
Ketika masuk ke dalam kamar, Zack tidak menemukan sang istri. Namun, mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi membuat hatinya lega.Beberapa menit kemudian Ayu keluar dengan masih mengenkan bathrobe-nya dan dengan rambut yang basah terlihat sexy di mata Zack.
"Sayang, abang kira kamu kemana? kenapa mandi tidak menunggu abang? kan abang juga mau mandi bareng sama adek?" Zack merajuk manja terlihat lucu sekali membuat Ayu mengulum senyumnya.
"Kan abang sedang ada tamu penting? kenapa malah ikut menyusul ke kamar?"
Ayu melangkah dan duduk di depan meja hias lalu mengeringkan rambutnya yang basah.
"Lebih baik abang kembali kebawah saja!Ayu tidak ingin di salahkan oleh Grandma gara-gara kakak tak ikut makan malam bersama mereka." Menatap suaminya melalui pantilan cermin di meja rias.
Mendengar ucapan sang istri membuat Zack tak suka. Ia beranjak dan mendekati Ayu yang masih sibuk dengan rambutnya.
"Abang tidak perduli walaupun nanti Grandma akan marah." Membungkuk lalu mencium kepala Ayu yang mengeluarkan semerbak wangi aroma shampo yang menenangkan.
"Iya, Abang sih santai saja tapi Ayu yang akan kena imbasnya. Grandma pasti akan melampiaskan kemarahannya pada Ayu." Ayu tertunduk lesu.
"Dan abang tidak akan membiarkan Grandma melakukannya. Tenanglah sayang, abang akan selalu menjaga adek dari berbagai mara bahaya yang akan menyakiti adek sekecil apa pun."
Zack meraih tubuh Ayu agar berdiri lalu menatap lekat wajah cantik nan sendu itu.sangat jelas terlihat kerisauan di didalamnya.Di rengkuhnya tubuh mungil Ayu kedalan pelukannya.Ayu menelusupkan wajahnya ke dada bisang sang suami dan merasakan hangatnya pelukan yang terasa menenangkan dan membuat Ayu merasa begitu nyaman dan aman.
"Sudah, tidak usah di pikirkan! lebih baik kita rebahan istirahat sejenak sampai mereka selesai acara makan malamnya!" Zack menggiring Ayu naik ke atas tempat tidur lalu mereka tiduran sambil terus saling menatap diam.
"Kenapa hmm?apa ada sesuatu yang adek ingin sampaikan ke abang?katakanlah!" Zack mengelus pipi sebelah kiri Ayu.
"Mmm–bang, jika Grandma, daddy dan mommy lebiih merestui nona Tamara yang akan menjadi istri abang dan menantu di rumah ini. Ayu ngak apa-apa kok bang, Ayu akan mundur dan tidak akan mengganggu keluarga Brown lagi.Ayu tak ingin menjadi penghalang."
"Kenapa adek mengungkit hal itu lagi? kan sudah abang bilang ngak mau mendengar adek bicara soal perpisahan.Pokoknya abang ngaka akan melepaskan adek.titik!" Zack mulai kesal karena Ayu masih saja memikirkan hal yang tak di bencinya.
__ADS_1
"Lebih baik kita melakukan hal yang lebih penting!" Tatapan Zack kembali menghangat pada sang istri.
"Hal penting apa bang?"
"Membuat anak lah!Yuk, kita harus kejar setoran biar cepat menyusul Varell dan Rangga!" Menatap sang istri penuh damba.
"Ish...abang ini, lagi diajak bicara apa malah melantur ke sana-sana? mesum ah, abang!" Ayu mencubit perut Zack.
"Aduh...sayang, nakal ya? kurang kebawah sedikit lagi, pas!?"
"Abanggg...!?" Ayu merajuk manja.
"Apa sayangku, my sweety ?Yuk!" Mengkode dengan kedipan dan mengarahkan tatapannya ke area bawah.
Ayu menjawab dengan mengangguk malu-malu meong. Membuat Zack sumringah dan tanpa basa basi langsung menerjang Ayu dan bergerilya ke segala titik tersensitif sang Istri. Membuat Ayu hanya bisa pasrah dan me******."
