
Iring-iringan mobil memasuki pintu gerbang sebuah Villa mewah. Satu persatu pengemudi dan para penumpang turun dari kendaraan mereka masing-masing.
Ternyata, kedatangan mereka sudah di sambut oleh para penunggu Villa yang telah di tugaskan oleh papa tyo untuk merawat Villa tersebut.
"Selamat datang Tuan-tuan dan Nona-nona! mari silahkan, semua sudah kami persiapkan!" Seorang pria paruh baya menyapa dan membimbing para tamu untuk masuk ke dalam Villa.
"Terima kasih ya Mang!" Rangga menepuk pundak laki-laki yang bernama Mang Ujang itu.
Saatnya pembagian kamar, Rangga dan Maima tentunya berada dalam satu kamar. Begitupun Varell dan Rani. Sesangkan sang baby sitter yang bernama Ayu satu kamar dengan baby Rava. Ya, itu adalah permintaan Varell sendiri. Ia ingin menikmati waktu berdua yang romantis dengan istrinya.
Doni dan Zack meminta kamar terpisah. untung saja Villa itu memiliki 7 kamar, sehingga tidak jadi masalah. Terakhir Angela yang juga menempati kamarnya sendirian.
"Oke, kita semua bersih-bersih dulu. nanti kalau sudah waktunya makan malam kita kumpul lagi di ruang makan ya!"
Mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Ayu terlihat kesulitan membawa tas nya sambil menggendong baby Rava. Hal itu tak luput dari penglihatan si Zack yang memang berjalan paling akhir diantara yang lain.
"Maaf, mari aku bantu! mbak nya pasti repot kan?" Zack mengangkat tas milik Ayu.
Gadis itu terperangah melihat seorang pria yang sangat tampan yang begitu ramah dan baik hati mau membantu kesulitannya.
"wow, gantengnya? teman-teman tuan Varell sungguh menyilaukan penglihatan semua! ah, andaikan salah satu di antara mereka adalah kekasihku? betapa bahagianya? oh tuhan, mengapa engkau berikan godaan yang begitu menggiurkan ini?" Ayu bermonolog sendiri dalam hati.
"Te–terima kasih Tuan." Ayu menganggik dan tersenyum manis.
"Zack! namaku Zack!"
"Manis..."
"Iya, terima kasih Tuan Zack!"
Zack mengantar Ayu sampai ke dalam kamar dan meletakkan tas tersebut di atas tempat tidur.
Rani baru saja selesai mandi. Ia melihat sang suami sedang duduk bersender di atas tempat tidur dan tengah asik berkutat dengan ponselnya.
"Cepatlah mandi mas! sebentar lagi waktunya makan malam kan?" Rani duduk di depan meja rias sedang menyisir rambut panjangnya.
"Mas...!" Memanggilnya lagi, karena tidak di respon oleh sang suami.
"Eumm...ah, iya sayang!maaf mas tidak dengar.Tadi kamu bilang apa?" Varell meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Mandi mas!sebentar lagi kita akan makan malam bersama dengan yang lainnya! lagian maa sibuk apa sih? sampai ngak dengar istrinya ngomong? awas aja kalau sampai mas berbuat macam-macam? Rani sunatin nanti ya!" Rani sudah memasang wajah juteknya.
Varell malah tersenyum menyeringai? ada rasa bahagia karena ternyata istri cantiknya yang pembawaannya selalu kalem itu, bisa berubah garang juga?
__ADS_1
"Iya sayang, mas mandi sekarang!" Beranjak menuju ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Varell telah selesai mandi. Ia melihat satu stel pakaian diatas tempat tidur yang sudah di siapkan oleh istrinya. Varell pun lekas mengenakannya.
Kriett
"Papa...! itu papa sayang sudah mandi, ndak bau asem lagi? Rani terkekeh melihat wajah cemberut suaminya.
"Hey, jagoan papa! sini-sini sama papa ya sayang!" Mengambil alih baby Rava dari gendongan sang mama.
"Mas, nanti baby Rava bobo sama kita ya?"
Mendengar perkataan Rani, Varell sontak terdiam. Ia menatap istrinya penuh tanya?
"Loh sayang, bukankan sudah ada Ayu? sudah menjadi perjanjian waktu itu bukan? kalau Ayu yang akan menemani Rava tidur lalu, aku bagaimana dong mas?"
Varell tersenyum smirk? mendekat pada sang istri dan membisikkan sesuatu? "Ya, ngak bagaimana-bagaimana? tentu saja kita akan menikmati waktu berduaan sayang! seperti melakukan kegiatan yang berkeringat, misalnya?"
Rani sudah bisa menebak apa yang di maksud oleh Varell.
"Kita turun yuk mas! tidak enak, yang lain sudah menunggu di ruangn makan." Rani mengalihkan pembicaraan agar tidak semakin melantur.
