
"Siapa yang berbunga-bunga?"
"Eh...?"
Ketiga gadis manis itu pun menoleh ke arah suara dan sontak wajah Sasa seketika merona bak tomat yang telah masak.
"Mas Rama.Ini loh mas, si Sasa katanya nak... mmppm."
Sasa membekap mulut Naina dengan menggunakan telapak tangannya. Ia tahu apa yang akan di ucapkan oleh sahabatnya itu.
"Kenapa?" Rama mengernyitkan keningnya.
Rama tidak datang sendirian, tapi ada Rava, Zander dan juga Dean formasi seperti biasanya.
"Hai–kakak-kakak yang cantik-cantik,boleh dong kita gabung?"
Dean si bontot yang memang terkenal tengil dan kegenitannya tersenyum menggoda ketiga gadis manis yang umurnya lebih tua darinya.
"Eh...ti–tidak kenapa-napa kok, Ram!hehehe..." Sasa menyengir salah tingkah dengan pipi merona di depan sang pujaan hatinya. Sedangkan Naina tersenyum sambil menyenggol lengan Sasa.
"Cie...cie salting ni yee!?" Naina berbisik pelan pada Sasa menggoda sahabatnya itu.
"Apa sih,Nai?" Menunduk malu.
"Nai, nanti bisa kan kamu pulang sendiri? aku sama Rava mau mengerjakan tugas bersama di rumahnya." Rama berbicara pada Naina dengan wajah seriusnya.
"Iya mas, ngak apa-apa. Ini nanti juga sasa sama Kiki mau main kerumah, kok."
Rama hanya mengangguk dan melangkah meninggalkan ketiga gadis tersebut. "Oke."
"Eh Ram, si Sasa kayaknya naksir elo deh?lihat aja mukanya merah banget trus salting gitu. Cie...si kulkas ada yang naksir juga ternyata." Rava meninju lengan Rama dan menggodanya.
Namun, Rama hanya menanggapinya biasa saja..Ya, namanya juga Rama maklum saja.
"Apa sih loe,Rav ngak penting banget?" Itulah jawaban datar yang di lontarkan oleh Rama.
"ck...dasar kulkas.Padahal si Sasa itu manis loh, ngegemesin lagi.Masa' sih loe sama sekali ngak tertarik?" Rava masih tetap penasaran ingin memancing Rama agar mau mengungkapkan isi hatinya.
"Kalau loe suka ambil aja deh buat loe,Rav!"
Rava terkejut dengan perkataan Rama yang blak-blakan dan sekali lagi tanpa ekspresi.
"Gila loe ya, orang dia naksir nya sama elo kok, malah di lempar ke orang lain.Sorry bro, sudah ada gadis yang mengisi hati ini." Mengedip-ngedipkan matanya.
"Siapa?" Rama ternyata kepo juga ingin tahu siapa gadis yang tengah di takair oleh Rava.
"Kepo loe. Mau tahu apa mau tahu banget?" Meledek Rama
"Karepmu lah Rav, gue ngak perduli."
__ADS_1
Rava mendekat lalu membisikkan sesuatu hingga membuat Rama sampai membelalakkan matanya karena begitu terkejut.
"Cewek yang gue suka adalah Naina, adik loe."
Deg
"Jadi benar feeling gue selama ini kalau Rava memang suka sama Naina.Hh...gimana dengan Naina ya? apa dia suka juga sama Rava?"
"Woi–Ram! malah melamun loe. Mikirin apa sih, jangan bilang kalau loe juga suka sama Naina?"
Sontak Rama terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Rava.Namun, bukan Rama namanya jika tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Loe ini apa-apaan sih,Rav. Sudah, tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak. Pikirkan ujian yang sebentar lagi akan di laksanakan!"
"Ckk...dasar, bisa aja loe ngelesnya."
Akhirnya mereka pun kembali serius dengan tugas sekolahnya. Rava dan Rama adalah murid yang terbilang cukup berprestasi di sekolah. Maka dari itu, walaupun mereka tampak santai dan cuek tapi, jika masalah pelajaran mereka tetap serius menekuninya tidak ada kata main-main lagi.
Tinggal beberapa bulan lagi mereka akan segera lulus SMA. Orang tua mereka merencanakan agar mereka bisa melanjutkan jenjang pendidikan di universitas di luar negeri.
Waktu telah menunjukkan pukul 19.00. Rama pun berpamitan untuk segera pulang.Jika tidak, mama Maima akan menceramahinya.
"Om, tante–Rama pamit pulang dulu,ya."
Setelah bersalaman pada keduanya, Rama segera melajukan kendaraannya menuju ke rumah.
"Assalamuallaikum." –Rama
Di jawab kompak oleh keempat orang yang tengah berada di meja makan.Disana telah hadir papa Rangga, mama Maima, Naina dan Sasa. Kiki sudah pulang sejak sore tadi karena harus menemani mama nya ke suatu acara. Rama menatap dingin pada gadis yang duduk di sebelah Naina, dialah Sasa.
