
Varell telah telah bersiap untuk tidur. Rani menatap suaminya berjalan semakin mendekat dan naik ke atas tempat tidur.
"Kenapa belum tidur sayang, hemm?" Varell merengkuh tubuh sang istri kedalam dekapannya. Rani bersender di dada bidang suaminya, terasa sangat nyaman.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. tapi, janji ya jangan marah!" mengusap kepala dan memainkan rambut istrinya.
"Memangnya apa yang mau mas bicarakan? mas Varell telah berbuat sesuatu ya? ayo, ngaku mas?" wajah Rani sudah menampakkan mode cemberut.
Varell mencubit gemas pipi Rani. membuat Rani pura-pura meringis.
"Aww....ish, mas Varell sakit tahu? mengusap pipinya dan semakin mengerucutkan bibirnya.
"Enggak keras kok sayang nyubitnya, apa mau dicubit yang ngak sampai sakit? mau?" tersenyum menyeringai.
"Ngak mau! ayo cepat bilang, apa yang telah mas perbuat sampai Rani tidak boleh marah!" Kembali merebahkan kepalanya didada suaminya.sambil jemarinya memainkan kancing piyama sang suami.
"Beneran ya, jangan marah kalau sudah diberitahu! ini maksudnya apa? apa sayang sudah kangen lagi sama adiknya masmu ini, hmm?" Menunduk dan menatap tangan istrinya yang masih fokus pada kancing bajunya.
"Maksudnya?" Rani mendongakkan wajahnya menatap Varell dengan wajah polosnya. membuat Varell semakin ingin menggoda istri cantiknya itu.
"Ya itu, mau minta itu kan? masak masih perlu dijelaskan sih sayang, sudah punya anak satu juga." mencolek mesra pipi Rani.
Setelah Rani mengerti akan maksud dan keinginan dari suaminya, sontak ia langsung mencubit perut Varell.
"Ishh....siapa juga yang mau minta iti? jangan ge'er ah. sudah jangan mengalihkan topik pembicaraan. Ayo sekarang mulai ceritakan apa yang mas mau kasih tahu ke Rani!"
"Iya....iya sayang ,maaf. oke, sudah bisa dimulai nih. sekarang kan?" Varell kembali memancing kekesalan sang istri.
"ishh.....! iya sekarang masa'tahun depan?" mencubit pinggang Varell.
"Aww....aww...iya, sayang. nih aku mau ngomong sekarang ya." terkekeh geli karena berhasil mengerjai sang istrinya.
Varell lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Rangga tadi sore. Rangga terlihat sangat kusut dan galau.Karena merasa kasihan pada sahabatnya itu, akhirnya Varell pun memberitahu tentang keberadaan Maima dirumah mereka.
Dan yang membuat Varell mengambil keputusan itu adalah melihat sikap dan perilaku Rangga yang begitu menyesali akan segala perbuatannya pada Maima. Rangga benar-benar ingin bertanggung jawab pada Maima dan calon anaknya. Rani terus menykmak dengan serius semua yang tengah diceritakan oleh suaminya.
"Begitu sayang, bagaimana menurutmu?"
"Nanti kalau Maima marah bagaimana mas? Rani takut Maima bakal kabur lagi."
"Tapi kamu setuju kan kalau Rangga kesini untuk menjemput Maima dan menyelesaikan segala kesalahfahaman diantara mereka. terutama tante Herlina, mama nya Rangga. kasihan. Rangga bilang mamanya begitu menyesal dan sedih dengan kepergian Maima dari rumah mereka."
"Ya, sudah terserah mas Varell saja. yang terpenting Maima bisa meraih kebahagiaannya. kasihan mas, Maima itu sebatang kara seperti Rani." Matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya, maka dari itu jangan sampai Maima tahu dengan rencana kita ini!oke?"
Rani pun mengangguk dan kembali tersenyum manis pada sang suami.
"Nah gitu dong senyum, kan tambah cantik." Semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah, ayo kita tidur!"
cup
mengecup kening sang istri. "selamat tidur sayang!"
Pagi hari nan cerah, sudah terlihat berbagai kesibukan di dapur. bahkan Maima tak ketinggalan imut serta dalam mempersiapkan menu sarapan pagi keluarga Darmanto.
__ADS_1
"Bi, ini ayamnya mau di masak kecap atau goreng krispy bi?" maima menunjuk potongan ayam yang sudah siap untuk di olah.
"Kayaknya di goreng krispy saja deh Mai, soalnya kan pagi ini kita memasak capcay."
