya memiliki Rani, namun ia sudah sangat senang karena sahabatnya bisa menyaksikan moment bahagianya.


Sedangkan Rangga, ia hanya memberitahu dan mengundang dua sahabatnya yaitu Varell dan Doni. Dan zack, Rangga saat ini belum siap jika harus berhadapan langsung dengannya.


Acara sederhana dan penuh ramah tamah telah berlangsung sampai sore hari. ketika mendekati waktu magrib. para tamu pun satu persatu undur diri. Kini yang tinggal hanya para sahabat Rangga, Varell dan Doni. Serta Rani dan Baby Rava yang kini tengah berada di kamar Rangga yang sekarang telah menjadi kamar Maima juga.


"Mai, sini Rani bantu melepaskan kancing-kancingnya!" Baby Rava diletakkan diatas tempat tidur, bayi itu sedang asik memainkan jempol kakinya dan sedang berusaha untuk menggapainya untuk dimasukan ke mulutnya. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Tidak usah Ran, sudah kamu duduk saja! nanti baby Rava nangis lagi? hihihi....lucu banget sih Ran anakmu, bikin gemes pingin nyubit dan cium tu pipi gembulnya!"


"Kamu juga sekarang tambah ngemesin juga loh Mai? tu liat pipimu, pasti kak Rangga juga bakalan tambah gemes sama kamu?"


"Kamu ngomong apa sih Ran?" Pipi chubby nya mulai merona.


"Ehemm.....Iya iya, kak Rangga ngak bakalan gemes sama kamu, tapi bisa tambahh bergairah melihat istri cantiknya yang semakin montok ini?" Mencubit pipi Maima lalu mengelus perut buncitnya.


"Ish, Rani! udah deh jangan ngada ngada? ngak mungkin kak Rangga tertarik pada tubuh gendutku ini. lihat dengan benar dong Ran!" Mematutkan tubuhnya di depan cermin.


tok tok tok


Kriett


"Maima sayang, ini mama bawakan susu hangat untukmu. cepat di minum sekarang mumpung masih hangat!"


Bu Herlina mengantarkan segelas susu hamil untuk menantunya.


"Hallo baby Rava, ini eyang Lina. mau digendong sama eyang? yuk!" Baby Rava pun sepertinya juga mau digendong, mungkin bayi itu sudah bosan hanya tiduran saja. Bu Herlina langsung meraih bayi nan menggemaskan itu kedalam gendongannya.


"Ran, baby Rava boleh kan tante bawa kebawah?"


"Iya, tentu saja boleh tante." Setelah mendapatkan persetujuan sang mommy, bu Herlina pun melangkah keluar dari kamar Rangga.


"Aduh....sebentar Ran, aku kebelet pipis ini!" Maima langsung melesat masuk kedalam kamar mandi karena sudah tidak tahan.


"Mai, maaf ya!kalau begitu Rani pamit sekarang ya? mas Varell dan baby Rava sudah menunggu di bawah?" Rani berteriak di depan pintu kamar mandi.


"Iya Ran, ngak pa-pa. terima kasih! besok aku akan menghubungimu ya!" Maima menjawab dari dalam.

__ADS_1


"Ish....ini kok susah sekali sih di bukanya? gimana dong ini. mama kesini lagi ngak ya?" Ternyata Maima sangat kesulitan untuk membuka kancing-kancing di punggungnya.


Sementara itu suasana di lantai bawah masih tampak ramai dengan canda tawa para kaum adam. siapa lagi coba kalau bukan Varell and the gank. Mereka tengah menggoda Rangga yang malam ini akan unboxing istrinya.


"Suit....suit, yang mau malam pengantin kelihatannya gelisah banget ya?dah ngak tahan ya Ngga?" Doni si gesrek mulai mengeluarkan jurus usilnya.


"Sialan loe Don, ngeledek aja bisanya. bilang aja loe iri kan sama gue yang udah punya pasangan halal?" Rangga membalas ucapan Doni.


Varell melihat jam dipergelangan tangan kanannya, lalu ia mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang. Ia tersenyum ketika melihat Rani yang baru saja turun dari lantai atas, itu berarti kalau urusannya dengan Maima sudah selesai dan mereka sudah bisa secepatnya pulang.


"Kenapa loe Rell, senyam senyum?" Rangga melihat juga kearah pandangan Varell.


"hemm....mulai si bucin, pasti bakalan ngajak pulang bininya deh. tebakan gue pasti ngak bakalan meleset." Doni berceloteh kembali dan Rangga hanya menanggapinya dengan tersenyum.


Varell menghampiri istri dan anaknya, kemudian ia meraih baby Rava untuk digendongnya.