"Akhirnya kamu pulang juga,Ram. Ayo sini, sekalian kita makan malam bersama!" Mama Maima menyuruh sang putra untuk duduk di salah satu kursi yang kosong di sebelahnya.
"Iya, ma."
seusai makan malam, Sasa pamit kepada papa Rangga dan mama Maima.
"Om, tante–emm, Sasa pamit pulang ya sudah malam." Namun manik matanya sesekali melirik pada Rama yang masih duduk manis di meja makan sambil berkutat dengan ponselnya.
"Loh, tante kira kamu mau menginap Sa?ini sudah malam, kan. Begini saja...Rama, kesini sebentar sayang!" Maima memanggil sang putra.
"Ada apa ma?"
"Kamu tolong antarkan Sasa pulang ya,nak! kasihan dia." Tersenyum lembut.
Rama menatap lekat pada Sasa, membuat gadis itu tertunduk malu.
"Memangnya kamu tidak bawa mobil? apa supirmu tidak bisa menjemputmu?" Rama berbicara dengan mimik wajah serius.
Mendengar pertanyaan dari Rama membuat Sasa jadi merasa tak enak hati, sangat terlihat jelas kalau Rama tidak mau mengantarkannya dan itu sama saja sebuah penolakan.
__ADS_1
"Eh...ti–tidak apa-apa kok,tante. Sasa bisa pesan taksi online saja. Kasihan Rama pasti capek dan mau beristirahat. Nai, gue pulang ya."
Maima menatap tajam pada Rama dan menggeleng takpercaya dengan tingkah putranya yang tidak memiliki empati sama sekali.
"Sa, loe ngak nginep aja. Bukannya ortu loe lagi ngak ada di rumah kan? mending di sini aja dari pada di rumah kesepian lagian besok hari minggu juga." Naina menahan Sasa.
"Rama...!"
Mendapatkan tatapan mematikan dari sang mama membuat Rama seketika luluh juga dan akhirnya ia pun bersedia mengantar Sasa pulang.
"Iya....iya, Rama antar. Ayo–!"
"Tuh Sa, mas Rama sudah mau mengantar. Cie...cie berduaan ni ye, semangat!"
Naina berbisik dan menyemangati sang sahabat. Karena akhirnya Sasa memiliki kesempatan untuk berbicara langsung dengan Rama.
"Ish–apaan sih loe,Nai? dah ah, gue balik dulu ya.sampai jumpa hari senin bestie!"
"Muach..."
Setelah bercipika cipiki, Sasa menyusul Rama yang telah lebih dulu menuju ke mobilnya.
Di dalam mobil dan di sepanjang perjalanan tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Rama yang notabennya pendiam dan sedingin es balok tidak akan ingin mengajak Sasa bicara apa lagi hanya sekedar mengobrol atau pun berbasa basi.
"Ram–eum, apa kamu memiliki seseorang yang kamu su..."
"Ada–!"
"Ish...to the point sekali sih? jadi benar dia sudah mempunyai gadis yang dia suka? Sasa, calm down! tarik nafas..."
"Oh, begitu ya. Apa aku boleh tahu siapa?"
Dengan penuh keberanian dan rasa penasaran yang sangat,Sasa memberanikan diri bertanya siapa gadis yang telah mengisi hati laki-laki yang juga di sukainya itu.
"Kamu kenal kok siapa dia! maka dari itu, kamu jangan terlalu berharap dan tolong jangan terlalu dekat apa lagi mencari perhatian dari gue. Ngak akan ada gunanya. Lagi pula lebih baik fokus belajar untuk ujian." Rama berbicara serius dengan tatapan masih fokus ke arah depan.
"I–iya juga, sih.Jadi, siapa gadis itu?"
Degup jantung Sasa berdebar kencang, ia begitu gugup menanti jawaban yang akan di berikan oleh Rama. Ia masih belum bisa menebak siapakah gerangan gadis itu.
"Naina...ya, dia adalah gadis yang aku cintai."
DEGG
"Jadi, yang dikatakan oleh Kiki adalah benar adanya. Naina ...perempuan yang di taksir Rama. ah, bukan. Tapi, gadis yang di cintai Rama.Ternyata cintaku telah layu sebelum berkembang."
Tubuh Sasa seketika lemas seakan tak bertenaga. Mendengar ungkapan isi hati Rama yang sebenarnya dan kenyataan pahit bahwa Naina lah gadis yang selama ini menjadi saingannya. Sasa sudah pasrah karena ia yakin tidak akan memenangkan hati Rama. Naina adalah sahabat terbaiknya, ia tak akan pernah bisa bersaing dengannya.Sudah tidak ada celah untuknya masuk.
"Eh, iya Ram. Sorry ya kalau selama ini kamu merasa terganggu dan tak nyaman akan kehadiranku.Maaf..."
__ADS_1
"Hmmm..."
Tbc