"Oh iya ya bi,pasangan yang klop yummy! kalau begitu aku masak sekarang ya bi?" Bi munah pun tersenyum sambil mengangguk.
Di saat mereka masih sibuk dengan masakannya masing-masing, tanpa mereka sadari mama Sandra telah berdiri dan memperhatikan.
"Wah, hmm....harumnya!" Bi Munah, Maima kalian masak apa sih, bikin lapar saja nih?" Mama Sandra mengendus aroma masakan yang sangat menggugah selera.
"Maaf nyonya, kami tidak tahu kalau anda sudah datang." Bi Munah yang pertama menyadari kehadiran mama Sandra.
"Selamat pagi tante." Kemudian Maima juga menyapa mama Sandra.
"Pagi sayang. Oh ya Maima bagaimana? nyenyak tidurnya?"
"Iya, alhamdulillah tante." Maima menyiapkan hidangan yang telah masak diatas meja makan, bi Mumah juga melakukan hal yang sama. mereka berdua saling membantu.
Hidangan pun akhirnya sudah tertata rapi diatas meja makan dan siap untuk di santap. Bertepatan dengan munculnya papa Tyo, Varell, Rani plus babay Rava dan juga tak ketinggalan si bungsu nan manja Angela.
"Woww.... Ayo, kita eksekusi sekarang. dah ngak tahan lihatnya!" Angela menelan salivanya dan bibirnya sampai berdecak tak sabar ingin segera menyantap semuanya.
Mereka tak menanggapi ocehan si manja, mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing dengan posisi seperti biasanya. Ketika Maima hendak melangkah pergi, mama Sandra yang melihat langsung menegurnya.
"Maima, kamu mau kemana sayang? ayo duduk sini!kita sarapan sama-sama!" mama Sandra tersenyum lembut.
Maima yang memang sensitif perasaannya tentu saja merasa tak enak jika harus makan bersama keluarga Darmanto yang tak sederajat dengan dirinya. Maima cukup tahu diri akan posisinya di rumah itu.
"emm....terima kasih tante, Maima nanti makan bareng bi Munah saja di belakang."
Mama Sandra dan yang lainnya langsung menatap Maima, sedangkan Maima yang dipandang oleh semuanya sontak tertunduk malu.
"Kenapa Mai, jangan berpikiran macam-macam! kamu sudah om dan tante anggap seperti putri kami sendiri, kakak dari Angela dan adiknya Varell. Sudah, ayo duduk sini, tante ngak mau menerima penolakan!" Mama Sandra memasang wajah kecewa katena Maima masih saja sungkan dan rendah diri.
Sarapan pagi pun berjalan dengan hikmat, semua hampir menghabiskan makanannya.
"Ma, pa, setelah ini ada yang ingin kami bicarakan. sebentar saja!"
"Ada apa Rell? papa buru-buru ini, ada meeting pagi dengan para pemegang saham. Kalian bicaralan sama mama saja ya, papa sih manut saja!" jawab papa Tyo.
"oke, ngak apa-apa Pa." Varell mengiyakan perkataan sang papa.
Papa Tyo kemudian melangkah pergi.meninggalkan ruang makan.
"Kak, diajak rapat ngak?" tanya Angela.
"Tidak usah, sudah kamu berangkat sekolah bareng papa saja. sana nanti keburu ditinggal!" Angela pun langsung berlari kencang mengejar sang papa karena takut telat.
"Kita bicara di ruang kerja papa saja!" Varell dan Rani pun mengekori langkah mama Sandra menuju ke ruang kerja papa Tyo.
"Mai, kami tinggal sebentar ya!" Rani tersenyum
Varell mulai membuka pembicaraan. "Begini ma, ini tentang Maima?"
Mama Sandra duduk di sofa sambil memangku baby Rava.sedangkan Rani duduk disebelah Varell.
"Maima? ada apa lagi dengannya?" Mendengar kalau mereka akan membicarakan Maima, mama Sandra otomatis penasaran dan juga ada rasa khawatir pada gadis malang itu.
"Dengarkan Varell dulu ma! ehem...begini ma....!"
__ADS_1
Sementara itu Maima yang sedang membantu bi Munah berberes merapikan meja makan dan mencuci peralatan bekas makan tadi.
"Bi, kira-kira mereka sedang membicarakan tentang apa ya? sepertinya serius sekali? apa ini ada hubungannya denganku ya bi?" Maima tiba-tiba perasaannya jadintak enak.
Bi munah sejenak menghentikan pekerjaannya, lalu menghampiri Maima yang tengah mengelap piring.
