Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
15. Hanya Bersandiwara


__ADS_3

"Rani...."


Varell bergumam lirih memanggil istrinya. Namun Rani tak menghiraukannya, ia hanya fokus pada sang calon bayinya. Ketika masih merasakan kehadiran sang calon buah hati di rahimnya. Ranipun tersenyum lega.


"Alhamdulillah kamu masih bersama bunda nak." mengelus perutnya. Pandangannya kemudian beralih pada sosok suaminya yang tengah terpaku menatap nanar dirinya.


"Mas Varell.... kenapa hanya berdiri disana saja? Rani sangat bahagia mas, bayinya baik-baik saja. Alhamdulillah dia masih rezeki kita, mas." tersenyum manis pada sang suami. seketika Rani terdiam sambil menutup mulutnya karena merasa ia telah salah berucap.


"Maaf mas, Rani terlalu senang ...."


Belum juga ia melanjutkan ucapannya, tapi sudah di sela oleh sang suami.


"Rani, maafkan aku ya. aku tidak sengaja, tadi aku terlalu berlebihan sampai terbawa emosi hingga membahayakan calon anak kita."


"Barusan mas Varell bilang anak kita? Rani ngak salah dengar kan?apa mas....." tak melanjutkan perkataannya, tertunduk.


"Iya tentu saja anak kita sayang, kan yang membuat kita berdua." tersenyum menggoda. mendekat dan duduk dikursi samping brankar.


"apa aku boleh menyentuhnya?"


"Te...tentu saja boleh mas, ini kan anak mas Varell juga." meraih tangan sang suami dan meletakkan telapak tangannya diatas perutnya.


"Apa dia sudah bisa menendang? Hallo baby, ini Ayah. sedang apa emm?"mengelus dan fokus merasakan adanya kehidupan didalamnya.


"Hi, hallo juga Ayah." Rani tersipu malu karena ini pertama kalinya Varell menyentuh dan menyapa calon anak mereka.


Saat mereka sedang asik bercengkerama dengan sang calon baby, pintu ada yang membuka tanpa diketuk. Masuklah mama Sandra dan papa Tyo serta Angela yang mengekori dibelakangnya.


"ehemm... aduh yang sedang asik, sampai ngak engeh kalau ada orang masuk." goda mama Sandra. Rani pipinya kembali merona karena malu, tangan Varell masih betah berada dipermukaan perut sang istri.


"Mas.... "Rani memberi kode dengan pandangan matanya pada tangan Varell agar memindahkan posisinya. ia masih terlalu canggung akan perlakuan sang suami yang tiba-tiba saja berubah lembut.


"Gimana keadaanmu sekarang Ran, apa masih sakit?" mama Sandra duduk ditepi ranjang tepat disebelah kiri dan mengelus lembut perut Rani.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah mendingan ma." mama Sandrapun mengangguk dan menghela nafas lega.


Papa Tyo dan Angela duduk di sofa.mama Sandra menggelengkan kepala dan berdecak melihat kelakuan kedua anaknya yang malah asik dengan ponselnya masing-masing.


"ckk, kalian ini mau menemani Rani atau kesini cuma mau berchatting ria? ini juga, bukannya minta maaf dan perhatian sama istrinya malah ikutan asik sama ponsel?" menepuk tangan Varell kesal.


"Iya iya ma, tadi Varell dah minta maaf trus udah dimaafin juga sama Rani kok, iya kan sayang?" tersenyum setampan-tampannya, hingga membuat Rani tertunduk malu.


"Cie.... cie yang lagi ehem ehem?" Angela pun ikut menggoda sang kakak dan kakak ipar tercintanya.


"Tok tok tok


"Permisi Bapak dan Ibu, saya mau memeriksa ibu Rani." dr.Dona adalah dokter kandungan yang menangani Rani segera memeriksa kondisi kandungan Rani. lalu tersenyum setelahnya.


"Oke ya bu Rani, Kandungannya baik-baik saja dan denyut jantung babynya sudah kembali normal. Apa masih keluar darahnya bu?"