Setelah berpamitan dengan bu Herlina dan Pak Jatmiko, Varell dan Rani menghampiri Rangga kembali.


"Ngga kita pamit ya, kasihan ni anak gue. dah ngantuk kayaknya?"


"Yang ngantuk anaknya apa bapaknya Rell? bisa ae loe ah, bilang aja pingin cepat-cepat pulang mau unboxing bini loe juga ya?" Kali ini si Rangga yang menyeletuk, sepertinya ia sudah tertular ke gesrekkan para sahabatnya.


"hahaha....rasain loe Rell, masa' mau ikut-ikutan kayak pengantin baru aja? semoga gagal karena di ganggu sama baby Rava."


Doni terbahak-bahak membayangkan Varell yang sedang ***-*** trus di interupsi sama anaknya sendiri.


"Diem lo Don! biarin, dari pada loe sama sekali belum pernah unboxing. lagian mau begituan sama siapa juga ya? lawannya pun belum ada?" hahaha


"Mas Varell....ayo kita pulang sekarang! ck, bisa sampe tengah malam kalau mengikuti tingkah laku kalian? melebihi bocil?" Rani menarik lengan sang suami dan beranjak pergi.


"Hey Rell, bentar lagi gue juga bisa unboxing seperti kalian? lawan gue dah ada, loe kenal banget kok sama tu cewek?"


Omongan Doni itu membuat Rangga sempat berpikir dan menebak-nebak kalau cewek yang di maksud oleh sahabatnya itu adalah Angela adik perempuannya Varell.


"Woi Don, jangan bilang kalau cewek itu adalah Angela adiknya Varell? apa benar dugaan gue kan?" Menatap penuh selidik.


"Sok tahu? sudah ah, gue juga mau pamit. Sekali lagi selamat ya bro, semoga samawa. Ingat, pelan-pelan....ada baby di antara kalian!" mengedipkan matanya.


"Iya, sudah cepetan pulang sana loe....hush! gue mau siap-siap tempur?" Mendorong punggung Doni.

__ADS_1


"Halah, siap gayamu Ngga pake acara siap-siap segala? dah ah....bye!"


Pak Jatmiko dan Bu Herlina menggelengkan kepala melihat kelakuan sang putra dengan para sahabatnya yang semakin absurd. Merekapun beranjak pergi juga menuju ke kamar untuk beristirahat.


 


Sementara itu di dalam kamar, Maima masih keaulitan untuk membuka kancing-kancing pada baju kebayanya.


"Ish....susah sekali sih ini? mama sudah istirahat belum ya? atau minta tolong sama mbok Sarmi saja?" Maima baru akan melangkah untuk keluar kamar, tiba-tiba bertepatan dengan Rangga yang telah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Maima pun terdiam membeku, entah mengapa ia menjadi begitu gugup?


"Mau kemana Mai?" Rangga mendekat lalu meraih tangan sang istri dan menggenggamnya erat.


"I....itu kak, mau mencari mbok Sarmi?" Jawabnya gugup.


"Mbok Sarmi? untuk apa? apa ada yang kamu inginkan, biar aku saja. kasihan sudah malam.Mbok Sarmi paling sudah beristirahat di kamarnya?"


Maima bingung harus mencari alasan apa lagi? dia juga sebenarnya sangat gugup dan takut. apalagi ini adalah malam pengantin mereka.Dulu, ia memang tidak mengingat kejadian waktu mereka melakukannya untuk pertama kali dan bagaimana juga rasanya? Maima benar-benar tak ingat?Karena itulah ia menjadi begitu tegang dan tak tenang.


"Mau minta tolong untuk membuka kancing-kancing di punggungku kak!" Maima tertunduk malu.


"Kenapa mesti mencari orang lain? disini kan sudah ada suamimu, ayo sini biar aku bantu membukanya!"


Membalikkan tubuh Maima agar membelakanginya dan tanpa persetujuan ia langsung membuka kancing-kancing tersebut.


Dag dig dug


Detak jantung keduanya semakin berdegup kencang. Maima seperti kayu yang berdiri kaku, sedangkan Rangga dengan telaten membuka satu persatu kancing itu dengan tangan yang gemetaran. Apalagi melihat punggung putih dan mulus milik sang istri. Rangga perlahan menyentuhnya, dan otomatis membuat Maima terjingkat kaget.


"Akhh....Ka....kak Rangga mau apa?" Maima refleks berbalik badan menghadap suaminya dengan wajahnya yang sudah merona karena rasa malu yang semakin melanda.


"Mai, malam ini boleh kan? sekarang kita sudah sah. "


Cup


Rangga merengkuh pinggang Maima lalu mendaratkan kecupan di bibir cherry istrinya.


"Ka....k, ahh!"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2