Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
23.Layu sebelum berkembang


__ADS_3

"Aduh kebelet pipis ini!"


Ceklekk


"AAAAAH...!"


"Mas, mau apa?" Rani sangat kaget tiba-tiba Varell masuk kedalam kamar mandi dan buang air kecil. Rani yang kaget langsung berbalik badan mengalihkan pandangannya. wajahnya sudah bersemu merah karena malu.


" menutup kembali sangkarnya dan melangkah mendekat pada istrinya.


"Mas, mau ngapain mas?" Rani semakin mundur sampai mentok menabrak cermin.


"Ini masih siang loh sayang, kenapa sudah menggoda suamimu ini hmm....?" merengkuh pinggang sang istri sampai menempel erat pada tubuhnya. wajah keduanya yang hanya berjarak lima senti .


"Mas, nanti mama masuk mas.malu nanti kalau sampe dilihat mama." Rani berusaha agar terlepas dari kungkungan tubuh kekar dan dengan menahan dada bidang suaminya.


"Mama lihat dari mana, tadi mama terburu-buru pergi dan sekarang disini hanya kita berdua sayang, mengecup bibir cherry nan lembut itu.


"Mas, tunggu!? nanti ada yang masuk dan melihat kita. malu kan?" Rani mengerucutkan bibirnya


"Hahah....iya, iya sayang. aku cuma bercanda kok. tersenyum nakal.


‐---‐------


 


Maima sedang duduk termenung disebuah halte bus, Kam kerjanya telah selesai. Gadis itu kembali memikirkan dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Kenapa tiba-tiba saja Rangga meminta dirinya untuk menjadi seorang pacar. Walaupun memang ia menyukai laki-laki tampan itu. Tapi tetap saja ada keraguan yang mengganjal di hatinya. Rangga berasal dari keluarga berada dan tentu saja tidak mungkin kalau dia menyukainya, bahkan melirikpun mustahil? ini merupakan dilema baginya.


"Hhh, apa dengan aku menerima kak Rangga apakah sudah benar? kok perasaanku jadi ragu gini ya?" menghela nafas panjang


Tin tin tin*

__ADS_1


Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Rangga keluar dan menghampiri Maima yang masih terdiam.


"Mai, ayo ada sesuatu yang ingin kubicarakan?" menarik tangan Maima dan membimbingnya untuk masuk kedalam mobil.


"emm...Mai, kita makan malam dulu ya. kamu pasti juga belum makan kan?"


"Baik kak." menjawab pendek tanpa ekspresi membuat Rangga jadi bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu. Hari ini tingkahnya agak aneh?


Rangga berhenti disebuah Restauran yang terdapat di salah satu hotel mewah dan iapun menggenggam tangan mungil Maima melangkah menuju kesebuah meja yang sudah dipesannya.


"Kamu mau makan apa Mai?." Rangga bertanya sambil membuka buku menu. Namun tak ada jawaban dari Maima.


"Mai, Maima sayang." menyentuh tangan gadis dihadapannya. Rangga semakin yakin kalau ada sesuatu dengan gadis itu?


"Eh, i....iya kak, apa saja aku mau.terserah kak Rangga saja." tersenyum canggung.


Setelah itu, Maima kembali pada mode melamunnya. Gadis itu tak sadar kalau Rangga sejak tadi mengamati tingkah lakunya.


Beberapa menit kemudian hidangan yang mereka pesanpun telah datang. Lalu mereka segera menyantapnya. Maima terlihat begitu lahap, mungkin sudah terlalu lapar. ya wajar saja karena sudah lewat waktu makan malam.


Gadis itu tidak seperti biasanya yang akan selalu berceloteh apa saja, mendadak keceriaannya hilang. jika di tanya ia hanya akan menjawab dengan mengangguk atau tersenyum saja.


"Bagaimana? enak kan?" Rangga senang melihat Maima yang kelihatan menyukai makanan yang dipilihkannya.


"eum....iya kak, ini lezat sekali." sambil terus mengunyah makanannya. Rangga pun tersenyum senang.


"Mai, besok malam ikut dinner ya bareng Varell dan Rani. kamu mau kan? ya, anggap saja seperti double date gitu." memancarkan senyum tertampannya membuat gadis itu jadi salah tingkah karena ditatap seintens itu.


