Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
39. Mengakhirinya


__ADS_3

"Apa yang terjadi pada dirimu Maima?"


DEG


Seperti ada yang menghantam keras dadanya. Melihat kehadiran sosok laki-laki yang belakangan ini selalu mengisi hari-harinya.


Tatapan laki-laki itu penuh merindu. Maima bangkit dan berdiri dan kini mereka telah saling berhadapan dan manik mata mereka pun saling bertemu pandang.


Tiba-tiba lengan kekar itu langsung meraih tubuh mungil sabg kekasih, membawanya kedalam pelukan hangat dan lembut penuh kenyamanan.


Maima hanya diam terpaku, ia tak membalas pelukannya hanya meremas kemeja pada pinggang laki-laki itu sambil terisak.


"Kenapa kamu menangis?hei....manis, lihat sini!" Laki-laki itu menangkup wajah gadis yang masih sesegukkan, menatap mata sembab itu dengan penuh kasih sayang.


"Kak Zack.... aku.....?" Menoleh kearah lain tak kuat menatap manik mata laki-laki yang selalu mencurahkan kasih sayang untuknya, ia tak sanggup untuk mengatakan hal yang sebenarnya telah terjadi pada sang kekasih.


"Kamu kenapa Mai? katakanlah manis, hmm...!" Menangkup wajah ayu sang kekasih kembali agar bisa menatap manik mata yang telah berkaca-kaca bahkan telah mengeluarkan tetesan air mata.


"Kak, apakah jika aku mengatakan apapun kakak akan menerimanya? apapun yang kuinginkan, kak Zack berjanji akan mengabulkan segala permintaanku kan kak?"


Maima menatap lekat wajah tampan itu dengan rasa yang tak bisa tergambarkan.


"Iya Mai, kakak janji akan menerima apapun yang kamu ucapkan. Sekarang katakan apa yang kamu inginkan!"


"Maaf Kak, sebaiknya kita akhiri saja sampai disini. aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang sia-sia ini. Maaf...."


Setelah mengatakannya, Maima langsung tertunduk tak berani manatap Zack.


JDERRR


Bagai suara petir disiang bolong, hatinya sakit seakan tertusuk belati yang sangat tajam.


Jantungnya berdegup semakin tak terkendali sampai terasa sesak. Zack menatap netra mata Maima dengan penuh tanda tanya dan juga mencari kejujuran disana.


Tiba-tiba saja air matanya pun tak bisa diajak kompromi meluncur dengan sendirinya.


"Katakan kalau kamu tidak serius, ini hanya bercanda kan Mai? kamu tidak boleh berbuat seperti ini padaku Mai, tidak....aku tidak mau putus denganmu! kau sudah bilang akan mencobanya dan kita baru saja akan memulainya Mai, kenapa? katakanlah yang sebenarnya!"


Kedua tangannya mengepal karena emosi yang tertahan. Zack tak menyangka kalau hubungan mereka yang baru saja seumur jagung harus berakhir seperti ini.


"Sekali lagi aku mohon maaf kak, aku punya alasan tersendiri dan itu telah merubah segalanya, aku sungguh tak bisa lagi menjalaninya kak."

__ADS_1


"Kalau begitu katakan apa alasannya agar aku bisa menerima semua keputusanmu itu! Tapi, aku sungguh tidak siap Mai jika harus berpisah denganmu. aku sayang padamu Mai." Zack mengguncang bahu Maima


"Aku tidak pantas lagi untukmu kak, kita tidak akan pernah cocok bagaikan langit dan bumi. aku hanyalah gadis miskin yatim piatu dan tak memiliki apapun. Derajat kita sangat jauh berbeda dan aku yakin orang tua kakak pasti tidak akan bisa menerima kehadiranku dihidup kak Zack. Sudah ya kak, aku mau pulang....aku lelah kak. Maaf!"


Maima melangkah pergi menghampiri angkot yang telah berhenti lalu segera menaikinya. Sedangkan Zack masih berdiri terpaku tak menyadari kepergian Maima.


"Mai....Maimaaa....Maimaaa.....aku tidak akan pernah menerimanya Mai, aku tidak ingin kita putus sampai. aku tidak ingin kita berakhir hanya sampai saat ini saja Mai.aku akan tetap mengejarmu Maimaaa!!"


Tersadar bahwa Maima telah pergi dengan menaiki angkot, Zack langsung berlari mengejarnya sambil berteriak kencang sampai menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.


 


Sore itu Rani tengah mengajak baby Rava bermain diteras depan. Mobil yang dikendarai oleh Varell telah masuk dari pintu gerbang.


Rani dapat melihatnya dan langsung meraih baby Rava dari dalam stroller. menggendongnya untuk menyambut kepulangan sang suami tercinta. Varell melangkah cepat ketika sudah turun dari mobil nya langsung menghampiri istri dan putranya.


"Halllo jagoannya ayah, sini....sini ayah kangen banget, gendong ya nak!" Varell meraih baby Rava dari gendongan Rani lalu menciumi pipi gembilnya dengan gemas. Berjalan masuk kedalam rumah, namun celotehan sang istri menghentikan langkahnya.


"O....jadi begitu ya, sekarang yang dikangenin cuma anaknya saja. istrinya sudah ngak penting lagi gitu?" memandang suaminya dengan wajah cemberut dan bibir yang mengerucut. Varell pun sadar akan kekhilafannya. ia langsung berbalik dan kembali menghampiri Rani yang masih diam terpaku karena merajuk.


