
Pagi hari nan cerah. Kesibukkan mulai terlihat di kediaman keluarga Darmanto. Bi Munah memasak untuk sarapan pagi di bantu oleh anik. sedangkan Ayu sudah mulai mengurus baby Rava di kamar khusus sang jagoan kecil Varell dan Rani. Yang semakin menggemaskan dan bertambah kepintarannya.
Bagaimana dengan Rani? mama muda itu te tu saja sedang mengurus bayi besarnya, alias papa Varell yang semakin hari juga bertambah manja pada istri cantiknya. Semenjak kedatangan Ayu, Rani cukup terbantu. Dan sang bayi besar juga ikut bahagia, karena merasa lebih di perhatikan oleh sang istri.
"Sip! sudah rapi." Rani baru saja selesai memakaikan dasi Varell.
Grepp
"Eh, mau apa mas?" Varell malah menarik pinggang Rani dan merengkuh ke dalam dekapannya.
"Sebentar saja sayang? mas cuma mau minta kiss buat penyemangat kerja?" Memajukkan wajahnya dan siap untuk menyosor bibir cherry Rani.
cup
"Sudah kan? yuk, kita kebawah untuk sarapan. baby Rava pasti juga sudah menunggu kita kan mas?" Rani mencoba mengalihkan perhatian Varell agar tidak terbuai oleh kegiatan yang akan semakin panjang urusannya.
"Ngak apa-apa Ran, sebentar lagi ya! mas masih ingin di sayang seperti ini?"
"mphmmm..."
Varell malah menarik dan memiringkan kepala Rani lalu kembali m****** bibir cherry itu semakin dalam.
"muachh, sudah. Terima kasih ya sayang!" Setelah cukup puas, Varell pun melepaskan panggutannya. Rani masih mengatur nafasnya.
"Ayo kita turun dan sarapan!" Kali ini Varell dengan semangatnya menggandrng tangan Rani keluar dari kamar pribadi mereka.
"Selamat pagi, pa,ma!" Varell menyapa kedua orang tuanya.
"Selamat pagi sayang. Ayo, kita mulai sarapannya!" Mama Sandra tersenyum lembut pada putra dan menantunya. Apa lagi melihat wajah sumringah Varell.
"Papa kerja dulu ya ganteng, mas berangkat ya sayang...,muach!" Varell mencubit dan mencium pipi gemil baby Rava lalu mengecup kening istrinya.
"Da—da papa, kerja yang semangat ya!"
"Selamat pagi boss." seperti biasa, Doni selalu selonong boy tanpa mengetuk pintu.
"Hei, kebiasaan sekalii sih loe Don? loe tahu pintu kan? kalau masuk ke ruangan orang tuh yang sopan diikit kenapa?" Varell sudah terbiasa dengan kelakuan sahabat sekaligus asistennya itu. Namun, hal itu selalu membuatnya kaget secara tiba-tiba.
"Sorry boss, mau kasih tahu jadwal hari ini." Doni mengaktifkan tabletnya, lalu mulai membacakannya.
"Oke!Jadi, pagi ini kita langsung ke Hotel Mulia?"
__ADS_1
"Yup, betul boss! Kita berangkat sekarang?" Mereka pun melangkah keluar ruangan dan bergegas menuju ke tempat meeting yang akan diadakan di Hotel.
Jarak tempuh dari kantor menuju Hotel Mulia hanya memakan waktu kurang lebih 20 menit-an saja. Kini mereka sudah tiba di tempat tujuan. Varell di dampingi Doni memasuki ruang pertemuan.
Setelah hampir 2 jam-an, akhirnya selesai juga. Varell dan Doni pun beranjak keluar dari Hotel. Namun, langkah mereka terhenti oleh suara sapaan seseorang yang begitu mereka kenal.
"Varell, Doni...tunggu!"
"Rangga? loe ada di sini juga?" Varell tak menyangka akan bertemu dengan Rangga.
"Iya Rell, gue ada meeting sama klien papa di sini. Papa ngak bisa datang jadi, gue deh yang mewakilkan."
"By the way, habis ini kalian mau kemana? sibuk ngak?"
"Kalau sekarang sih enggak. Tapi, nanti siang jam 2-an kita ada kerjaan lagi." Doni menjawab pertanyaan Rangga. Karena memang Doni yang mengetahui semua jadwal kerja Varrel.
"Kalau begitu, ada yang pingin gue omongin sama kalian?Kita ngobrol di resto Hotel ini saja,gimana?"