"Sudah tidak dokter."


"Kalau begitu besok pagi sudah boleh pulang dan tetap harus dijaga kandungannya ya bapak-ibu. Jangan kecape'an, dan bapak juga ibunya jangan diganggu dulu ya pak!" dokter Dona pun tersenyum penuh arti.


"Tuh Rell, denger apa kata dokter kan. kamu jangan dinas malam dulu!" papa Tyo terkekeh menyindir sang putra yang bakal berpuasa pastinya.


"ehemm....iya pa, ngak usah ngeledek gitu deh. siapa tahu pulang dari sini papa juga harus puasa?"


"Hei...hei anak kurang ajar, do'ain papa kamu ya? ngak kan ya ma?" mengedipkan matanya lalu menatap kesal pada sang putra.


"Belum tahu juga ya pa, lihat aja nanti deh dirumah? Yuk Ngel kita pulang. Rani, kami pulang dulu ya. besok agak siangan kami akan ke Apartemen kalian oke, sayang?"


"Mama, jangan dong ma.ya...ya!" menoel-noel lengan sang istri.


"Dan kamu Varell, jaga menantu dan cucu mama baik-baik.awas kalau sampai kenapa-kenapa lagi ya!"


" Siap nyonya besar." melakukan gerakan menghormat pada mama Sandra.

__ADS_1


 


Varell dan Rani telah pulang ke Apartemen mereka. Ketika Rani hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba saja tubuhnya dibopong ala bridal style oleh Varell. Rani sempat kaget karena Sang suami kembali bersikap lembut padanya.


"Terima kasih mas."


"hmmm...."


Sesampainya didalam kamar, Varell menurunkan Rani di tepi ranjang lalu langsung melenggang pergi tanpa berkata apapun.


Membuat Rani yang tadinya ingin berbicara jadi menahannya melihat wajah dingin sang suami. Dalam hatinya Rani kembali bertanya-tanya ada apa lagi dengan suaminya itu?


"Mas Varell kenapa ya? kok perasaanku jadi tidak enak ya? semoga apa yang aku pikirkan itu tidak terjadi?."


Sejak mengantarkan Rani kekamar,Varell tidak muncul lagi. Rani kembali berkutat dengan pikirannya, terlintas pikiran negatif tentang sikap suaminya yang berubah kembali dingin ketika kembali kerumah.


"Krukk....krukkk


"Aduh nak, kamu sudah lapar ya. bunda juga sayang. ayuk kita cari makan dulu.sabar ya nak!" perlahan turun dari ranjang dan melangkah dengan hati-hati keluar kamar.


Perlahan Rani menuruni satu persatu anak tangga dengan berpegangan erat pada sisi tembok. ia mengedarkan pandangannya yang terlihat begitu sepi.


"Mas Varell kemana ya? apa dia sudah berangkat ke kantor?" seaampainya didapur, kemudian ia mulai menyiapkan bahan untuk dimasak.


"ceklekk... pintu kamar Varell terbuka dan Varell langsung menghampiri Rani yang sedang berkutat di dapur.


"Sedang apa kamu? mau membuat aku dimarahi mama dan papa lagi. sudah kamu diam saja dikamar. nanti aku pesankan makanan!"


"Dengar ya gadis kampung, kamu jangan kege'eran dulu. kamu kira aku sudah menerimamu dan memaafkanmu begitu?


itu hanya akan terjadi didalam khayalanmu oke. Satu lagi, awas saja kalau mama sampai tahu!" tatapannya menghunus tajam pada sang istri.


"I...iya mas, maaf. Rani keatas dulu mas.permisi!" menunduk,berjalan sambil menahan jatuhnya air mata yang sudah mengembeng dipelupuk matanya.

__ADS_1


"Ya Allah cobaan apalagi ini, Astaqfirullah haladzim. Jadi kemarin mas Varell hanya bersandiwara?" memegang dadanya yang terasa sesak.


Tbc


__ADS_2