
Mereka bertiga berusaha menenangkan sang sahabat yang sedang patah hati. Zack begitu terpuruk dan tenggelam dalam kesedihannya.
Bibirnya tak diam selalu memanggil-manggil nama seorang gadis yang kini telah menjadi mantan kekasihnya. Dan laki-laki itu sungguh tak bisa menerima kenyataan pahit itu.
"Sudahlah Zack, loe jangan seperti ini! besok kan masih bisa dibicarakan lagi." Varell menepuk-nepuk punggung Zack.
"Iya Zack, jangan putus asa dulu. Mungkin saat ini Maima memang sedang ada masalah dan biarkanlah suasana tenang dahulu!" kali ini Doni yang berusaha menguatkan hati sahabatnya itu.
Lain halnya dengan Rangga, laki-laki itu tampak risau. sangat terlihat dari mimik wajahnya yang tegang. Karena ia sadar bahwa semua yang terjadi adalah karena haail dari perbuatannya. Ia telah menghianati sahabatnya sendiri.
"I...iya Zack, tenanglah. semua pasti akan baik-baik saja."
Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Rangga, ia belum siap untuk mengatakan hal yang sebenarnya dan mengakui segala perbuatannya terhadap Maima. Rangga menatap Zack dengan penuh rasa bersalah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengantar Zack pulang ke Apartemen pribadinya.
Mereka sengaja tidak membawanya ke rumah orang tuanya karena pasti mama dan papa nya akan bertanya macam-macam dan akan menambah masalah saja. Biarlah agar Zack menenangkan dirinya dulu.
Sesampainya disana, mereka merebahkan tubuh Zack diatas tempat tidur.Varell dan Rangga pamit pulang dan kini yang tinggal hanya Doni untuk menemani Zack.
Ternyata Rangga tak langsung pulang, laki-laki itu malah berbelok arah menuju ke kos-kosan Maima.
Rangga memarkirkan mobilnya ditepi jalan. lalu ia berjalan kaki masuk ke dalam gang yang menuju ke kos-kosan. Laki-laki itu hanya berdiam didepan gerbang pintu kos-kosan. ia hanya mengamati pintu kamar Maima yang tertutup rapat.
Suasana sangat sepi. ya karena saat ini sudah menjelang tengah malam, bahkan lampu disetiap kamarpun telah padam. Rangga menatap nanar kamar gadis yang kini tengah mengusik hatinya.
Setelah hampir satu jam, akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Namun tiba-tiba saja lampu kamar Maima menyala, Rangga pun mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana. Ia terus mengamati pergerakan bayangan seseorang yang menerawang dari jendela kamar itu.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka dan terlihat Maima seperti akan keluar, sebab gadis itu memakai sweater dan kupluk rajut.
Rangga segera bersembunyi dibalik tembok samping pagar. ia terus memperhatikan gerak gerik gadis itu. Maima melangkah keluar gang. Gadis itu tak menyadari bahwa Rangga tengah mengikutinya dari belakang.
"Hh....dingin sekali, kira-kira masih buka tidak ya?"
Maima menelusuri tepi jalan untuk menuju kesuatu tempat. ia berjalan sekitar dua ratusan meter dan akhirnya ia berhenti didepan sebuah lapak pedagang nasi goreng dipinggir jalan.
Maima duduk di kursi plastik yang disediakan oleh sang pedagang. Sambil menunggu pesanannya, Maima mengeluarkan ponsel dari saku sweaternya. Kemudian ia mengotak atik ponselnya. Wajahnya tampak sendu.
Dikejauhan Rangga masih memantau Maima. Laki-laki itu pun mengambil ponselnya juga dari saku celananya. ia mencoba untuk mengirim pesan pada gadis itu.
"*Mai, kamu sedang apa?"
"Tidak sedang apa-apa kak."
"Kenapa jam segini belum tidur?"
"Iya, ini juga baru mau akan tidur. tadi perutku terasa lapar."
