
Hari ini Rangga telah bertekad akan menghampiri langsung ke perusahaan Zack. Sekaligus ingin memberikan pelajaran karena telah membuat istrinya stress dengan berbagai macam teror yang di lakukan oleh Zack.
Sebelumnya Rangga menelpon Varell dan meminta sahabatnya itu untuk menemani bertemu dengan Zack. Ia tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali karena ikut terpancing amarah dan tak bisa mengontrol emosinya jika menghadapinya seorang diri.
Tepat pukul 10 pagi Rangga telah tiba di kantor milik Zack. Varell sudah membuat janji temu dengan Zack. Ia tidak mengatakan bahwa Rangga yang ingin.bertemu dengannya.
Rangga tak langsung masuk, ia menunggu Varell. Tak lama terlihat mobil Varell yang juga baru tiba di depan lobby.
"Hai Rell, loh elo juga ikut Don?" Ternyata Varell juga mengajak Doni. Ya karena jika terjadi adu jotos antara Rangga dan Zack maka, tentu saja Varell akan kualahan.
"Kalau soal kalian, gue wajib hadir bro. kalian berdua sekarang kan dah seperti Tom and Jerry, kalo dah gelut susah untuk di lerai."
"Iya iya, sorry selalu bikin kalian repot terus?'
"Ngak pa pa Ngga, itulah gunanya seorang teman. santai saja oke!" Varell menepuk pundak Rangga, dan melangkah memasuki gedung kantor.
Ketiga pria tampan itu melangkah beriringan menuju ke dalam lift. beberapa pasang mata menatap rakjub akan pesona mereka.
"Maaf nona, apa tuan Zack ada? kami sudah membuat janji dengan beliau?"
Sekretaris Zack yang sudah di beritahu oleh sang boss, labgsung mempersilahkan Varell untuk masuk keruangan Zack.
tok tok
"Permisi pak, tuan Varell sudah datang."
"Oke, persilahkan masuk!" Zack masih fokus dengan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
"Hallo tuan presedir, sibuk banget ya?sorry kita ganggu nih?" Seperti biasa, Doni yang akan berceloteh lebih dulu.
"No problem, santai aja guys...?" Zack berhenti berucap karena melihat sosok yang saat ini.begitu di bencinya
"Ngapain si penghianat itu ikut? elo yang ngajak dia Rell?" Zack menatap sinis Rangga, lalu beralih pada Varell.
"Wow, santai bro! kali ini kita bicarakan secara baik-baik? tanpa saling menyulut emosi, oke!' Varell mencoba menengahi
"Bisa kan Zack?loe juga Ngga!'
"Duduk di sini Ngga! dan elo Zack duduk disebelah Doni sana!" Varell mengatur posisi duduk mereka.
"Baiklah, gue di sini sebagai penyambung komunikasi diantara kalian. semoga pertemuan kali ini akan menyelesaikan segala kesalahpahaman diantara kalian"
"Oke, sekarang gue sudah boleh mulai bicara kan Rell?"
"Tentu saja Ngga, silahkan! apa yang ingin loe sampaikan pada Zack, tentunya?"
__ADS_1
Rangga memejamkan matanya sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Sebelumnya, gue mau minta maaf sama loe Zack. Gue akuin semua yang telah terjadi adalah kesalahan dan kekhilafan gue.Sungguh, gue bener-bener ngak ada maksud buat ngerebut Maima dari elo Zack." Dan gue jg...."
"Ck, ngak ada maksud tapi, niat banget buat ngebuntingin cewek orang?" Zack menyela Rangga yang belum selesai berbicara.
"Zack, gue tadi bilang apa sama loe? kita bicarakan ini semua secara baik-baik, tanpa rasa emosi!" Varell bak seperti juri dan hakim di dalam pertemuan tersebut.
"Oke oke, sorry!"
Dan pembicaraanpun berlanjut dengan ketenangan tanpa mengedepankan emosi.
Kita tinggalkan dulu para pria tampan itu. berlanjut degan keadaan berbeda yang tengah di rasakan oleh seorang istri yang belakangan ini hatinya selalu gundah gulana.
Maima sedang melamun di sebuah gazebo yang letaknya di taman belakang berdekatan dengan taman bunga yang selalu dirawat dengan telaten oleh wanita hamil tersebut.
"Maima, ada yang mencarimu nak?" Namun sepertinya ia tak mendengar panggilan sang ibu mertua.
"Maima....hei, nak! apa yang sedang kamu pikirkan?" Bahkan ketika bu Herlina sudah berada tepat di dekatnya ia pun belum menyadarinya. Hingga sampai pundaknya di tepuk, Maima baru tersadar dari lamunannya.