"Emm...boleh, ayo!" Varell pun mengiyakan ajakan Rangga. Dan mereka menuju ke resto yang masih berada di kawasan Hotel tersebut.
"Oke, apa yang ingin loe omongin Ngga? bukan masalah Zack lagi kan?" Asal tebak Doni.
Rangga terkekeh, karena sepertinya kedua sahabatnya itu telah terbiasa oleh konflik antara dirinya dan Zack.
"Malah cengengesan loe Ngga? di tanya benar-benar juga?" Varell kesal karena Rangga tidak serius sama sekali.
"Terua apa dong? buruan ah, jangan bikin penasaran kita!" Kali ini Doni yang sudah tak sabar ingin mendengar apa yang ingin di katakan oleh Rangga.
"Ehem, begini guys? gue sama Rani mau mengajak kalian liburan di Villa papa yang ada di daerah Puncak, gimana? Kalian mau kan?"
Wajah Doni langsung sumringah secerah mentari pagi yang bersinar terang. Sedangkan Varell mengerutkan dahinya. Ia masih menimbang-nimbang apakan akan ikut atau tidak? Karena yang akan memberi keputusan adalah sang istri.
"Mau banget Ngga, gue pasti ikut!" Tanpa berpikir, Doni langsung menerima tawaran yang sungguh menggiurkan itu. Liburan? kapan lagi? itulah yang ada di pikiran si pecicilan Doni.
"Kalau elo gimana Rell? mau kan memenuhi undangan kami?"
"Gue ngak bisa memutuskan sekarang Ngga? mesti tanya Rani dulu, soalnya kan pasti kita bakal membawa baby Rava juga? memangnya kapan rencananya mau ke sana?"
"Jum'at sore kita berangkat!Kita menginap dua malam saja, minggu kita balik ke Jakarta lagi."
"Kalau soal Rani sih,elo ngak usah khawatir Rell! nanti biar Maima yang ngomong langsung ke Rani. beres kan? di jamin Rani ngak bakal bisa menolak ajakan Maima."
"Oke, deal ya?" Mereka pun ber-tos ria. setelah itu mereka kembali ke kantor masing-masing.
__ADS_1
Kriettt
"Maima sayang, kamu di mana?"
Rangga memasuki kamarnya. Terlihat sepi, terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Rangga tersenyum lega.
"Sayang, kamu sedang apa?" Rangga mengetuk pintu kamar mandi dan bertanya apa yang sedang di lakukan istrinya.
"Mas Rangga? Maima sedang mandi mas! sebentar ya!" Maima menyahuti panggilan sang suami dari dalam kamar mandi.
"Mandi? wah, asik nih?" Rangga tersenyum menyeringai ada sesuatu di dalam otaknya? apa lagi kalau bukan ingin menjahili sang istri.
"Sayang, tolong buka dong pintunya! mas dah kebelet nih?"
"Aduh mas, lagi nanggung nih? mas ke kamar mandi kamar sebelah saja deh!"
"Enggak bisa sayang, dah ngak tahan nih? udah di ujung? ayo, cepat buka!"
ceklekk
Kriett
Srett
Brakk
"Eh, mas kenapa di kunci pintunya? aku sudah selesai, mau keluar." Maima memang sudah selesai mandi dan ia sudah mengenakan bathrobe nya.
"Mas yang belum selesai sayang? bahkan belum apa-apa?"
Maima memicingkan matanya curiga dengan gelagat Rangga yang sudah dapat di bacanya.
"Apa-apa? maksudnya?" Maima melingkarkan tangannya di depan dada.
"Mandiin mas ya—ya, sayangku!" Rangga mulai melucuti pakaiannya dan mendekat pada sang istri yang melangkah mundur.
"Mandi sendiri bisa kan mas? Maima sudah kedinginan ini?" berpura-pura menggigil seperti sedang kedinginan.
Mendengar apa yang di ucapkan Maima, Rangga malah semakin ingin menggoda sang istri.
"Kalau kamu kedinginan, nanti mas yang akan menghangatkanmu sayang!?" Semakin mendekat dan kini tak ada jarak lagi diantara mereka. Tanpa di sadari oleh Maima, Rangga telah menarik tali bathrobe yang di kenakan Maima.
__ADS_1
"Akh, Mas...apa-apaan sih? jangan macam-macam ya! aku ngak mau mandi lagi ah."
Tbc