"Tuan Wiratama, maafkan putra kami Zack yang telah berlaku tidak sopan!" Daddy Edward meminta maaf karena kelakuan Zack yang menolak untuk makan malam bersama.
"Oh, tidak apa-apa. Jangan khawatirkan hal itu. biasalah kaum muda?ngomong-ngomong, apa saya boleh menanyakan sesuatu tentang menantu anda Ayu? benar kan namanya Ayu?" Tannya Tuan Wiratama.
"Iya benar Tuan, namanya adalah Ayuni Danastri.Apa ada sesuatu yang ingin anda ketahui tentang Ayu?" Kali ini mommy Sinta yang menjawabnya.
"Orang tuanya tinggal dimana ya? ah, maksud saya siapa nama orang tua Ayu?sebab wajah menantu anda sangat familiar bagi kami." Mendengar nama lengkap Ayu membuat mereka jadi bertambah penasaran.
"Ayu sudah tidak memiliki orang tua, dia tinggal dengan pamannya yang tinggal di Jogja." –mommy Sinta
"Jogja? kalau boleh tahu siapa nama pamannya, Jeng Sinta?" Nyonya Sherina semakin penasaran.
__ADS_1
"Bapak Muhammad Haikal. Memangnya ada apa sih jeng?Kelihatannya kok penasaran sekali dengan menantu saya, Ayu?"
Tuan Wiranata dan Nyonya Sherina tak menjawab, wajah mereka berubah pias terutama nyonya Sherina tampak sedih."
"Apa saya boleh meminta nomer telepon pak Haikal yang bisa di hubungi Tuan Edward? ada suatu hal yang harus kami cari tahu?"
Daddy Edward dan mommy Sinta pun saling berpandangan dan akhirnya memberikan nomer telepon yang diinginkan oleh Tuan Wiratama dan Nyonya Sherina.
"Ini Tuan Wiratama audah saya kirim nomer kontaknya pak Haikal."
Tuan Wiratama melihat ponselnya dan ternyata memang sudah masuk. Ia pun mengangguk dan tersenyum sumringah.
"Terima kasih banyak Tuan Edward. Anda pasti penasaran mengapa saya begitu ingin tahu mengenai menantu anda. Maaf, untuk saat ini kami belum bisa memberikan penjelasan kepada anda. Jika sudah clear, kami pasti akan memberitahukannya kepada anda.Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena hal ini begitu berarti bagi kami." Tuan Wiratama dan nyonya.Sherina menangkupkan telapak tangannya.
Grandma Catherine sama sekali tidak berkomentar apa-apa.Ia juga heran ada apa dengan cucu menantunya itu? apa Ayu telah melakukan sesuatu?"
"Ada rahasia apa sebenarnya dengan si Ayu? pasti ada suatu rahasia yang Tuan Wiratama dan Nyonya Sherina sembunyikan?Tapi apa ya?ah, sudahlah!bukan urusanku." –Grandma Catherine
Karena malam semakin larut, mereka pun pamit undur diri. Namun, tiba-tiba Tamara menghentikkan kedua orang tuanya yang akan beranjak berdiri.
"Papa, mama bagaimana sih ini? bukankah kita kesini untuk membicarakan masalah perjodohanku dengan Zack? lalu kenapa malah membahas cewek miskin yang tak tahu diri itu?ngak penting banget sih?"
"Tamara, jaga bicaramu! papa dan mama tidak pernah mengajarkanmu bersikap tidak sopan seperti itu! Yang kamu kamu hina itu adalah istri dari Zack dan menantu di rumah ini. Ayo, kita pulang sekarang!" Nyonya Sherina langsung menarik tangan putrinya agar berdiri. Tamara pun menurut tapi dengan wajah yang terus cemberut.
"Mama...salahku di mana? memang benar kok apa yang kukatakan!" Masih membantah.
"Maaf ya Tuan Edward dan Nyonya. untuk maslah perjodohan ini sebaiknya kita batalkan saja.Setelah kami melihat sosok Ayu, menantu anda. Kami sudah bisa menilai kalau dia adalah wanita muda yang sangat baik dan sopan,serta hormat kepada yang lebih tua."
__ADS_1
Tbc