"Eh, mama. iya ma, ada apa ya? maaf, Maima tidak dengar!" tersenyum kikuk.
"Iya ma, maaf kan Maima ya. aku hanya memikirkan mas Rangga, takut sesuatu hal yang buruk terjadi lagi padanya?" Bahkan saat ini Maima sudah menampakkan wajah sedihnya.
"Ya, sudah. Rangga tidak akan kenapa-napa! tenangkan pikiranmu nak! oh ya, itu di depan ada Rani sama baby Rava loh!"
Mendengar bahwa sahabatnya datang dan apalagi dengan membawa baby Rava yang begitu menggemaskan, seketika membuat mood wanita hamil itu jadi berubah bahagia.
"Rani dan baby Rava ya ma? wah, aku kangen banget sama mereka." Maima dan bu Herlina beranjak dari sana menuju ke dalam rumah.
"Raniiiii.....!" Maima langsung berhambur memeluk sang sahabat melepas rasa rindunya.
"Maima, apa kabar? dan juga debay sedang apa di dalam?" Rani mengusap perut Maima dan menyapa debay nya.
"Aku baik-baik saja tante!" Maima merubah suaranya seperti anak kecil menjawab sapaan Rani.
"Ayo kita ke ruang tengah, biar santai!" merekapun berjalan beriringan sambil sesekali bercanda ria.
"Sini Ran, boleh kan aku memangku baby Rava?" Maima meminta baby Rava dari gendongan Rani.
"Iya ini! Sama tante Maima dulu ya sayang!" Rani menyerahkan baby Rava dan meletakkannya di pangkuan Maima.
"Kalau hanya memangku saja tidak apa Mai, asalkan jangan di gendong. bahaya, kamu sedang hamil. soalnya lihatlah baby Rava, embul sekali sekarang." Rani menoel pipi gembil putranya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mama, Rava senang kok di gendong sama tante Maima yang cantik." Maima berpura-pura menjadi baby Rava. mereka pun kembali tertawa riang.
Bu Herlina merasa bahagia melihat menantunya telah kembali ceria. sebab, sebelum kedatangan Rani wanita hamil itu selalu melamun dan bersedih.
"Mbok....mbok Sarmi, tolong buatkan minuman dan bawakan camilannya sekalian ya!"
"Nggeh bu!" Mbok Sarmi pun menyahuti panggilan bu Herlina.
Mbok Sarmi meletakkan minuman dan beberapa camilan di atas meja. setelah itu wanita tua itu undur diri untuk kembali ke belakang.
"Mari non, bu. silahkan!"
"Iya mbok, terima kasih ya!" Rani tersenyum menjawab perkataan mbok Sarmi.
"Terima kasih ya mbok!"
"Nggeh bu, saya permisi ke belakang lagi bu!" bu Herlina mengangguk mengiyakan perkataan asisten rumah tangganya yang sangat baik itu.
Mereka berbincang ringan dan di selingi dengan canda tawa.Bu Herlina jadi merasa lega karena sang menantu teralihkan tak lagi berpikiran yang aneh-aneh.
----‐-------------
"Bagaimana Zack, Ngga. apa kalian sudah bisa saling memaafkan akan semua yang terjadi diantara kalian? terutama elo Zack, loe harus bisa menerima kenyataan yang ada. bahwa saat ini Maima sudah menjadi istri Rangga dan juga mereka akan segera memiliki seorang bayi."
Varell menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian. melihat apakah keduanya sudah dapat saling memaafkan atau kah masih ada rasa pernusuhan di mata mereka. terutama Zack, yang selalu tak bisa mengontrol emosinya.
"Ya, habis mau bagaimana lagi Rell. nasi sudah menjadi bubur? sekeras apapun gue ingin mencoba merebutnya kembali. akan tetapi hati nya sekarang telah di miliki oleh laki-laki lain." Zack menatap Rangga dengan penuh arti
"Nah gitu dong bro, di luar sana masih banyak wanita baik hati yang akan menerima loe dengan lapang dada Zack, percayalah jodoh ada di tangan tuhan!" Kali ini Doni yang ikut memberikan wejangannya,bak seperti orang tua saja.
"Tapi, gue ada satu permintaan terkahir dan gue harap elo mau mengabulkannya Ngga?!"
Rangga mengernyit, bertanya-tanya apa lagi kini yang di inginkan Zack. semoga ia tidak meminta hal yang aneh.
"Sekali saja dan untuk yang terakhir kali. gue ingin bertemu dan berbicara langsung sama Maima."
Deg
Rangga tersentak kaget mendengan penuturan dari sahabatnya itu. Ia menatap intens wajah Zack, mencari kejujuran dan kesungguhan di sana.
"Bagaimana Ngga? boleh tidak?"
" emm...."
Tbc
__ADS_1