__ADS_1
"Jangan sampai telat makan, nanti kamu sakit Mai! jagalah kesehatanmu! apa boleh besok aku menemuimu di restauran?"
"Ah....maaf kak, sepertinya sudah sangat larut sekali. aku sudah mengantuk mau tidur. selamat malam kak!"
klekk
Maima menutup sambungan telponnya, karena pesanannya pun telah jadi. setelah itu iapun melangkah menuju ke kos-kosannya kembali dengan masih berjalan kaki.
Tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya untuk mengangkat telpon, sepertinya ada yang tengah menghubunginya. Maima duduk disebuah kursi kayu yang berada ditepi jalan. Dari mimik wajahnya terlihat sangat sedih ketika berbicara dengan si penelpon.
Maima teringat kembali saat pertama kali ia mengetahui bahwa dirinya hamil, saat itu dunia rasanya runtuh dan hatinya hancur berkeping-keping.
Ia sempat merasa putus asa. apalagi mengetahui kalau Rangga sama sekali tak perduli akan apapun yang terjadi pada dirinya akibat perbuatan yang telah mereka lakukan malam itu.
Akhirnya ia memutuskan akan melupakan segala yang telah terjadi, menerima takdir yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa untulnya. Maima bertekad akan melanjutkan kehamilannya dan akan membesarkan buah hatinya seorang diri walau tanpa bantuan dari siapapun.
Ya, Maima si gadis tangguh telah kembali. Setelah itu Maima melangkah kembali menuju ke kosannya yang sudah dekat.
"Ayo dek, malam ini kita makan enak ya." Maima berjalan sambil mengelus lembut perutnya dan dengan senyum yang terus mengembang.
Rangga yang melihat wajah Maima yang sumringah dan tampak manis sekali di dalam pandangannya, merasa sangat lega.
Namun keningnya mengernyit ketika melihat gerakan tangan Maima yang tengah mengelus-elus perutnya. Dalam hati iapun jadi bertanya-tanya mengapa Maima melakukan hal demikian?
"Kenapa Maima mengelus perutnya seperti itu, apakah dia sangat kelaparan? tapi kok rasanya ada yang aneh, perasaanku mengatakan ada seauatu pada dirimu Mai? apa jangan-jangan....?"
"Besok aku akan mencari tahu semuanya sendiri." Setelah memastikan Maima telah sampai kosan dengan selamat dan memaauki kamarnya, akhirnya Ranggapun pulang ke Apartemennya.
---‐-----------
"Hemm.... anak bunda sudah ganteng dan wangi, muach....muach!" Seperti biasa, setelah baby Rava bangun tidur dan berjemur untuk mendapatkan sinar matahari pagi, lalu Rani akan langsung memandikannya.
tok tok tok
"Iya, sebentar!"
ceklekk
"Hallo, selamat pagi cucu nya uti. hmm....harumnya. sini-sini sama uti!"
Mama Sandra yang mengetahui segala aktifitas rutin sang menantu dan cucunya di setiap paginya. ia akan bergegas mengambil baby Rava dan membawanya kebawah setelah disusui tentunya.
"Ran, apa Varell sudah bangun?"
"Belum ma. ini baru mau Rani bangunkan. tadi setelah sholat subuh mas Varell tidur lagi."
"ck, anak itu kebiasaan. Ya sudah, kamu urus saja dulu bayi besarmu itu Ran! Masa' kalah sama anaknya." Gerutu mama Sandra sambil berlalu menggendong baby Rava.
Kemudian Rani mendekat dan duduk ditepi ranjang. sejenak ia memandang wajah tampan Varell yang masih terpejam. ia begitu mengaguminya dan rasa cintanya pada sang suami semakin besar. Kini baginya suami dan baby Rava adalah yang paling terpenting dalam hidupnya.
"Mas....Mas, bangun sudah pagi mas!" mengusap pipi Varell, namun laki-laki itu hanya menggeliat belum berniat untuk bangun.