Dan Akhirnya Varell pun menurut pada sang istri dan mereka turun ke lantai bawah menuju le ruang makan dengan baby Rava yang masih dalam gendongan papa nya.
"Nah ini dia yang di tunggu-tunggu?lama sekali sih, cacing-cacing di perut sudah mulai berdemo nih?"
"Tuan, baby Rava biar saya yang gendong!" Ayu meminta baby Rava dari gendongan papa nya.
"Loh, Zack mana?" Varell melihat sekelilingnya dan ternyata ada yang kurang? ya, Zack tidak ada diantara mereka.
"Dia izin keluar sebentar, katanya ada urusan penting." Rangga memberitahu Varell yang memang belum mengetahui tentang keberadaan Zack.
"O,ya sudah kalau begitu! kita makan duluan saja!"
Mereka pun memulai acara makan malam dan menikmati hidangan dengan tenang.
Para pria tengah mengobrol di sebuah gazebo yang terletak di belakang Villa. Sedangkan para wanita berkumpul di ruang tengah sedang menonton televisi sambil berbincang ringan atau yang biasa di sebut kaum hawa yaitu ngerumpi.
"Ayu, kamu makan dulu sana! sini, Rava nya!"
"Tidak apa-apa non, saya makannya nanti saja kalau baby Rava sudah tidur."
"Sudah sana Ayu, makan! ini sudah malam nanti kamu sakit, trus baby Rava bagaimana? ke sinikan Rava nya!" Mendengar apa yang di katakan oleh majikannya, Ayu pun jadi tak enak hati dan akhirnya ia menurut.
__ADS_1
"Ayu, baby Rava malam ini akan tidur di kamar kami. kamu nanti langsung istirahat saja ya!.
"Baik nona Rani." Setelah Rani membawa baby Rava ke kamarnya, di susul pula oleh Maima dan Angela. Mereka semua sepertinya sudah pada mengantuk. Ayu lalu menuju ke ruang makan.
Ayu segera menyendok nasi dan lauk pauk secukupnya lalu mulai menyantapnya. Ia makan begitu lahap sepertinya sangat kelapara n. Hingga terdengar suara yang menginterupsi kegiatannya.
"Ehemm...!"
Sontak Ayu pun langsung menghentikan makannya lalu, menoleh ke arah suara orang tersebut.
"Tu–uan, maaf saya...?"
"Maaf kenapa? silahkan lanjutkan makanmu! aku juga mau makan, perutku sudah sangat keroncongan sejak tadi. Boleh kan aku ikut makan bersama?"
Zack terus menatap wajah Ayu dan itu membuat gadis itu jadi merasa canggung. apalagi Zack ingin makan juga. Ayu tertunduk malu dan merasa tak pantas makan dalam satu meja dengan pria tampan dan kaya seperti Zack.
"Boleh Tuan, silahkan! kalau begitu saya akan pindah ke dapur saja. selamat menikmati makan malamnya Tuan!"
Ayu mengangkat piringnya, ia ingin pindah saja ke dapur untuk melanjutkan makannya.Entahlah, berada di tengah orang-orang kaya yang tampan dan cantik membuat dirinya merasa rendah diri dan insecure.
Srettt
"Mau kemana kamu? kamu tidak mau makan satu meja denganku?" Zack menarik pergelangan tangan Ayu dan menghentikan langkah gadis itu.
"Bukan begitu Tuan, saya hanya tidak ingin anda menjadi kurang nyaman jika makan bersama saya yang hanya seorang pengasuh ini."
"Duduklah dan lanjutkan makanmu!" Zack menarik dan mendudukkan Ayu dengan paksa tepat di sampingnya.
"Saya duduk di sana saja Tuan!" Ingin beranjak pindah ke seberang meja. Namun, langsung di hentikan lagi oleh Zack.
"Duduk dan makanlah! jika tidak? aku akan menyuapimu sekarang juga!? terserah kamu mau pilih yang mana?"
"I–iya Tuan, saya akan makan sendiri saja!"
Dan Mereka pun makan bersama dengan suasana hening. Sesekali Zack melirik gadis di sebelahnya yang makan dengan lahapnya.
"Sepertinya dia memang sangat kelaparan? lihatlah cara makannya? lucu sekali, sampai belepotan begitu? kalau di lihat sedekat ini, dia cantik juga...ah tepatnya sangat manis!"
Zack sepertinya telah jatuh hati pada gadis itu.
Tanpa sadar tangan Zack terulur dan menyentuh sudut bibir Ayu, terlihat ada sebutir nasi yang menempel di sana. Ia pun mengusap dengan jempol tangannya. Gadis itu tentu saja tersentak kaget dan memegang tangan Zack. Sepersekian detik mereka saling beradu pandang, hingga...
"Suit suit...mesranya!?
__ADS_1
Tbc