"Iya kak boleh. Oh ya , apa aku boleh bertanya sesuatu pada kakak?". Ranggapun menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya ada masalah apa antara kakak dan suaminya Rani?" apa kakak memang menyukai Rani?"


Rangga pun menarik nafas panjang dan mulai menceritakan awal permasalahan yang terjadi dan kesalah fahaman yang tak kunjung usai. Maima hanya terdiam mendengar sambil mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut lelaki dihadapannya itu.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya kak Rangga memang ada perasaan khusus pada Rani?" Maima melontarkan pertanyaan yang telah simpannya sejak kemarin.


Rangga tak mengatakan apapun, laki-laki itu hanya menatap Maima lalu tersenyum penuh arti. Ya, Maima sudah dapat menyimpulkan bahwa Rangga memang sebenarnya menyukai sahabatnya itu.


Kenyataan itu membuat kesadarannya kembali dan akal sehatnya pun berpikir bahwa ia telah salah mengerti juga terhadap perlakuan lembut dan kebaikan yang selama ini diberikan oleh Rangga padanya.


"Apakah kak Rangga hanya memanfaatkanku dengan berpura-pura menjadikanku sebagai pacarnya, agar suami Rani tidak marah dan salah faham lagi?." Maima bermonolog dalam hati.


"Maaf ya Mai, sebenarnya bukan maksudku untuk memanfaatkanmu, tapi ini demi kebaikkan semuanya dan juga kebahagiaan Rani. Kasihan Rani, dia gadis yang sangat baik. tidak selayaknya ia diperlakukan seburuk itu oleh Varell."


"Jadi maksud kakak....?" Maima tidak sanggup melanjutakan ucapannya, hatinya begitu sakit mengetahui semua kebenarannya termasuk Rangga terlihat jelas memang ada rasa dengan sang sahabat.


"Iya, sekali lagi aku mohon maaf ya Mai. setelah ini selesai. Kamu bebas kok, kita tidak perlu lagi terikat."


"DEG..."


Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berpacu semakin cepat dan nafasnya serasa tercekat. mendengar kenyataan yang ada. kini cintanya telah layu sebelum berkembang. Matanya terasa panas ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.


"Iya kak, tidak apa-apa. aku mengerti kok, aku juga akan melakukan apapun demi kebahagiaan sahabatku Rani. aku juga sangat menyayanginya." Tersenyum dan mengalihkan pandangannya tak kuasa menatap mata lelaki yang telah mengisi relung hatinya.


"Iya kak, aku juga sekarang mengerti dan cukup sadar diri. kalau dipikir memang mana mungkin kak Rangga yang sangat tampan dan memiliki segalanya mau menyukai diriku yang hanya gadis biasa ini? hh...sudahlah Mai, lupakan perasaan itu!"


"Kamu tidak marah kan Mai pada kakak? aku harap setelah ini kamu jangan berubah ya, kita akan tetap berteman baik...janji?" mengarahkan jari kelingkingnya dan Maima pun menyambut dengan menautkan jarinya. Dan tersenyum ceria yang terlihat dipaksakan.


"No problem kak, hehehe."


"Ayo kita pulang, sudah larut kamu pasti juga lelah kan setelah seharian bekerja."


"Iya kak, baiklah." Rangga tidak lagi menggandeng tangan Maima, Gadis itupun jadi merasa tak pantas berjalan berdampingan dengan pria itu yang memang jauh untuk dijangkaunya. Maima melangkahkan kakinya agak menjauh dibelakang Rangga.


Selama diperjalanan mereka hanya terdiam. Rangga fokus menyetir, namun sesekali ia menoleh pada Maima yang memandang kaca jendela mobil. Tiba-tiba muncul perasaan tak enak pada gadis itu.sangat terlihat bahwa gadis itu mulai menjaga jarak darinya.


"Terima kasih ya kak atas traktirannya, bye!" Maima langsung berlari cepat dengan air mata yang terus mengalir, ia telah menahannya sedari tadi. Rangga hanya menatap nanar gadis yang berlari semakin menjauh memasuki sebuah gang kecil.

__ADS_1


__ADS_2