__ADS_1
"Assalamuallaikum ayahnya baby Rava, ayo bangunlah sayangku! Cup....cup!" Kali ini Rani menggunakan jurus jitu untuk membangunkan suaminya itu.
Dan sepertinya cara itu berhasil, kelopak matanya mulai terbuka dan senyum pun langsung merekah diwajah tampan yang masih bau bantal itu.
"Waallaikumsalam bundanga baby Rava. aku sudah bangun dari tadi kok sayang."
Grepp
"Akh....mas Varell, apa-apaan sih? ini sudah siang loh, ayo cepat bangun dan mandi!" Varell menarik tubuh Rani hingga terjatuh diatas dadanya, kemudian ia membaliknya hingga Rani kini berada dibawah kungkungannya.
"suamimu ini dan juga adik kecilnya sudah terbangun juga loh sayang?"
"Adik kecil? ahh....mas Varell nakal, jadi....Mas ihh pagi-pagi udah mesum aja? sudah-sudah ayo lekas mandi mas, nanti kamu kesiangan berangkat ke kantornya!" Sambil berusaha melepaskan diri dari terkaman sang suami.
"Sayang.... ayo, temani aku mandi! sekalian olahraga pagi sebentar, janji ngak akan lama kok? morning s**s sayang? oke, yuk!"
Menarik tangan istrinya memasuki kamar mandi. Dan akhirnya Rani pun mandi lagi setelah berkeringat akibat olahraga pagi bersama Varell suami bucinnya.
"Mas....semalam Rani sudah menanyakan langsung pada Maima soal putusnya hubungan mereka. Dan Maima bilang benar mereka memang telah mengakhirinya.
Sepertinya ada yang sedang disembunyikan oleh Maima?entah itu apa?" Rani tengah mengeringkan rambutnya di depan meja rias. setelah selesai ia beranjak membantu suaminya bersiap untuk berangkat kekantor.
"hmm....terus, bagaimana?" Ketika Rani sedang membantunya memakaikan dasi, tangan Varell mulai bergerak nakal. membuat Rani berdecak kesal.
Plakk!! "Ish, mas Varell. sudah dong ah! yang tadi apa masih kurang?" memelototkan matanya sambil mencubit lengan suaminya.
"Hehehe, iya iya deh! cuma bercanda kok. sudah sangat puas sekali sayang! nanti malam bisa dilanjut lagi kan? tubuhmu bagai candu bagi suamimu ini sayang!" menyeringai nakal
"Oh ya, soal Maima dan Zack. nanti kita bicarakan lagi. ayo kita sarapan dulu!" Pasangan suami istri itupun akhirnya muncul setelah sekian lama berkutat didalam kamar.
"Pagi, pa, ma dan adikku sayang!" Varell tersenyum sumringah seperti habis mendapatkan hadiah istimewa.
"Pagi...pagi, ngapain aja sih kalian? kami sudah hampir jamuran menunggu hanya untuk sarapan pagi. Pasti kamu minta bonus dipagi hari sama Rani ya? hati-hati jangan kebablasan, ingat anak kalian masih terlalu kecil untuk punya adik!" Papa Tyo menyindir putranya.
"Iya pa, kami selalu berhati-hati. pokoknya aman terkendali lah." 👌
"Auw....apa sih sayang, memang benar kan apa yang kukatakan?" Rani mencubit pinggang Varell karena malu mendengar celotehannya.
"Hush.....sudah, ada anak kecil disini. jangan ngomong ngawur!"
Mama Sandra menginterupsi perbincangan absurd antara suami dan putranya.
"Iya nih, mas Varell si bucin akut?"
"Da da....semuanya, aku berangkat dulu ya!" Angela langsung bergegas pergi sebelum disemprot oleh kakaknya.
"Ngel, kamu ngak bareng papa?"
"Enggak ma, itu jemputan Angela sudah datang!"
__ADS_1
"Jemputan? siapa? Angelaaa tunggu!"
Tbc