"Aduh....aduh cintanya mas, sayangku jangan ngambek gitu dong ah! Iya iya, maafkan suamimu yang tampan ini ya sayang!"


"Ayo sayang kita masuk!" kalau kamu ngambek nanti bisa ambyar dunia malamku, nganggur nganggur deh nanti." Varell berhalu dalam hati.


Kini Varell beserta istri dan baby boy nya sekarang memang tinggal di rumah orang tua mereka. hal itu juga atas pemintaan dari mama Sandra dan papa Tyo yang tak ingin tinggal berjauhan dari sang cucu. Mereka beralasan bahwa kurang baik tinggal di Apartemen apalagi tengah memiliki bayi. suasananya kurang nyaman dan bebas bagi pertumbuhan si kecil nanti.


"Kok sepi sayang, yang lainnya pada kemana?"


Setelah mandi dan berganti pakaian. kini mereka tengah duduk bersantai di ruang leluarga sambil menonton drakor kegemaran Rani yang akhir-akhir ini tak pernah dilewatkannya.


Baby Rava diletakkan diatas karpet beralaskan kasur bayi. sedangkan sang bunda fokus dengan tontonannya di layar televisi. Sambil mengelap air matanya karena baper dengan adegan didrama itu. Varell duduk dikarpet dekat dengan baby Rava dan mengajaknya bermain.


"Mama sama papa sedang menghadiri acara nikahan anak kolega papa mas, terus kalau Angela kayaknya sih belum pulang, tadi dia telpon katanya sih baru belajar kelompok dirumah salah satu temannya."


Masih tetap fokus pada layar tv, Varell pun hanya menggelengkan kepalanya melihat kegandrungan sang istri pada drakor idaman para ibu-ibu diseluruh alam semesta.


"Tuan Varell, non Rani. Makan malam sudah siap." bi Munah menghampiri mereka untuk memberitahu bahwa hidangan makan malam sudah disiap disantap.


"O, iya bi. terima kasih. Bi....tolong titip baby Rava sebentar ya!" Pasangan orang tua muda itupun beranjak menuju ke ruang makan. sedangkan bi Munah menjaga baby Rava.


Baby Rava terlihat sudah mengantuk, bibirnya sudah berdecak-decak mencari sumber makanannya.

__ADS_1


Rani membawanya kekamar untuk disusui dan seperti biasa Varell tak akan melewatkan moment indan tersebut. Baby Rava menghisap dengan kuat dari pusat makanannya. seperinya bayi itu memang sangat kelaparan dan kehausan.


Varell mendekat dan mengamati dengan seksama apa yang sedang dilakukan oleh baby Rava. Melihat itu pikiran Varell malah ber travelling kemana-mana. ia pun sampai menelan salivanya seperti iri dengan baby boy nya.


"Aduh boy, kamu menang banyak ini. jangan dihabiskan ya nak, sisakan buat Ayah juga?" Jemarinya sambil iseng menarik pa****ra Rani hingga terlepas dari bibir mungilnya. Alhasil bayi itupun menangis karena terganggu oleh ulah ayahnya.


Plakk


"Ish, mas apa-apaan sih? jangan godain anaknya terus dong ah, kasihan kan sudah ngentuk banget dia mas." memukul tangan suaminya yang nakal itu. Varell malah terkekeh karena berhasil menggoda baby boynya.


kring kring kring


"Sebentar ya sayang, om Zack telpon nih!"


"Ya hallo, ada apa Zack?" Varell mengernyitkan dahinya mendengar suara Zack yang terdengar aneh.


"Maaf Pak, apa bapak temannya dari saudara Zack?" ternyata yang menelpon bukanlah Zack tapi orang itu menggunakan ponsel sahabatnya itu.


"Iya betul, saya temannya. ada apa, apa telah terjadi sesuatu padanya? "


" O tidak pak, ini saudara Zack sudah sangat mabuk. beliau tidak ingin berhenti minum.Bapak bisa tolong kesini sekarang ke club xxx!"


"Oke, baiklah. tolong teman saya ditahan dulu ya! terima kasih."


"Sayang, aku menemui Zack dulu ya. sepertinya ia sedang dalam masalah. ngak apa-apa kan aku tinggal sebentar?"


"Iya, pergilah mas. kasihan kak Zack!" Varell pun langsung mengambil jaketnya dan meraih kunci mobil lalu bergegas menuju ke tempat Zack berada.


---‐----------


Sebelum berangkat menuju ke club, Varell menghubungi Doni dan juga Rangga untuk menemui Zack yang sudah mabuk berat.


Akhirnya mereka bertiga telah sampai dan terkejut melihat keadaan sahabat mereka yang berantakan. Bibirnya selalu mengucapkan nama aeorang gadis yang sangat dicintainya dan kini telah mencampakkannya begitu saja tanpa alasan yang tak jelas.


"Maima.... kenapa kamu tega meninggalkanku? aku gak terima kamu putusin kayak gini Mai. Apa alasanmu sampai setega ini sama aku Mai? Maimaaa....!" Zack terus saja mengoceh memanggil-manggil Maima.


"Apa? Jadi mereka sudah putus? ada apa ini sebenarnya, kenapa tiba-tiba sekali?" Doni menatap nanar Zack yang terlihat hancur. Sedangkan Rangga melihat sahabatnya itu dengan rasa bersalah yang begitu dalam.


"Maafin gue Zack, gue lah sumber dari malapetaka ini." Batin Rangga


Tbc

__ADS_1


__ADS_2