"Mai, jangan selalu berpikir negatif! barang kali mereka mau mengadakan suatu acara atau mau liburan mungkin? sebaiknya tunggu saja, nyonya Sandra atau non Rani pasti akan memberitahu kita Mai."
Maima pun akhirnya mengangguk. "Iya juga ya bi, Astaqfirullah aku kok jadi suudzon pada mereka yang sudah sangat baik padaku.
Siang itu selepas makan siang, mama Sandra, Rani dan Maima tengah berbincang-bincang di ruang keluarga.
"Oh ya Mai, lusa kamu mau kan bantu-bantu tante untuk menyiapkan acara arisan temen-temen tante?"
Maima yang tengah asik bermain dengan baby Rava diatas karpetmun menoleh. "Iya, tentu saja aku akan membantu tante. Maima malah senang dari pada tidak melakukan apapun."
"Tuh kan kamu tu Mai, masih saja sungkan? kami sudah menggapmu keluarga Mai. Jangan berpikir yang tidak-tidak terus ah!" kali ini Rani yang menasehati sahabatnya.
Persiapan untuk acara arisan mama Sandra akhirnya telah rampung. Mama Sandra tengah bersiap-siap menunggu para tamunya. Sedangkan Rani mengajak Maima ke kamarnya untuk mengobrol.
Sebenarnya itu hanyalah siasat agar Maima tidak mengetahui yang sebenarnya tengah mereka rencanakan. Maima menurut saja dan mengikuti Rani untuk masuk ke kamar.
"Sini deh Mai, Rani mau kasih lihat baju-baju hamil Rani dulu. Kamu mau ngak Mai memakainya? tapi, jangan tersinggung ya Mai! Rani ngak ada maksud apa-apa kok." Rani mengeluarkan dress-dress hamilnya dan meletakkannya diatas tempat tidur.
"Ya ampun Ran, kamu kok jadi mikir begitu sama aku sih? tentu saja dengan senang hati aku akan memakainya Ran, aku malah sangat berterima kasih. baju-baju hamilmu pasti cantik-cantik dan sangat mahal tentunya kan?" Meraih salah satu dress hamil dan menatapnya dengan rasa kagum.
"Ran, sumpah ini bagus-bagus banget. aku suka kok Ran. terima kasih ya sahabat terbaikku." Memeluk dan mencium pipi Rani.
Terdengar suara beberapa mobil memasuki pelataran rumah. Maima beranjak hendak menuju ke balkon untuk melihat para tamu yang datang. Namun, Rani langsung berusaha mencegahnya.
"Mai, kamu mau kemana? kesini dulu lah, lihat ini ada salah satu dress yang sepertinya sangat cocok jika kamu pakai, pasti akan terlihat makin cantik kamu Mai!"
Maima mengurungkan niatnya dan berbalik menghampiri Rani. Lalu meraih sebuah dress hamil yang panjangnya dibawah lutut yang terlihat sangat pas ditubuh Maima.
"Ayo Mai, di coba sana! kalau kamu malu, ganti di kamar mandi....cuss!" Rani mendorong Maima agar segera berganti pakaiannya.
Tak berapa lama, Maima keluar dari lamar mandi dengan balutan dress hamil nan cantik. dan benar saja,Maima tampak semakin cantik.
"woww...Maima, kamu sangat cantik. langsung di pakai saja ya!"
"Enggak usah Ran, besok atau kapan saja aku pasti akan memakainya. Janji deh!"
"Pokoknya harus di pakai sekarang juga, tidak menerima penolakan! okeh?!" Rani sedikit pura-pura mengancam agaf Maima menurutinya.
"Ya sudah, ayo kita turun. Rani juga penasaran sama tamunya mama Sandra!"
Maima tak menjawab, ia hanya mengikuti langkah Rani keluar dan ketika mereka sudah sampai dibawah dan menju ke ruang tamu. Tiba-tiba Maima di kagetkan dengan suara seorang wanita paruh baya yang sangat dilenalnya.
"Iya loh jeng Sandra, sebentar lagi saya juga bakal nambah cucu loh. ini dari Rangga." Menepuk bahu putranya.
"Betul-betul ngak nyangka ya Jeng, ternyata nak Rangga dah mau nyusul Varell aja. "
Maima tersentak kaget dan menghentikan langkahnya. entah mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah. ia hanya berdiri terpaku. tak tahu harus bereaksi seperti apa?
"Jadi ini semua hanya arisan rekayasa, untuk mengelabuhiku ya? "
__ADS_1
"Maima....?"
Tbc